Repository Universitas Jember

Digital service that collects, preserves, and distributes digital material. Repositories are important tools for preserving an organization's legacy; they facilitate digital preservation and scholarly communication.

Communities in DSpace

Select a community to browse its collections.

Now showing 1 - 5 of 9

Recent Submissions

  • Item type:Item,
    Analisis Sensitivitas Enhanced Oil Recovery Steam Injection pada Reservoir Heavy Oil Lapangan M menggunakan Simulasi Reservoir
    (Fakultas Teknik, 2026-07-30) Ferdinan Markus Silaban
    Lapangan M merupakan reservoir heavy oil di Cekungan Sumatera Tengah dengan API gravity sekitar 17° dan viskositas minyak 220–620 cP. Salah satu metode yang sesuai untuk kondisi ini adalah steam injection. Panas dari steam dapat menurunkan viskositas minyak dan meningkatkan mobilitasnya. Namun, peningkatan produksi tidak selalu sebanding dengan jumlah steam yang digunakan. Konsumsi steam yang terlalu besar dapat meningkatkan biaya operasi dan menurunkan margin ekonomi. Oleh karena itu, penelitian ini mengkaji pengaruh steam quality dan temperatur injeksi dengan mempertimbangkan aspek produksi, efisiensi steam, dan ekonomi secara terpadu. Penelitian bertujuan menganalisis pengaruh variasi steam quality dan temperatur injeksi terhadap kinerja reservoir, menentukan parameter yang paling sensitif, serta memilih skenario yang memberikan keseimbangan terbaik antara peningkatan produksi dan margin ekonomi. Indikator yang digunakan meliputi recovery factor (RF), kumulatif produksi minyak, kumulatif steam, cumulative steam-oil ratio (CSOR), gross netback, dan netback inkremental. Metode penelitian menggunakan simulasi reservoir kuantitatif dengan perangkat lunak T-Navigator. Model reservoir yang digunakan merupakan model sintetis yang merepresentasikan karakteristik Lapangan M. Model terdiri atas enam sumur injeksi dan 22 sumur produksi. Basecase berupa kelanjutan waterflooding eksisting tanpa injeksi steam. Analisis sensitivitas menggunakan delapan skenario yang mengombinasikan empat tingkat steam quality, yaitu 0,7-1,0, dengan dua temperatur injeksi, yaitu 210°C dan 230°C. Seluruh sumur injeksi menggunakan kontrol bottom-hole pressure (BHP), sehingga laju injeksi aktual menjadi respons terhadap kondisi tekanan, sifat fluida, injectivity, dan perubahan kondisi reservoir. Hasil simulasi menunjukkan bahwa seluruh skenario steam injection menghasilkan peningkatan produksi yang signifikan dibandingkan basecase. Nilai RF basecase sebesar 26,82% dengan kumulatif produksi minyak 0,644 juta sm³. Sementara itu, delapan skenario steam menghasilkan RF sebesar 37,35–38,00% dan kumulatif minyak sebesar 0,897–0,913 juta sm³. Skenario 1 dengan steam quality 0,7 dan temperatur 210°C memberikan kinerja produksi tertinggi dengan RF 38,00% dan kumulatif minyak 0,913 juta sm³. Namun, skenario ini membutuhkan kumulatif steam sebesar 3,867 juta sm³ dan memiliki CSOR sekitar 4,24 sm³ steam/sm³ minyak.
  • Item type:Item,
    Figurative Language Analysis in The Lyrics of BTS Song Swim
    (Fakultas Ilmu Budaya, 2026-07-22) Ana Muthi’Ah Fajriyah
    This study analyzes figurative language found in the BTS’s song lyrics Swim and examines their contribution to the themes of the song. As mentioned by RM, the leader of the group, in a Message from RM uploaded on Spotify that the song Swim is centered on the courage to face life by choosing to move at one's own rhythm rather than fighting the current. Using a qualitative descriptive method, the study analyzes figurative language in the lyrics based on Perrine’s (1963) classification and analyzed the meaning of each data on its context using Kreidler’s theory of contextual meaning. The findings reveal that 20 lines of lyrics lines contain figurative language. Symbolism is the most frequent type, which appears thirteen times, and is used to convey a profound message of never giving up by using other terms that broaden the listener's interpretation. Hyperbole appears four times, which conveys perseverance and courage in a dramatic way. Simile, metaphor, and personification also help illustrate the singer's courage, persistence, and goals conveyed in the song's lyrics.
  • Item type:Item,
    Asuhan Keperawatan Nyeri Akut (Post Sectio Caesarea) dengan Terapi Relaksasi Autogenik di RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan
    (Fakultas Keperawatan, 2026-08-27) Dwi Nur Dianah
    Latar Belakang: Sectio caesarea merupakan metode persalinan dengan prosedur pembedahan abdomen dan uterus. Tindakan ini menyebabkan terputusnya kontinuitas jaringan yang memicu pelepasan mediator biokimia dan transmisi impuls nyeri ke otak sehingga mengakibatkan masalah keperawatan nyeri akut. Salah satu intervensi non farmakologis untuk menurunkan tingkat nyeri adalah terapi relaksasi autogenik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan nyeri akut (post op sectio caesarea) dengan terapi relaksasi autogenik di RSUD Bangil. Metode: Penelitian ini berbentuk studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan selama 3 hari yang dilakukan pada satu pasien post op sectio caesarea dengan masalah keperawatan nyeri akut dengan pemberian intervensi berupa terapi relaksasi autogenik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Hasil: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari, nyeri akut teratasi yang ditunjukkan dengan adanya penurunan keluhan nyeri dari skala 7 menjadi 3, meringis menurun, gelisah menurun, bersikap protektif menurun, frekuensi nadi membaik, dan tekanan darah membaik. Kesimpulan: studi kasus ini menunjukkan bahwa terapi relaksasi autogenik efektif dalam membantu mengatasi nyeri akut pada pasien post sectio caesarea. Terapi ini dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang aman, mudah diterapkan, dan dapat dikombinasikan dengan terapi medis.
  • Item type:Item,
    Asuhan Keperawatan Gangguan Pertukaran Gas (Pneumonia) dengan Terapi NRBM di RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan
    (Fakultas Keperawatan, 2026-06-18) Nuril Ilmiah
    Latar belakang: Pneumonia merupakan infeksi akut pada parenkim paru akibat bakteri, virus, atau jamur yang menyebabkan inflamasi dan penumpukan cairan di alveoli sehingga mengganggu pertukaran gas. Kondisi ini menimbulkan gejala sesak napas, penggunaan otot bantu napas, dan penurunan saturasi oksigen. Berdasarkan data RSUD Bangil, terdapat 1.214 kasus pneumonia selama tahun 2025–2026, dengan sebagian besar pasien mengalami gangguan pertukaran gas. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif kuantitatif pada satu pasien pneumonia dengan diagnosis gangguan pertukaran gas. Intervensi yang diberikan berupa terapi oksigen menggunakan Non-Rebreathing Mask (NRBM) selama tiga hari berturut-turut, disertai posisi semi-Fowler, pemantauan pola napas, dan edukasi teknik pernapasan. Hasil: Setelah dilakukan intervensi, kondisi pasien menunjukkan perbaikan yang signifikan. Frekuensi napas menurun dari 26 kali/menit menjadi 22 kali/menit, suara ronki berkurang, saturasi oksigen meningkat dari 95% menjadi 98%, dan pasien tampak lebih nyaman. Masalah keperawatan gangguan pertukaran gas dinyatakan teratasi. Kesimpulan: Terapi oksigen menggunakan NRBM efektif sebagai intervensi keperawatan dalam membantu mengatasi gangguan pertukaran gas pada pasien pneumonia dan dapat diterapkan sebagai bagian dari standar asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem pernapasan.
  • Item type:Item,
    Asuhan Keperawatan Nausea (Gastroenteritis) dengan Edukasi SFM (Small Frequnt Meals) di RSUD dr.R. Soedarso Kota Pasuruan
    (Fakultas Keperawatan, 2026-08-27) Adinda Amalia Istiqlala
    Gastroenteritis merupakan peradangan pada saluran pencernaan yang sering menimbulkan keluhan (nausea), muntah, dan penurunan nafsu makan sehingga dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diterapkan adalah edukasi SFM (Small Frequent Meals), yaitu pemberian makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering serta mengatur jadwal makan dan pendampingan makan untuk mengurangi beban kerja lambung dan membantu menurunkan keluhan . Tujuan: Mendeskripsikan asuhan keperawatan pada pasien gastroenteritis dengan masalah keperawatan nausea melalui penerapan edukasi Small Frequent Meals (SFM) di RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi pada pasien gastroenteritis dengan masalah keperawatan nausea. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Intervensi utama berupa edukasi SFM yang diterapkan selama proses asuhan keperawatan. Hasil:Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama tiga hari, pasien menunjukkan penurunan frekuensi , berkurangnya keinginan untuk muntah, peningkatan nafsu makan, serta mampu mengonsumsi makanan dalam porsi kecil tetapi sering sesuai prinsip SFM. Kesimpulan: Penerapan edukasi SFM (Small Frequent Meals) efektif sebagai intervensi nonfarmakologis dalam membantu mengurangi keluhan nausea pada pasien gastroenteritis. Edukasi ini dapat dijadikan salah satu intervensi keperawatan mandiri untuk meningkatkan toleransi makan dan membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien selama masa perawatan Introduction: Gastroenteritis is an inflammation of the gastrointestinal tract that often causes complaints of nausea, vomiting, and decreased appetite, which can interfere with meeting the patient's nutritional needs. One non-pharmacological intervention that can be applied is Small Frequent Meals (SFM) education, which involves consuming small portions of food more frequently to reduce the workload of the stomach and help alleviate nausea. Objective: To describe nursing care for a patient with gastroenteritis experiencing the nursing problem of nausea through the implementation of Small Frequent Meals (SFM) education at dr. R. Soedarsono Regional General Hospital, Pasuruan City. Methods: This study employed a case study method using the nursing process approach, which included assessment, diagnosis, intervention, implementation, and evaluation of a patient with gastroenteritis and the nursing problem of nausea. Data were collected through interviews, observation, physical examination, and documentation. The main intervention was SFM education, which was implemented throughout the nursing care process. Results: After three days of nursing care, the patient showed a decrease in the frequency of nausea, a reduced urge to vomit, an improvement in appetite, and the ability to consume food in small but frequent portions according to the SFM principle. Conclusion: The implementation of SFM (Small Frequent Meals) education was effective as a nonpharmacological intervention in helping reduce nausea complaints in patients with gastroenteritis. This education can be used as an independent nursing intervention to improve food tolerance and support the fulfillment of patients' nutritional needs during hospitalization.