Perilaku Petani Dalam Budidaya Tanaman Sayuran di Desa Sukorambi Kecamatan Sukorambi Kabupaten Jember
Abstract
Pertanian merupakan sektor penting yang mendukung kehidupan manusia.
Seiring bertambahnya jumlah penduduk, kebutuhan akan pangan terus meningkat.
Pertumbuhan populasi yang cepat juga menimbulkan masalah bagi pertanian,
terutama dalam hal menanam tanaman. Meningkatnya permintaan pangan dan
persaingan dalam perdagangan pangan menciptakan hubungan antar individu,
kelompok dan bangsa (Yuwono et al., 2019). Kebutuhan pangan yang semakin
meningkat membuat kegiatan proses produksi menjadi kegiatan manusia yang
sangat penting. Proses usaha tani tidak hanya berorientasi pada kegiatan produksi
pangan, tetapi juga berdampak pada berbagai aspek yaitu perkembangan pertanian
yang ada. Pembangunan pertanian mencakup beberapa aspek seperti teknologi
produksi, pemasaran, dan sumber daya manusia.
Sayuran daun merupakan komoditas yang banyak ditanam di dataran tinggi,
namun sayuran daun juga banyak ditanam di dataran rendah. Budidaya sayuran
daun dipengaruhi oleh kondisi tumbuh yang baik untuk setiap komoditas, seperti
ketinggian tempat, suhu, kondisi tanah, pH tanah dan ketersediaan air. Menurut
Liverdi dan Saparinto (2016), tanaman sayuran daun tumbuh dengan baik apabila
lingkungan budidaya mendukung pertumbuhan tanaman dan mengoptimalkan hasil
tanaman yang dibudidayakan dengan memperhatikan kebutuhan pertumbuhan
masing-masing komoditas. Persyaratan untuk menanam sayuran daun biasanya
bervariasi untuk setiap komoditas, seperti pH dan tingkat irigasi.
Kegiatan budidaya sayuran daun dilakukan melalui pekerjaan persiapan
seperti penyiapan benih, penyiapan tanah, pemupukan, pemeliharaan dan
pemanenan. Dikutip dari Theresia et al., (2016) Saat menyiapkan benih, petani
seringkali menyisihkan hasil panen hingga siap digunakan pada musim tanam
berikutnya. Persiapan tanah adalah mencangkul tanah terlebih dahulu, kemudian membuat bedengan, dan memberikan pupuk dasar pada bedengan yang akan
digunakan. Perawatan tanaman dilakukan dengan cara tradisional yaitu
menggunakan pupuk kimia sintetik yang diperoleh dari kios terdekat dan
menggunakan pestisida kimia untuk mengatasi masalah hama tanaman sayuran
yang dibudidayakan.
Penanaman sayuran oleh petani masih dipengaruhi oleh faktor musim. Pada
musim kemarau, petani cenderung menghasilkan hasil panen sayur yang lebih baik
dibandingkan saat musim hujan, namun hal ini mempengaruhi harga jual yang
cenderung lebih rendah karena pasokan sayur di pasaran cukup tinggi. Menanam
sayuran daun pada musim hujan sering menemui kesulitan karena kualitas panen
yang dihasilkan lebih rendah dibandingkan menanam sayuran daun pada musim
kemarau. Pembatasan itu juga membuat petani lebih lama dari musim kemarau
untuk memanen sayuran dan dapat menyebabkan gagal panen. Hal ini dipengaruhi
oleh praktek petani menanam sayuran daun yang tidak memperhatikan budidaya
yang baik sehingga gagal mendapatkan hasil sayuran daun yang maksimal.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perilaku petani dalam budidaya
tanaman sayuran daun di Desa Sukorambi Kecamatan Sukorambi Kabupaten
Jember yaitu pada pengetahuan petani, sikap petani, dan keterampilan petani dalam
budidaya yang meliputi kegiatan pembenihan, pengolahan tanah, penanaman,
perawatan, dan pemanenan. Penentuan daerah penelitian dilakukan dengan
menggunakan Purposive method yaitu di Desa Sukorambi Kecamatan Sukorambi
Kabupaten Jember. Metode penelitian ini menggunakan kualitatif. Metode
penentuan informan menggunakan Purposive method. Metode pengumpulan data
menggunakan wawancara, observasi dan dokumentasi. Metode analisis data
menggunakan Miles anda Huberman.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa: pengetahuan petani dalam pembenihan
yaitu dengan melakukan pembuatan benih mandiri, dalam pengolahan tanah
meliputi pembukaan tanah dengan dicangkul, penambahan pupuk dasar,
pendinginan tanah, pembuatan bedengan dan perataan bedengan, dalam penanaman
dilakukan dengan cara disebar untuk tanaman bayam, kenikir, dan kangkung, dan
dilakukan penyemaian serta pindah tanam untuk sawi dan kemangi, pada perawatan tanaman meliputi penyiraman, penyiangan, pemupukan, dan penanganan hama,
pemanenan dilakukan pada tanaman berusia 28 – 30 hari dan pada komoditas sawi
pada usia 15 -20 setelah pindah tanam.
Sikap petani dalam budidaya tanaman sayuran daun pada kegiatan
pembenihan yaitu pada keyakinan masyarakat dalam tingkat keberhasilan
pembenihsan serta benih yang dihasilkan lebih baik untuk diterima di pasaran.
Sikap dalam pengolahan tanah didasarkan pada kepercayaan masyarakat dalam
pemanfaatan pupuk kandang untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman sayuran
daun serta lebih efisien dalam penggunaan pupuk. Sikap dalam penanaman dilihat
dari perlakuan petani dalam proses penanaman seperti proses pindah tanam yang
dilakukan dengan memperhatikan usia tanaman serta pemberian jarak tanam. Sikap
dalam perawatan yaitu berua keyakinan petani terhadap perawatan yang dilakukan
sudah maksimal untuk menghasilkan produksi tanaman sayuran daun yang baik.
Sikap petani dalam pemanenan tanaman sayuran daun masih dipengaruhi oleh
permintaan pasar serta masih belum melakukan penyortiran dikarenakan khawatir
mengalami kerugian
Keterampilan petani dalam budidaya tanaman sayuran daun di Desa
Sukorambi Kecamatan Sukorambi pada kegiatan pembenihan yaitu dengan
pemilihan tanaman yang dijadikan pembenihan dengan kriteria yang dimiliki
petani. Keterampilan petani dalam pengolahan tanah meliputi pembukaan tanah
dengan pencangkulan, selanjutnya pembersihan tanah, penambahan pupuk
kandang, pendinginan tanah selama 3 hingga 5 hari, dan terakhir pembentukan
bedengan serta perataan bedengan. Keterampilan petani dalam penanaman meliputi
perlakuan pada beberapa komoditas seperti bayam, kangkung, dan kenikir cukup
disebar pada bedengan yang telah dipersiapkan, untuk komoditas sawi dan kemangi
perlu dilakukan penyemaian dan pindah tanam. Ketermpilan petani dalam
perawatan antara lain penyiraman yang dilakukan selama 2 kali sehari pagi dan
sore, penyiangan dilakukan sekali dalam sekali masa tanam, pemupukan dilakukan
sebanyak 2 kali yaitu pada usia 5 dan usia 10 hari setelah pindah tanam dengan
pupuk yang digunakan yaitu pupuk Urea dan NPK sebangak ½ kg setiap bedengan,
penanganan hama dilakukan dengan penyemprotan pestisida kimia. Pemanenan dilakukan dengan cara dipotong untuk komoditas sawi dan kemangi, dan dicabut
untuk komoditas bayam, kangkung, dan kenikir. Penanganan panen dilakukan
dengan pembersihan pada kolam yang ada dilahan selanjutnya diangkut ke rumah
petani dan diikat untuk dipasarkan.
Collections
- UT-Faculty of Agriculture [4334]