Strategi Bertahan Hidup Petani Kopi Robusta Lahan Sempit di Desa Rowosari Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Indonesia merupakan negara agraris, dimana sebagian penduduknya
bertahan hidup dengan bekerja pada bidang pertanian. Pertanian memiliki arti luas
yang mencakup pertanian sawah, perkebunan, peternakan dan perikanan.
Perkebunan merupakan salah satu komoditas yang berperan penting dan strategis
dalam membangun perekonomian Indonesia salah satunya yaitu komoditas kopi.
Usahatani kopi di Indonesia menjadi suatu peluang besar yang menjanjikan untuk
dikembangkan karena Indonesia masuk ke dalam lima negara penghasil kopi
terbesar di dunia.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis strategi bertahan hidup petani
kopi robusta pada lahan sempit. Lokasi penelitian ditentukan dengan sengaja yaitu
di Desa Rowosari Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember. Penelitian ini
menggunakan metode deskriptif kualitatif. Informan ditentukan secara sengaja
dengan beberapa ketentuan kriteria tertentu. Data yang dikumpulkan dari penelitian
ini yaitu observasi, wawancara serta dokumentasi. Hasil data yang di peroleh akan
analisis dengan moden analisis Miles,Huberman & Saldana (2014) yaitu
kondensasi data, penyajian data dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian ini menunjukan bahwasanya keadaan usahatani kopi
robusta di Desa Rowosari Kecamatan Sumberjambe Kabupaten Jember memiliki
lahan yang sangat sempit yaitu kurang dari 1 Ha. Oleh karena itu, petani memiliki
strategi bertahan hidup dengan melakukan suatu sistem sosial agar dapat bertahan
hidup dengan adaptasi, pencapaian tujuan, integrasi, dan latensi atau pemeliharaan
pola. Pada adaptasi para petani melakukan diversifikasi atau tumpang sari tanaman
pada lahan kopinya dengan menambah tanaman durian, alpukat, pisang, umbiumbian,
papaya, cabe jawa, dan vanili hal tersebut dilakukan untuk menambah pemasukan
dengan menjual hasil tumpang sari tanaman dikarenakan proses panen
kopi bergantian dengan tanaman tumpang sari.
Keterbatasan lahan juga membuat petani melakukan ekstensifikasi lahan
dengan menyewa milik lahan pinus milik perhutani untuk ditanami tanaman kopi
hal ini dinilai melanggar atau illegal dikarenakan, sewa lahan hanya melalui penjaga
perhutani tidak kepada pusat. Petani juga memiliki cara untuk meningkatkan hasil
kopinya dengan intensifikasi pada lahan dan tanaman dengan melakukan stek,
pruning (pemangkasan) dan pembuatan rorak. Selain meningkatkan hasil tanaman,
pada saat panen kopi petani juga memiliki cara cara tersendiri dalam menjual hasil
panennya ada yang di jual pada saat basah setelah petik, ada yang di proses menjadi
kering (ose) dan ada yang di jual menjadi olahan bubuk. Hasil panen yang diterima
petani tidak semuanya di jual akan tetapi disimpan sebagian yang dapat mereka
gunakan sebagai tabungan. Selain dari tanaman kopi petani juga melakukan
diversifikasi pekerjaannya dengan mencari pekerjaan sampingan seperti pedagang,
buruh tani, peternak, penebang kayu, penyadap pinus dan karet tidak hanya petani,
keluarga petani juga ikut ambil peran dalam bekerja untuk memenuhi kebutuhan
keberlanjutan bertahan hidup. Selain itu, petani melakukan hemat atau efisiensi
pengeluaran dengan mengganti pupuk kimia dengan pupuk organik dari kotoran
ternak, hemat tidak membeli barang yang kurang mendesak, memanfaatkan alam
sebagai sumber pangan, dan menabung dalam bentuk uang, kopi, ternak dan
perhiasan.
Petani kopi lahan sempit di Desa Rowosari memiliki kemampuan dalam
menentukan tujuan hidup dan mengatur cara mencapainya, seperti melakukan
peminjaman modal ke bank atau pengepul untuk memenuhi kebutuhan serta
mengembangkan usaha. Mereka juga aktif membangun jaringan sosial melalui
kerja sama sesama petani, berbagi informasi pasar, serta bergotong royong
membangun akses jalan ke lahan. Dalam menjaga integrasi sosial, para petani
menjalin hubungan baik dengan kelompok tani dan pengepul, membangun
kepercayaan, dan berbagi pengalaman serta alat pertanian. Hubungan ini
menciptakan solidaritas dan keteraturan dalam komunitas petani. Selain itu,
pemeliharaan pola nilai dilakukan melalui harapan dan bantuan dari
pemerintah maupun keluarga. Petani mendapatkan bantuan seperti BLT, PKH, bibit,
alat, serta pelatihan. Bantuan tenaga dan dana dari keluarga juga mendukung
keberlangsungan usaha tani. Semua ini menunjukkan bahwa petani mampu
bertahan hidup melalui dukungan jaringan sosial dan penguatan nilai-nilai
kebersamaan.
Description
Reupload Repository Maya 25 Maret 2026
