Etnobotani Tumbuhan Obat oleh Suku Osing di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi
Abstract
Suku Osing atau “wong blambangan” merupakan Masyarakat asli Banyuwangi yang secara konsisten melaksanakan budaya dan Bahasa Jawi Kuno sejak berdirinya Kerajaan Blambangan. Masyarakat Osing di Desa Kemiren memiliki kepercayaan dalam menganut keseimbangan alam, dimana manusia harus bisa hidup berdampingan dengan lingkungan atau alam. Pemanfaatan tumbuhan obat oleh Suku Osing di Desa Kemiren tidak hanya memberikan manfaat Kesehatan, tetapi juga memberikan manfaat ekonomi bagi sebagian Masyarakat. Hal tersebut merupupakan kekayaan alam yang perlu diwariskan secara turun-temurun dari generasi ke generasi. Namun, selama ini pengetahuan tersebut hanya diturunkan secara lisan dan tidak terdokumentasi dengan baik, sehingga rentan terkikis seiring perkembangan zaman yang semakin maju. Kurangnya minat generasi muda terhadap obat tradisional dan kurangnya kesadaran masyarakat untuk mewariskan pengetahuan ini dapat mengancam keberlanjutan tradisi pengobatan Suku Osing. Selain itu, minimnya pengetahuan tentang identifikasi tumbuhan obat di kalangan masyarakat juga menjadi perhatian serius. Hal ini menghambat upaya pelestarian dan pemanfaatan berkelanjutan dari sumber daya alam yang berharga ini. Oleh karena itu, penelitian mendalam mengenai etnobotani tumbuhan obat oleh Suku Osing di Desa Kemiren menjadi sangat penting. Metode pengambilan sampel pada penelitian ini dilakukan secara purposive sampling. Metode pengumpulan data dilakukan dengan cara wawancara, observasi, dokumentasi yang meliputi data primer dan studi pustaka yang merupakan data sekunder. Metode penelitian yang digunakan ialah deskriptif dan analitik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) terdapat 63 jenis tumbuhan obat yang diketahui Masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren untuk mengobati 47 jenis penyakit. Bagian yang dimanfaatkan adalah getah, daun, rimpang, buah, bunga, batang, kulit, dan biji. Pengolahan tumbuhan dilakukan dengan cara direbus, langsung dikonsumsi, diseduh, dioleskan, diteteskan, diparut, dikukus, dibasuhkan, dan ditumbuk yang diperoleh dari budidaya, membeli di pasar, dan mencari di alam. (2) rerata nilai fidelity level tertinggi dari berbagai jenis tumbuhan etnobotani adalah kencur dengan nilai (100%) dan temulawak (100%). Selanjutnya dengan nilai FL yang sama (50%) terdiri dari asam, jahe, sereh. Tumbuhan dengan nilai relative rendah (44.33% - 33.33%) adalah kunyit, gambir, pinang, sirih, dan temu kunci. (3) Variabel-variabel yang signifikan mempengaruhi frekuensi penggunaan tumbuhan obat oleh masyarakat Suku Osing di Desa Kemiren adalah umur, pendidikan, dan pendapatan rumah tangga.
Collections
- UT-Faculty of Agriculture [4334]