Determinan Neonatal Respiratory Distress Syndrome di RSD dr. Soebandi Jember Tahun 2022
Abstract
Pada masa neonatal, bayi menghadapi risiko kematian tertinggi pada bulan
pertama kehidupannya. World Health Organization (WHO) menyatakan bahwa
sekitar 15% dari total angka kematian neonatal secara global disebabkan oleh
Neonatal Respiratory Distress Syndrome (NRDS). Neonatal respiratory distress
syndrome adalah sebuah sindrom gangguan pernapasan pada bayi baru lahir yang
terjadi ketika paru-paru bayi tidak mampu menyediakan oksigen yang cukup
sehingga menyebabkan kesulitan bernapas. Sindrom ini disebabkan oleh imaturitas
paru yang mengakibatkan kurangnya produksi surfaktan. Defisiensi surfaktan akan
meningkatkan tegangan di permukaan alveolus selama ekspirasi sehingga dapat
menyebabkan kolaps alveolus pada akhir ekspirasi. Penderita NRDS dapat
mengalami komplikasi yang berdampak serius pada bayi, seperti infeksi, kerusakan
paru-paru, hingga kematian neonatal. Beberapa faktor risiko NRDS yaitu
prematuritas, jenis kelamin laki-laki, berat bayi lahir rendah, primipara, riwayat
ketuban pecah dini, dan riwayat diabetes melitus gestasional. Namun, masih
terdapat perbedaan hasil pada penelitian terdahulu sehingga diperlukan kajian lebih
lanjut terkait hal tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan
menganalisis hubungan faktor bayi (jenis kelamin, berat bayi lahir, dan
prematuritas) dan faktor ibu (paritas, Ketuban Pecah Dini (KPD), dan Diabetes
Melitus Gestasional (DMG)) dengan kejadian NRDS, serta menganalisis
determinan NRDS di RSD dr. Soebandi Jember pada tahun 2022.
Penelitian ini merupakan penelitian observasional case-control dengan
pendekatan retrospektif. Penelitian ini dilaksanakan di RSD dr. Soebandi Jember
pada Maret-Juni 2024. Populasi kelompok kasus pada penelitian ini adalah seluruh
bayi yang mengalami NRDS di RSD dr. Soebandi Jember pada tahun 2022 dan
populasi kelompok kontrol pada penelitian ini adalah seluruh bayi yang mengalami
sesak selain NRDS di RSD dr. Soebandi Jember pada tahun 2022. Perbandingan
sampel kelompok kasus dan kelompok kontrol adalah 1:1 sehingga penelitian ini
menggunakan 89 sampel kasus dan 89 sampel kontrol. Sumber data pada penelitian
ini adalah rekam medis bayi dan ibu bayi yang dikumpulkan melalui studi
dokumentasi. Data yang telah dikumpulkan akan dianalisis secara univariat
menggunakan metode deskriptif, bivariat menggunakan uji chi-square, dan
multivariat menggunakan regresi logistik berganda.
Berdasarkan faktor bayi, pada kelompok kasus, sebanyak 76,4%
responden berjenis kelamin laki-laki, sebanyak 96,6% responden berada dalam
kategori berat lahir rendah, dan sebanyak 94,4% responden lahir prematur. Pada
kelompok kontrol, sebanyak 15,7% responden berjenis kelamin laki-laki, sebanyak
51,7% responden berada dalam kategori berat lahir rendah, dan sebanyak 40,4%
responden lahir prematur. Berdasarkan faktor ibu, pada kelompok kasus, sebanyak
62,9% responden merupakan ibu primipara, sebanyak 38,2% responden mengalami
KPD, dan sebanyak 21,3% responden mengalami DMG. Pada kelompok kontrol, sebanyak 28,1% responden merupakan ibu primipara, sebanyak 18,0% responden
mengalami KPD, dan sebanyak 6,7% responden mengalami DMG. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara kejadian NRDS
dengan jenis kelamin laki-laki (p-value <0,001; OR 17,347; 95% CI 8,180-36,785),
berat lahir rendah (p-value <0,001; OR 26,797; 95% CI 7,880-91,124), kelahiran
prematur (p-value <0,001; OR 24,733; 95% CI 9,130-67,004), primipara (p-value
<0,001; OR 4,344; 95% CI 2,310-8,168), KPD (p-value 0,003; OR 2,820; 95% CI
1,415-5,621), dan DMG (p-value 0,008; OR 3,755; 95% CI 1,421-9,919).
Berdasarkan hasil analisis multivariat, diketahui bahwa variabel yang paling
dominan berhubungan dengan kejadian NRDS adalah jenis kelamin (OR 32,536;
95% CI 9,512-111,296) dan riwayat DMG (OR 13,171; 95% CI 2,098-82,691).
Mayoritas responden pada kelompok kasus berjenis kelamin laki-laki,
lahir prematur, dan merupakan ibu primipara, sedangkan mayoritas responden pada
kelompok kontrol berjenis kelamin perempuan, tidak prematur, dan merupakan ibu
multipara. Mayoritas responden baik pada kelompok kasus maupun pada kelompok
kontrol memiliki berat lahir yang rendah serta tidak mengalami KPD dan DMG.
Jenis kelamin laki-laki, berat lahir rendah, kelahiran prematur, primipara, KPD, dan
DMG merupakan faktor risiko kejadian NRDS di RSD dr. Soebandi Jember tahun
2022. Variabel yang paling dominan berhubungan dengan kejadian NRDS di RSD
dr. Soebandi Jember tahun 2022 adalah jenis kelamin dan riwayat DMG.
Kelemahan penelitian ini adalah nilai CI terlalu lebar yang mengindikasikan
kemungkinan adanya bias. Rekomendasi yang dapat diberikan bagi peneliti
selanjutnya adalah mempertimbangkan penyakit sesak lainnya sebagai kelompok
kontrol, meneliti hubungan komorbid dengan kejadian NRDS, dan memperluas
cakupan wilayah riset. Rekomendasi yang dapat diberikan bagi ibu hamil adalah
rutin melakukan pemeriksaan antenatal care untuk mendeteksi tumbuh kembang
janin dan melakukan skrining bagi ibu primipara untuk menghindari komplikasi
persalinan yang dapat mengakibatkan NRDS. Rekomendasi yang dapat diberikan
bagi puskesmas dan rumah sakit adalah melakukan intervensi khusus bagi ibu
primipara dan ibu yang mengalami DMG untuk mencegah NRDS.
Collections
- UT-Faculty of Public Health [2283]