Repository Universitas Jember

Digital service that collects, preserves, and distributes digital material. Repositories are important tools for preserving an organization's legacy; they facilitate digital preservation and scholarly communication.

Communities in DSpace

Select a community to browse its collections.

Now showing 1 - 5 of 9

Recent Submissions

  • Item type:Item,
    Kekayaan Jenis Tumbuhan Herba Angiospermae di Taman Hutan Raya Raden Soerjo Dan Pemanfaatannya Dalam Penyusunan Booklet
    (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2018-07-17) Nadya Grace Meidy Respitosari
    Indonesia merupakan negara yang memiliki kekayaan jenis hayati yang sangat tinggi. Salah satu ekosistem dengan keanekaragaman tertinggi adalah hutan hujan tropis. Kepulauan Indonesia, utamanya pulau Jawa masih memiliki kawasan hutan hujan tropis salah satunya terdapat pada kawasan Taman Hutan Raya Raden Soerjo, Jawa Timur. Taman Hutan Raya adalah kawasan pelestarian alam untuk tujuan koleksi tumbuhan dan atau satwa yang alami atau buatan, jensi asli dan atau bukan asli, yang dimanfaatkan bagi kepentingan penelitian, ilmu pengetahuan, pendidikan, menunjang budidaya, budaya, pariwisata dan rekreasi (UU.No.10 tahun 2009). Taman Hutan Raya Raden Soerjo merupakan sebuah kawasan pelestarian alam yang wilayahnya meliputi beberapa kawasan hutan yang berada di dalam kelompok Gunung Arjuno-Lalijiwo, yang meliputi sebagian wilayah kabupaten Mojokerto, Kabupaten Malang, Kabupaten Jombang, Kabupaten Pasuruan dan Kota Batu. Potensi alam yang ada pada Tahura R.Soerjo perlu dikembangkan dan dimanfaatkan untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat melalui upaya konservasi sumber daya alam hayati dan ekosistem yang berkelanjutan. Salah satu keanekaragaman yang perlu dijaga pada kawasan Tahura R.Soerjo adalah komunitas tumbuhan bawah yang berperan penting bagi ekosistem hutan. Salah satu jenis tumbuhan bawah yaitu tumbuhan herba. Berdasarkan hasil wawancara dengan petugas setempat, Tahura R.Soerjo perlu mendapatkan perhatian berkaitan dengan peningkatan kerusakan yang terjadi karena ulah manusia yang kurang bertanggung jawab.
  • Item type:Item,
    Skrining Fitokimia dan Uji Aktivitas Antibakteri Tumbuhan Epifit Liken Parmelia cetrata Ach. terhadap Pseudomonas aeruginosa
    (Fakultas Farmasi, 2018-07-16) Nadya Dini Lestari
    Penyakit infeksi adalah masalah kesehatan yang disebabkan oleh mikroorganisme patogen seperti bakteri. Menurut WHO pada tahun 2016, penyakit infeksi dapat membunuh hampir 9 juta orang tiap tahunnya. Bakteri memiliki kemampuan untuk beradaptasi, sehingga adanya penelitian dan pengembangan agen antibakteri baru tetap penting untuk dilakukan. Skrining aktivitas antibakteri terhadap suatu bahan alam dapat menjadi langkah awal dalam penelitian dan pengembangan agen antibakteri. Skrining aktivitas antibakteri dapat dilakukan dengan fokus terhadap bakteri gram negatif seperti Pseudomonas aeruginosa, karena kebanyakan antibakteri yang dikembangkan saat ini lebih fokus menarget bakteri gram positif. Bakteri gram negatif menjadi tantangan dalam penelitian dan pengembangan antibakteri karena memiliki susunan dinding sel yang kompleks sehingga mempersulit antibakteri masuk dan bekerja dalam sel bakteri. Penemuan agen antibakteri seperti penisilin dari jamur menyebabkan liken sebagai tumbuhan tingkat rendah mulai diteliti potensi aktivitas antibakterinya. Liken merupakan hasil simbiosis antara jamur dan alga atau sianobakteri. Belum terdapat dokumen yang menyatakan estimasi jumlah spesies liken di Indonesia. Penelitian tentang bioaktivitas liken juga masih terbatas di Indonesia, dan cederung fokus kepada liken Usnea spp. dan Stereocaulon spp. Berdasarkan hal tersebut, penelitian tentang aktivitas antibakteri liken Parmelia cetrata Ach. (P. cetrata) terhadap bakteri gram negatif P. aeruginosa dilakukan sebagai bentuk eksplorasi liken dan sebagai referensi dalam menunjang penelitian dan pengembangan antibakteri. Liken P. cetrata pada penelitian ini diekstraksi secara maserasi dengan metanol dan difraksinasi secara partisi cair-cair dengan heksana, diklorometana, etil asetat, dan air. Skrining fitokimia dilakukan terhadap seluruh ekstrak dan fraksi liken dengan metode Kromatografi Lapis Tipis (KLT). Berdasarkan hasil skrining fitokimia, ekstrak metanol mengandung senyawa golongan antrakinon, flavonoid, fenolat, terpenoid atau steroid bebas; fraksi heksana mengandung senyawa golongan antrakinon dan terpenoid atau steroid bebas; fraksi diklorometana mengandung senyawa golongan antrakinon, flavonoid, serta fenolat; dan fraksi etil asetat mengandung senyawa fenolat. Uji aktivitas antibakteri dilakukan terhadap ekstrak dan fraksi liken P. cetrata dengan kontrol positif gentamisin untuk memastikan metode yang dilakukan benar. Uji aktivitas antibakteri pada penelitian ini dilakukan dengan metode mikrodilusi menggunakan microplate-96-well sesuai protokol yang ditetapkan oleh Clinical Laboratory Standard Institue. Pengujian dilakukan menggunakan bakteri Pseudomonas aeruginosa ATCC 27853, dengan suhu inkubasi 37 C dan waktu inkubasi sampel 20 jam. Berdasarkan hasil pengujian aktivitas antibakteri terhadap P. aeruginosa, persentase penghambatan pertumbuhan bakteri oleh gentamisin telah memenuhi rentang yang disyaratkan yakni memiliki konsentrasi hambat minimum (Minimum Inhibitory Concentration/MIC) sebesar 0,5-2 μg/mL. Uji aktivitas antibakteri pada ekstrak dan fraksi menunjukkan bahwa ekstrak metanol liken memiliki IC 1334,248 ± 33,167 μg/mL, fraksi heksana memiliki IC 1171,547 ± 27,083 μg/mL, fraksi diklorometana memiliki IC 50 50 1047,168 ± 28,018 μg/mL, fraksi etil asetat memiliki IC 50 946,621 ± 26,393 μg/mL, dan residu liken memiliki IC 2407,381 ± 204,414 μg/mL. Nilai IC 50 50 terkecil dicapai oleh fraksi etil asetat liken P. cetrata, namun menurut literatur standar nilai IC yang baik pada pengujian senyawa anti-infektif adalah <100 μg/mL sehingga dapat diketahui bahwa ekstrak dan fraksi liken P. cetrata tidak poten dalam menghambat pertumbuhan bakteri P. aeruginosa. 50 o 50
  • Item type:Item,
    Rancangan Meja Dan Kursi Sortasi RSS (Ribbed Smoked Sheet) Yang Ergonomis Menggunakan Pendekatan Anthropometri (Studi Kasus PTPN XII Banjarsari)
    (Fakultas Teknologi Pertanian, 2018-07-17) Nadia Putri Irkhana
    Karet merupakan komoditi ekspor yang mampu memberikan kontribusi didalam upaya peningkatan devisa Indonesia. PTPN XII Banjarsari merupakan salah satu industri yang bergerak dalam pengolahan lateks. Dari keseluruhan tahap pengolahan, pekerja bagian sortasi merupakan pekerja yang paling banyak mengeluhkan ketidaknyaman kerja. Meja sortasi yang tidak terdapat rongga untuk kaki menyebabkan banyak pekerja mengeluh sakit dibagian lutut dan betis. Penelitian ini bertujuan untuk merancang ulang desain kursi dan meja sortasi berdasarkan prinsip anthropometri. Perancangan ulang ditujukan supaya pekerja sortasi dapat bekerja dengan nyaman sehingga keluhan pekerja berkurang, produktivitas dapat meningkat dan mereduksi human error. Metode pengambilan data dilakukan dengan 3 cara yaitu metode wawancara, kuesioner, dan pengukuran langsung. Data anthropometri yang diperoleh kemudian menjadi dasar desain kursi dan meja sortasi yang paling sesuai terhadap postur tubuh pekerja kemudian dilakukan pengujian terhadap keluhan pekerja, produktivitas dan human error. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah dilakukan perancangan ulang, keluhan pekerja sortasi di PTPN XII Banjarsari mengalami penurunan. Produktivitas meningkat menjadi 8,6%. Human error mengalami penurunan, sebelum dilakukan perancangan ulang terjadi sebesar 8,1% dan menurun menjadi 1,9%. Setelah perancangan ulang menggunakan sumber pencahayaan lampu neon LED 8 watt dengan intensitas rata-rata 685 lux yang sudah sesuai dengan standar pencahayaan untuk melakukan pekerjaan yang memerlukan ketelitian.
  • Item type:Item,
    Pengaruh Pemberian MPASI Dini dan Stimulasi Terhadap Gerak Motorik Kasar Pada Bayi Usia 0-6 Bulan (Studi di wilayah kerja Puskesmas Gladakpakem dan Puskesmas Panti Jember)
    (Program Studi Magister Ilmu Kesehatan Masyarakat, 2018-07-02) Mursyida
    Makanan pendamping air susu ibu (MPASI) merupakan makanan dan minuman yang mengandung gizi yang diberikan pada bayi usia 6 bulan sampai 24 bulan guna memenuhi kebutuhan gizinya selain dari ASI (Usmiati, 2015). Pemberian MPASI dini dapat mengakibatkan keterlambatan gerak motorik kasar bayi. Riskesdas (2013) mengemukakan jenis MPASI dini yang banyak diberikan adalah susu formula, madu, kelapa muda, pisang, teh maniss, kopi, air putih, air gula, bubur, nasi, dan air tajin. Faktor yang mempengaruh pemberian MPASI dini antara lain adalah pekerjaan, tingkat pengetahuan, tradisi, tingkat pendidikan, dan pendapatan. Selain pemberian MPASI dini, stimulasi yang diberikan oleh orang tua juga sangat berpengaruh terhadap perkembangan gerak motorik kasar bayi. Stimulasi yang kurang dapat menjadi salah satu faktor keterlambatan perkembangan motorik bayi (Lisbeth et al., 2015). Penelitian yang dilakukan WHO (2006) di enam negara yaitu Brazil, India, Gana, Norwegia, AS, Oman 49, 3 % telah memberikan MPASI dini ( Ahmad, 2008). Hasil Riskesdas 2010 bayi yang mendapatkan ASI dan makanan cair (predominan) sebesar 4,5%, ASI dan MPASI dini (parsial) sebesar 81,54% dan di Jawa Timur (2014) 46% telah mendapatkan MPASI dini. Hasil wawancara dengan staf Dinkes Kabupaten Jember (2017) wilayah Puskesmas Gladakpakem 51% telah memberikan MPASI dini. Peneliti merasa perlu melakukan penelitian tentang pengaruh pemberian MPASI dini dan stimulasi terhadap perkembangan gerak motorik kasar pada bayi usia 0-6 bulan. Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian observasional analitik, teknik pengumpulan data dengan wawancara menggunakan kuisioner, desain penelitian cross sectional. Penelitian dilakukan di wilayah Puskesmas Gladakpakem dan Puskesmas Panti bulan Maret 2017 selesai dengan selesai. Responden penelitian 384 bayi usia 0-6 bulan, 204 responden telah mendapatkan MPASI dini dan kurang mendapatkan stimulasi. Metode sampling dengan purposive sampling. Analisis data diolah menggunakan uji statistik regresi logistik dengan tingkat signifikansi < 0,05. Hasil analisis penelitian menunjukkan faktor – faktor yang berpengaruh terhadap pemberian MPASI dini adalah tingkat pengetahuan (p value 0,000, PR 5,411), pendapatan (p value 0,001 PR 1,626) pekerjaan ibu (p value 0,029 PR 0,820) terhadap pemberian MPASI dini pada bayi usia 0-6 bulan. Faktor yang tidak berpengaruh adalah tradisi (p value 0,993 PR 1,0 x 10 11 ), pendidikan ibu (0,060 PR 1,325. Terdapat pengaruh antara pemberian MPASI dini dan gerak motorik kasar bayi (p value 0,000 PR 1,8). Terdapat pengaruh antara stimulasi terhadap gerak motorik kasar bayi dengan nilai (p value 0,000 PR 2,7) Terdapat pengaruh stimulasi terhadap gerak motorik kasar pada bayi ASI eksklusif dengan nilai (p value 0,000 PR 4,3). Tingkat pengetahuan mempengaruhi orang tua untuk memberikan MPASI dini. Penelitian ini menunjukkan bahwa tingkat pengetahua ibu cukup di karenakan peran bidan dan kader yang selalu rutin melakukan kunjungan dan memberikan penyuluhan tentang ASI eksklusif. Pengetahuan tidak hanya diperoleh dari pendidikan formal akan tetapi juga bisa diperoleh melalui pendidikan nonformal, seperti pengalaman pribadi, media, lingkungan dan penyuluhan kesehatan (Kusmiyati, 2014). Pendapatan orang tua dalam penelitian ini di bawah UMK yang melakukan praktek pemberian MPASI dini. Ibu memberikan MPASI dini berupa susu formula, pisang, pisang dan nasi dengan cara bercocok tanam di lahan sendiri, sehingga meskipun berpenghasilan rendah orang tua masih bisa memberikan makanan yang di peroleh dan di olah sendiri tanpa harus membeli. Pekerjaan ibu dalam penelitian ini sebagian besar bekerja sebagai ibu rumah tangga, penyebab gagalnya pemberian ASI eksklusif adalah karena mereka masih tinggal dengan orang tua atau mertua, jadi ibu tidak dapat mengambil keputusan karena takut menyinggung perasaan dan di anggap melawan nasihat orang tua atau mertua, yang di sebabkan oleh tingkat pengetahuan orang tua atau mertua masih kurang. Tradisi dalam penelitian ini tidak berpengaruh terhadap pemberian MPASI dini, karena orang tua sudah meninggalkan tradisi karena sering memperoleh penyuluhan dari petugas kesehatan dan para kader. Dengan adanya penyuluhan yang sering dilakukan akan meningkatkan tingkat pengetahuan orang tua dan secara perlahan mulai meninggalkan tradisi pemberian MPASI dini. Pendidikan orang tua tidak berpengaruh dalam pemberian MPASI dini karena apapun tingkat pendidikannya asalkan memiliki pengetahuan yang cukup, tidak akan memberikan MPASI dini. Pemberian stimulasi sangat berpengaruh terhadap perkembangan gerak motorik kasar bayi. Bayi yang memperoleh MPASI dini dan kurangnya stimulasi mempunyai resiko lebih besar mengalami keterlambatan gerak motorik kasar. Saran yang dapat diberikan kepada Institusi kesehatan adalah perlu sosialisasi tentang pemberian MPASI dini dan stimulasi terhadap gerak motorik kasar pada bayi untuk meningkatkan tingkat pengetahuan orang tua melalui posyandu, sosialisasi di area pondok pesantren, karang taruna dan sosialisasi menggunakan pamflet yang di sebarkan kepada ibu – ibu dengan bantuan kader. Saran untuk orang tua memahami kebutuhan anak untk merangsang gerak motorik kasar, informasi ini dapat diperoleh dari posyandu media elektronik dan media sosial.
  • Item type:Item,
    Analisis Perbandingan Kinerja Keuangan Bank Umum Syariah BUMN dan Bank Umum Syariah BUSN
    (Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 2018-05-31) Mukhammad Rizal Nurdiansyah
    Di Indonesia terdapat Bank Umum Syariah Milik Negara dan Bank Umum Syariah Swasta Nasional yang telah termasuk dalam Bank Devisa (lalu lintas pembayaran luar negeri) yang telah tercantum dalam pedoman Bank Indonesia (BI). Bank Umum Syariah Milik Negara merupakan bank yang pendirian dan modal sepenuhnya milik Negara dan keuntungannya dimiliki oleh Negara pula. Bank Umum Syariah Swasta merupakan bank yang sebagian besar sahamnya dimiliki oleh Swasta, sehingga keuntungannya menjadi milik Swasta pula. Sebagai salah satu lembaga keuangan, bank perlu menjaga kinerjanya agar dapat beroperasi secara optimal. Kinerja merupakan suatu kondisi yang harus diketahui dan dikonfirmasikan kepada pihak tertentu untuk mengetahui tingkat pencapaian hasil suatu instansi dihubungkan dengan visi yang diemban suatu organisasi atau perusahaan serta mengetahui dampak positif dan negatif dari kebijakan operasional. Sedangkan, kinerja keuangan merupakan gambaran kondisi keuangan bank pada suatu periode tertentu baik yang menyangkut aspek penghimpunan dana maupun penyaluran dana yang biasanya diukur dengan indikator kecukupan modal, likuiditas, dan profitabilitas bank (Jumingan, 2006). Kinerja keuangan adalah gambaran tentang setiap hasil ekonomi yang mampu diraih oleh perusahaan perbankan pada saat periode tertentu melalui aktivitasaktivitas perusahaan untuk menghasilkan keuntungan secara efesien dan efektif, yang dapat diukur perkembangannya dengan mengadakan analisis terhadap datadata keuangan yang tercermin dalam laporan keuangan. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh Bank Umum Syariah BUMN dan Bank Umum Syariah BUSN yang terdaftar di Bank Indonesia. Periode yang digunakan adalah tahun 2010-2016, sampel penelitian ini ada sebanyak 11 bank (3 bank untuk Bank Umum Syariah BUMN dan 8 bank untuk Bank Umum Syariah BUSN). Data yang digunakan adalah data sekunder yang diperoleh dari website resmi perbankan yang bersangkutan. Analisis data dalam penelitian ini adalah uji Independent Sample T-Test dan uji Mann Whitney. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa dari lima rasio keuangan yang digunakan, terdapat satu rasio yang mengalami perbedaan secara signifikan yaitu rasio CAR. Dan tidak terdapat perbedaan yang signifikan pada rasio NPL, BOPO, ROA, LDR Bank Umum Syariah BUMN dan Bank Umum Syariah BUSN.