Repository Universitas Jember

Digital service that collects, preserves, and distributes digital material. Repositories are important tools for preserving an organization's legacy; they facilitate digital preservation and scholarly communication.

Communities in DSpace

Select a community to browse its collections.

Now showing 1 - 5 of 9

Recent Submissions

  • Item type:Item,
    Analisis Kadar Protein dan Daya Terima Minuman Variasi Sari Kacang Hijau (Vigna radiata L.) dan Kurma (Phoenix dactylifera L.) (Potensi Minuman Alternatif bagi Penderita Intoleransi Laktosa)
    (Fakultas Kesehatan Masyarakat, 2026-10-13) Elok Kholwatul Jannah
    Intoleransi laktosa membatasi konsumsi susu hewani akibat rendahnya aktivitas enzim laktase, sehingga diperlukan pengembangan minuman nabati bebas laktosa dengan nilai gizi yang mencukupi dan penerimaan sensoris yang baik. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh perbedaan rasio sari kacang hijau dan sari kurma terhadap kandungan protein serta tingkat penerimaan sensoris, serta menentukan formulasi terbaik. Penelitian ini menggunakan metode eksperimen dengan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas empat perlakuan dan tiga kali ulangan. Formulasi minuman dibuat dengan perbandingan sari kacang hijau dan sari kurma, yaitu 70:30%, 60:40%, 50:50%, dan 40:60%. Analisis kandungan protein dilakukan menggunakan metode Kjeldahl, sedangkan karakteristik sensoris yang meliputi warna, aroma, rasa, dan tekstur dievaluasi melalui uji hedonik dengan melibatkan 30 orang panelis. Data kandungan protein dianalisis menggunakan analisis ragam satu arah yang dilanjutkan dengan uji lanjut, sedangkan data penerimaan sensoris dianalisis menggunakan uji Friedman dan uji Wilcoxon. Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi 70:30% memiliki kandungan protein tertinggi sebesar 5,92 g/100 g dan menunjukkan perbedaan yang signifikan antarformulasi. Formulasi 70:30% memperoleh tingkat penerimaan tertinggi pada atribut warna dan tekstur, sedangkan nilai penerimaan aroma dan rasa tertinggi masing-masing terdapat pada formulasi 40:60% dan 50:50%. Formulasi 70:30% dipilih sebagai formulasi terbaik karena memiliki kandungan protein tertinggi dan penerimaan sensoris yang baik, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai alternatif minuman nabati bebas laktosa.
  • Item type:Item,
    Pengembangan Media Pembelajaran Kartu Pak Alam Berbasis Augmented Reality IPAS untuk Meningkatkan Hasil Belajar Siswa Kelas IV SDN 2 Sumberagung Banyuwangi
    (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026-10-09) Evan Yafi Arif Hidayat
    Penelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya hasil belajar siswa kelas IV SDN 2 Sumberagung pada mata pelajaran IPAS materi “Daerahku dan Kekayaan Alamnya”, dengan nilai rata-rata 69,38 dan ketuntasan klasikal hanya 14,29% (3 dari 21 siswa mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) sebesar 75). Observasi dan wawancara menunjukkan pemahaman siswa terhadap materi bentang alam masih bersifat hafalan, siswa sulit membedakan jenis dan karakteristik bentang alam, partisipasi belajar rendah, serta media guru masih terbatas pada gambar dan buku sehingga siswa mudah bosan. Berdasarkan latar belakang tersebut, rumusan masalah penelitian ini yaitu bagaimana proses pengembangan media Kartu Pak Alam berbasis augmented reality kelas IV di SDN 2 Sumberagung serta bagaimana kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan hasil pengembangannya, sehingga penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kedua hal tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan Research and Development (R&D) dengan model ADDIE (Analysis, Design, Development, Implementation, Evaluation). Subjek penelitian terdiri atas 21 siswa kelas IV SDN 2 Sumberagung Banyuwangi beserta guru kelas sebagai mitra penelitian, serta ahli materi, ahli bahasa, dan ahli media sebagai validator. Pengembangan media dilakukan melalui analisis kebutuhan pembelajaran, perancangan isi materi dan integrasi Qr code serta AR, pengembangan produk menggunakan Canva untuk desain kartu, Meshy untuk pemodelan objek 3D, dan Assemblr Studio sebagai platform penampil konten AR, implementasi melalui uji coba terbatas, serta evaluasi formatif dan sumatif untuk menilai kevalidan, kepraktisan, dan keefektifan produk. Hasil penelitian menunjukkan bahwa media Kartu Pak Alam berbasis augmented reality dinyatakan sangat valid, dengan rata-rata persentase validasi sebesar 91,25% dari ahli materi, 91,43% dari ahli bahasa, dan 93,64% dari ahli media. Instrumen pendukung (angket respon siswa, angket respon guru, dan tes hasil belajar) juga dinyatakan sangat valid, masing-masing 91,67%, 93,33%, dan 84,00%. Media juga dinyatakan sangat praktis, dengan rata-rata respons 85,43% dari siswa dan 90,00% dari guru. Dari segi keefektifan, rata-rata nilai pre-test siswa sebesar 63,81 meningkat menjadi 85,24 pada post-test, dengan rata-rata N-Gain sebesar 0,610 (kategori Sedang), terdiri atas 19,05% siswa kategori Tinggi dan 80,95% siswa kategori Sedang, serta ketuntasan belajar klasikal mencapai 90,48%. Instrumen tes hasil belajar juga dinyatakan valid dan reliabel, dengan 20 dari 25 butir soal dinyatakan valid dan nilai reliabilitas KR-21 sebesar 0,822 (kategori Sangat Tinggi). Kebaruan penelitian ini terletak pada integrasi tiga unsur sekaligus dalam satu media pembelajaran IPAS, yaitu permainan kartu edukatif, Qr code, dan augmented reality, yang belum banyak dilakukan pada penelitian sebelumnya yang umumnya hanya mengintegrasikan dua komponen. Hasil ini sejalan dengan penelitian Yulianti dan Minsih (2022) yang menunjukkan media kartu edukatif berbasis game memperoleh validasi sangat layak, serta penelitian Ningsih dan Gunansyah (2023) yang menunjukkan media kartu berbasis Qr code efektif meningkatkan hasil belajar siswa. Meskipun demikian, rata-rata N-Gain yang diperoleh masih kategori Sedang, diduga karena durasi implementasi yang singkat, kemampuan awal siswa yang heterogen, adaptasi siswa terhadap teknologi AR yang masih baru, serta keterbatasan sarana seperti jumlah perangkat dan jaringan. Berdasarkan hasil penelitian tersebut, dapat disimpulkan bahwa pengembangan media Kartu Pak Alam berbasis augmented reality dilakukan melalui tahapan analisis, perancangan, pengembangan, implementasi, dan evaluasi sesuai model ADDIE, serta menghasilkan produk akhir berupa kartu edukatif yang valid, praktis, dan efektif digunakan dalam pembelajaran IPAS materi Daerahku dan Kekayaan Alamnya bagi siswa kelas IV sekolah dasar. Siswa disarankan memanfaatkan media ini secara mandiri maupun berkelompok, guru disarankan menggunakannya sebagai alternatif pembelajaran IPAS pada materi bentang alam dan kekayaan alam dengan mempersiapkan perangkat dan jaringan internet memadai, serta peneliti selanjutnya disarankan mengembangkan media serupa pada materi lain
  • Item type:Item,
    Strategi Actors dalam Taman Bacaan Masyarakat di PKBM Al Muttaqin Kabupaten Jember
    (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026-07-31) Indah Lestari
    Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan strategi ACTORS dalam pemberdayaan di Taman Bacaan Masyarakat (TBM) PKBM Al Muttaqin, Kabupaten Jember. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan teknik pengumpulan data melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi yang melibatkan pengelola TBM, tutor internal, tutor eksternal, dan peserta didik. Peneliti memilih lokasi TBM di PKBM Al Muttaqin, Kabupaten Jember, menggunakan teknik pemilihan lokasi secara purposif (*purposive area technique*). Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan teknik *purposive sampling* untuk menentukan informan; pengelola TBM dan tutor internal dipilih sebagai informan kunci, sedangkan tutor eksternal dari relawan Turun Tangan Jember serta seorang peserta didik dipilih sebagai informan pendukung. Teknik analisis data meliputi pengumpulan data, reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan, sementara teknik pemeriksaan keabsahan data dilakukan melalui perpanjangan pengamatan, peningkatan ketekunan, dan triangulasi (teknik, sumber, dan waktu). Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi ACTORS diimplementasikan melalui: (1) otoritas melalui pelibatan peserta didik dalam pengambilan keputusan, (2) kepercayaan diri dan kompetensi melalui peningkatan kemampuan dan rasa percaya diri, (3) kepercayaan melalui komunikasi dan kolaborasi yang baik, (4) peluang melalui penyediaan kesempatan sesuai minat dan kebutuhan, (5) tanggung jawab melalui penanaman sikap tanggung jawab, dan (6) dukungan melalui pendampingan dan motivasi dari tutor serta relawan. Implementasi strategi ini menghasilkan dampak pemberdayaan berupa: (1) penghargaan diri, yaitu peningkatan harga diri, (2) kepercayaan diri, yaitu keberanian untuk berpartisipasi aktif, dan (3) kemandirian, yaitu kemampuan untuk belajar dan memecahkan masalah secara mandiri. Dengan demikian, strategi ACTORS mampu meningkatkan partisipasi, kemampuan, dan kemandirian peserta didik, sehingga Taman Bacaan Masyarakat (TBM) tidak hanya berfungsi sebagai sarana literasi, tetapi juga sebagai wadah pemberdayaan masyarakat.
  • Item type:Item,
    Evaluasi Pemberdayaan Kelompok Wanita Tani Nawasena pada Pengolahan Bunga Mawar dengan Model CIPP (Studi Kasus di Desa Karangpring Kecamatan Balung Kabupaten Jember)
    (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026-07-28) Amanda Safira
    Kerugian menjadi satu resiko dan permasalahan yang sering dialami oleh para petani. Salah satu kerugian yang sering dialami oleh petani diesebabkan oleh hasil panen yang tidak bertahan lama. Dalam menangani permasalahan tersebut, Kelompok Wanita Tani (KWT Nawasena) berupaya mengatasi kerugian pada hasil panen dengan melakukan program pemberdayaan. Melalui program ini, bunga mawar yang sebelumnya hanya dijual dalam bentuk segar dengan daya simpan terbatas, diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti teh mawar, sirup mawar, dan selai mawar. Pengolahan ini tidak hanya memperpanjang masa simpan produk, tetapi juga meningkatkan nilai jual sehingga memberikan peluang peningkatan pendapatan bagi anggota KWT. Selain itu, program pemberdayaan ini juga bertujuan untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan anggota dalam proses produksi hingga pengemasan yang menarik. Dalam pelaksanaannya, program pemberdayaan ini menghadapi permasalahan berupa penurunan partisipasi anggota. Tidak semua anggota KWT secara konsisten mengikuti kegiatan pelatihan maupun praktik pengolahan. Penurunan partisipasi ini menjadi tantangan dalam mencapai keberhasilan program pemberdayaan, mengingat partisipasi aktif anggota merupakan kunci utama dalam proses pemberdayaan masyarakat. Rendahnya keterlibatan anggota dapat berdampak pada kurang optimalnya transfer pengetahuan dan keterampilan, serta menghambat keberlanjutan program yang telah dirancang. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dan mengetahui penyebab penurunan partisipasi pada program pemberdayaan KWT Nawasena dengan menggunakan evaluasi model CIPP (context, input, process & product). Penelitian ini menggunakan pendekatan penelitian deskriptif persentase. Tempat penelitian ditentukan dengan menggunakan metode purposive area pada KWT Nawasena yang berada di Desa Karangpring, Kecamatan Sukorambi, Kabupaten Jember. Informan penelitian ini yaitu anggota KWT, pengurus KWT dan Petugas Penyuluh Lapang (PPL) setempat. Teknik pengumpulan data yakni dengan metode wawancara, observasi sdan dokumen. Data yang dihasilkan dianalisis dengan metode deskriptif persentase. Berdasarkan hasil penelitian, context dalam program pemberdayaan pada KWT Nawasena mendapatkan total skor 100% dan masuk dalam kategori “sangat sesuai”. Hal tersebut terjadi karena tujuan dari diadakannya program pemberdayaan telah sesuai dengan permasalahan yang ada dalam mengatasi kerugian hasil panen mawar yang tidak bertahan lama. Selain itu, evaluasi pada sasaran penerima manfaat juga termasuk dalam kategori yang “sangat sesuai” karena partisipan yang mengikuti program pemberdayaan merupakan petani/perempuan yang aktif di bidang pertanian. Menurut hasil evaluasi pada komponen input, mendapatkan total skor 88,9% sehingga masuk dalam kategori “sangat sesuai”. Meskipun demikian, terdapat hambatan pada pendanaan program yang dimana pada program tersebut hanya mengandalkan uang kas sehingga program berjalan dengan sederhana dan kurang optimal. Pada indikator strategi perencanaan program dan persiapan pelaksanaan program menunjukan kesesuaian program. Hasil evaluasi pada komponen process, mendapat skor 88,9% dengan hasil capaian kategori “sangat sesuai”. Meskipun capaian kategori tersebut telah “sangat sesuai”, kenyataannya masih terdapat hambatan pada proses pemberian materi. Pasalnya, anggota KWT belum mengetahui visi dan misi program tersebut. Pada indikator keberlangsungan program berjalan dengan lancar dan partisipasi anggota sangat aktif selama program berlangsung. Selain itu, hasil evaluasi product menunjukan skor terendah dari komponen evaluasi model CIPP yaitu mendapat skor 85,25% dengan kategori “sangat sesuai”. Hal tersebut terjadi karena kurangnya peningkatan pada pendapatan dikarenakan kurangnya pendampingan dalam segi pemasaran. Namun, pada indikator keterampilan menunjukan peningkatan yang ditandai dengan meningkatnya pengetahuan terkait berbagai olahan mawar setelah adanya program pemberdayaan. Berdasarkan hasil evaluasi, disarankan agar KWT Nawasena menjelaskan materi secara detail mengenai visi dan misi program kepada seluruh anggota agar pemahaman anggota semakin optimal. Selain itu pendampingan dalam aspek pemasaran juga perlu diperkuat melalui pelatihan pemasaran digital, pengemasan produk, dan perluasan jaringan kerja sama dengan berbagai pihak guna meningkatkan pendapatan anggota. Di samping itu, inovasi produk olahan mawar serta evaluasi program secara berkala perlu terus dilakukan agar program pemberdayaan dapat berjalan lebih optimal dan berkelanjutan
  • Item type:Item,
    The Use of Fable to Develop Students' Moral Awareness in Reading Lesson for Junior High School
    (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026-06-25) Gunik Indarmastuti
    The Use of Fable to Develop Students’ Moral Awareness in Reading Lesson for Junior High School. This study aimed to investigate how fable texts can develop students’ moral awareness in reading lessons. This study employed a descriptive qualitative research design involving 29 students of class VIII-C at SMP An-Nur Kalibaru, with 9 students as the focal participants. The data were collected through classroom observations and video recordings conducted during three reading lessons using the fable “The Fox and the Stork.” During the lessons, students read the fable, discussed the moral lessons, and related the characters’ actions to their daily behavior. The findings showed that students’ moral awareness gradually developed throughout the three observations. In the first observation, several students showed inappropriate behaviors, such as talking, joking, leaving their seats without permission, and disturbing others. In the second observation, some positive changes began to appear after students discussed the moral lessons of the fable. In the third observation, students demonstrated better self-control, greater respect for others, and less disruptive behavior. The findings indicate that fable texts can be used as an instructional medium to develop students’ moral awareness by encouraging them to reflect on characters’ actions and relate moral values to their own behavior.