Repository Universitas Jember
Digital service that collects, preserves, and distributes digital material. Repositories are important tools for preserving an organization's legacy; they facilitate digital preservation and scholarly communication.

Communities in DSpace
Select a community to browse its collections.
- Koleksi Laporan Hasil Pengabdian Masyarakat
- Koleksi Laporan Praktek Kerja Program Diploma
- Koleksi Disertasi Program Doktoral
- Koleksi Laporan hasil penelitian dosen UNEJ
- Koleksi Tesis Program Magister
Recent Submissions
Item type:Item, Pengaruh Metode Sosiodrama dan Pendekatan Manajemen Kelas Modifikasi Perilaku terhadap Kedisiplinan Siswa Kelas IV dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia di SDN Kota Kulon I(Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026-10-21) Putri Raudlatul JannahPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh kombinasi metode sosiodrama dan pendekatan manajemen kelas modifikasi perilaku terhadap peningkatan kedisiplinan peserta didik kelas IV SD. Latar belakang penelitian didasari oleh pentingnya inovasi strategi pembelajaran interaktif yang dapat membentuk karakter disiplin peserta didik secara nyata. Selama ini, pembentukan sikap disiplin di sekolah sering kali hanya disampaikan secara teoretis melalui metode ceramah satu arah, sehingga kurang memberikan ruang bagi peserta didik untuk memahami, merefleksikan, dan menginternalisasi nilai-nilai kedisiplinan ke dalam tindakan sehari-hari. Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan desain eksperimen (Pretest-Posttest Control Group Design). Penelitian ini dilaksanakan selama satu minggu dengan melibatkan 40 peserta didik yang terbagi secara seimbang ke dalam dua kelompok, yaitu 20 peserta didik kelas IV B sebagai kelas eksperimen dan 20 peserta didik kelas IV A sebagai kelas kontrol. Pada kelas eksperimen, intervensi diberikan melalui pementasan sosiodrama yang dipadukan dengan teknik modifikasi perilaku (reward berupa makanan ringan dan stiker apresiasi serta punishment edukatif berupa penempelan stiker pada pipi). Sementara itu, kelas kontrol mendapatkan pembelajaran secara konvensional tanpa adanya intervensi drama maupun teknik modifikasi perilaku. Pengumpulan data dilakukan menggunakan instrumen tes kedisiplinan yang diberikan sebelum intervensi (pre-test) dan sesudah intervensi (post-test). Sebelum dilakukan pengujian hipotesis, seluruh data telah melalui uji prasyarat analisis dan terbukti memenuhi asumsi normalitas, linearitas, multikolinearitas, serta bebas dari gejala heteroskedastisitas. Selanjutnya, pengolahan data akhir dilakukan dengan mengaplikasikan analisis Uji Regresi Linear Berganda untuk mengetahui besarnya pengaruh variabel kemampuan awal dan perlakuan kelas terhadap capaian kedisiplinan peserta didik. Hasil pengujian hipotesis secara simultan (Uji F) membuktikan bahwa variabel metode sosiodrama X1 dan pendekatan manajemen kelas modifikasi perilaku X2 secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap nilai post-test kedisiplinan peserta didik Y. Hal ini ditunjukkan oleh hasil perolehan nilai = 9,965 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05, sehingga H0 ditolak dan Ha diterima. Selain itu, perolehan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,350 mengindikasikan bahwa kombinasi metode sosiodrama dan intervensi pendekatan manajemen kelas modifikasi perilaku memberikan kontribusi pengaruh sebesar 35% terhadap peningkatan kedisiplinan peserta didik, sedangkan 65% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Adapun hasil pengujian hipotesis secara parsial (Uji t) menunjukkan bahwa, pertama variabel metode sosiodrama X1 memberikan pengaruh positif dan signifikan secara parsial terhadap nilai post-test kedisiplinan Y dengan nilai = 4,449 dan nilai signifikansi 0,000 < 0,05 Ha diterima. Kedua, Variabel pendekatan manajemen kelas modifikasi perilaku X2 memperoleh nilai = 1,937 dengan nilai signifikansi 0,060 > 0,05, sehingga secara statistik parsial H0 diterima. Meskipun demikian, model penelitian secara keseluruhan tetap terbukti valid dan efektif karena pengujian secara simultan (Uji F) membuktikan adanya pengaruh yang sangat signifikan = 0,000 serta didukung oleh kenaikan rata-rata skor kelas eksperimen yang lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol. Hasil analisis regresi linear berganda membuktikan bahwa variabel metode sosiodrama (X1) dan pendekatan manajemen kelas modifikasi perilaku (X2) secara bersama-sama berpengaruh signifikan terhadap nilai post-test kedisiplinan peserta didik (Y). Pembuktian ini ditunjukkan oleh hasil Uji F yang memperoleh nilai = 9,965 dengan nilai signifikansi 0,000 < 0,05. Selain itu, perolehan nilai koefisien determinasi R2 sebesar 0,350 mengindikasikan bahwa kombinasi metode sosiodrama dan pendekatan manajemen kelas modifikasi perilaku memberikan kontribusi pengaruh sebesar 35% terhadap peningkatan kedisiplinan peserta didik, sedangkan 65% sisanya dipengaruhi oleh faktor lain di luar model penelitian. Kesimpulan dari penelitian ini menegaskan bahwa penerapan metode sosiodrama yang dikombinasikan dengan teknik modifikasi perilaku jauh lebih efektif dalam meningkatkan kedisiplinan peserta didik dibandingkan penggunaan metode pembelajaran konvensional. Keterlibatan aktif peserta didik dalam melakonkan peran sosial yang dipadukan dengan penguatan perilaku berupa imbalan dan hukuman edukatif terbukti menjadi kunci utama dalam mendorong proses internalisasi nilai-nilai karakter kedisiplinan secara nyata di lingkungan SD.Item type:Item, Hubungan Riwayat Keaktifan dalam Berorganisasi dengan Keterampilan Komunikasi Terapeutik Mahasiswa Profesi Ners Fakultas Keperawatan Universitas Jember(Fakultas Keperawatan, 2025-07-11) Nonica MulyanaMahasiswa keperawatan sebagai calon tenaga kesehatan yang akan memberikan pelayanan langsung kepada pasien dalam pelaksanaannya harus memiliki keterampilan klinis dan keterampilan komunikasi yang baik dimana hal tersebut merupakan dasar utama dalam praktik keperawatan. Keterampilan komunikasi ini dapat diasah melalui pendidikan di kelas selama perkuliahan maupun melalui kegiatan di luar kelas seperti organisasi. Keaktifan dalam berorganisasi sangat menunjang perkembangan kemampuan komunikasi yang dimiliki mahasiswa. Meski demikian, beberapa mahasiswa masih kurang aktif dalam berorganisasi. Hal ini mungkin berdampak pada keterampilan komunikasinya saat praktik klinik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan riwayat keaktifan dalam berorganisasi dengan keterampilan komunikasi terapeutik mahasiswa profesi ners Fakultas Keperawatan Universitas Jember. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif analitik dengan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah total sampling dengan jumlah 200 responden dan diperoleh 171 responden dari mahasiswa profesi ners angkatan 34 dan angkatan 35. Pengumpulan data dilakukan pada 14 – 28 Mei 2025 dengan cara membagikan link gform kuesioner keaktifan dalam berorganisasi dan kuesioner keterampilan komunikasi terapeutik. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan uji Spearman rank untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel dengan nilai p value < 0,05. Hasil penelitian menunjukkan mayoritas mahasiswa memiliki riwayat keaktifan berorganisasi sedang sebanyak 96 responden (56,1%), 41 responden (24%) dengan riwayat keaktifan berorganisasi tinggi, dan sisanya 34 responden (19,9%) dengan riwayat keaktifan berorganisasi rendah. Pada variabel keterampilan komunikasi terapeutik hasil temuan menunjukkan sebagian besar mahasiswa memiliki keterampilan komunikasi terapeutik dalam kategori sedang sebanyak 95 responden (55,6%), 60 responden (35,1%) dengan keterampilan komunikasi terapeutik tinggi, dan sisanya 16 responden (9,4%) dengan keterampilan komunikasi rendah. Hasil uji korelasi Spearman rank diketahui p value = 0,000 dan nilai r = 0,521. Yang artinya terdapat hubungan yang signifikan antara variabel riwayat keaktifan dalam berorganisasi dengan keterampilan komunikasi terapeutik mahasiswa profesi ners Fakultas Keperawatan Universitas Jember. Keeratan hubungan sedang dengan arah positif yang artinya semakin tinggi riwayat keaktifan dalam berorganisasi maka semakin tinggi pula keterampilan komunikasi terapeutik mahasiswa profesi ners. Riwayat keaktifan berorganisasi memberikan dampak baik terhadap keterampilan komunikasi terapeutik. Kesimpulan penelitian ini adalah adanya hubungan yang signifikan antara riwayat keaktifan dalam berorganisasi dengan keterampilan komunikasi terapeutik mahasiswa profesi ners Fakultas Keperawatan Universitas Jember. Maka dari itu, mahasiswa diharapkan dapat meningkatkan dan memahami pentingnya keaktifan dalam berorganisasi mengingat organisasi dapat bermanfaat untuk melatih soft skills, tidak hanya sebatas aktivitas ekstrakurikuler, pengalaman dalam organisasi akan menunjang keterampilan komunikasi mahasiswaItem type:Item, Hubungan STV Triangle (Strategy, Tactic, Value) terhadap Keputusan Pembelian Keripik Kentang di CV Junior Farm(Fakultas Pertanian, 2026-07-30) Maulid Dia Putri SyahroniIndustri makanan dan minuman memberikan kontribusi sebesar 39,10% terhadap PDB industri pengolahan nonmigas dan 6,55% terhadap PDB nasional, dengan pertumbuhan mencapai 4,47% pada 2023, sementara pengeluaran rumah tangga untuk makanan dan minuman jadi meningkat dari 31,19% menjadi 32% , mencerminkan pergeseran pola konsumsi masyarakat ke arah produk olahan siap saji. Provinsi Jawa Timur merupakan sentra kentang terbesar di Indonesia dengan kontribusi 23,76% dari produksi nasional atau 301.874 ton pada 2024, sementara Kabupaten Pasuruan sebagai wilayah penghasil utama menyumbang 143.182 ton atau sekitar 56,7% dari total produksi kentang Provinsi Jawa Timur. Potensi bahan baku ini mendorong berkembangnya agroindustri keripik kentang, salah satunya Kenteto milik CV Junior Farm yang berlokasi di kawasan wisata Gunung Bromo dengan kapasitas panen 40 hingga 50 ton setiap musim panen. Kunjungan wisatawan Bromo menunjukkan tren peningkatan dengan kenaikan sebesar 22,3% pada 2025. Peningkatan jumlah wisatawan belum diikuti dengan kinerja penjualan yang stabil karena pertumbuhan penjualan terus melambat dan mengalami penurunan sebesar 16,7% pada 2024. Fluktuasi ini menunjukkan peluang pasar wisatawan yang besar belum sepenuhnya terkonversi menjadi keputusan pembelian konsumen, sedangkan penelitian terdahulu mengenai STV Triangle umumnya hanya menganalisis satu atau beberapa elemen secara parsial, sehingga penelitian ini mengintegrasikan seluruh sembilan elemen Strategy, Tactic, dan Value Triangle pada objek yang belum pernah diteliti sebelumnya, yaitu agroindustri keripik kentang di kawasan wisata Bromo. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui proses keputusan pembelian konsumen Kenteto dan menganalisis hubungan seluruh elemen STV Triangle dengan keputusan pembelian keripik kentang di CV Junior Farm. Penelitian menggunakan metode survei dengan melibatkan 55 responden yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Analisis data menggunakan analisis deskriptif untuk menggambarkan proses keputusan pembelian dan korelasi Rank Spearman untuk menganalisis hubungan STV Triangle dengan keputusan pembelian pada taraf signifikansi 5% (α = 0,05). Hasil analisis deskriptif menunjukkan bahwa proses keputusan pembelian konsumen Kenteto diawali dengan pengenalan kebutuhan berupa kebutuhan camilan dan oleh-oleh khas daerah. Konsumen kemudian mencari informasi melalui rekomendasi keluarga, teman, dan media sosial, serta mengevaluasi alternatif berdasarkan rasa, harga, dan kemasan. Pada tahap keputusan pembelian, konsumen memperoleh skor rata-rata sebesar 3,93 yang menunjukkan kecenderungan konsumen untuk melakukan pembelian produk Kenteto. Pada hasil tahap terakhir yakni tahap perilaku pascapembelian, konsumen merasa puas dan berniat membeli ulang dengan skor rata-rata tertinggi sebesar 4,16. Hasil analisis Korelasi Rank Spearman menunjukkan bahwa seluruh sembilan elemen STV Triangle memiliki hubungan positif dan signifikan dengan keputusan pembelian. Segmenting memiliki koefisien hubungan sebesar 0,648, targeting sebesar 0,623, positioning sebesar 0,557, selling sebesar 0,665, bauran pemasaran sebesar 0,691, diferensiasi produk sebesar 0,673, brand sebesar 0,609, process sebesar 0,385, dan service sebesar 0,655. Berdasarkan kriteria interpretasi koefisien korelasi, segmenting, targeting, selling, bauran pemasaran, diferensiasi produk, brand, dan service menunjukkan hubungan yang kuat, sedangkan positioning menunjukkan hubungan yang sedang. Process memperoleh koefisien hubungan terendah, tetapi tetap menunjukkan hubungan yang signifikan dengan keputusan pembelian. Temuan tersebut menunjukkan bahwa penerapan STV Triangle yang semakin baik berkaitan dengan semakin tingginya keputusan pembelian konsumen keripik kentang KentetoItem type:Item, Memahami Faktor Penyebab Pencurian Kendaraan Bermotor pada Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Jember(Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 2026-10-22) NatanaelPenelitian ini berangkat dari realitas meningkatnya kebutuhan material individu pada era modern. Pertumbuhan penduduk usia produktif yang cepat tidak diimbangi oleh ketersediaan lapangan kerja, minimnya pembukaan lapangan kerja, tingginya angka pemutusan hubungan kerja, inflasi, serta kelangkaan investasi membuat angka pengangguran terus meningkat serta kesenjangan sosial ekonomi semakin melebar. Akibatnya, sebagian individu yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup secara sah mengambil jalan yang menyimpang, salah satunya dengan melakukan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor. Data awal yang dihimpun peneliti menunjukkan bahwa kasus pencurian lebih banyak dilatarbelakangi oleh unsur sengaja atau kesempatan dibandingkan dengan faktor ekonomi murni. Hal ini bertentangan dengan asumsi umum masyarakat. Karena hal inilah yang menjadi pendorong bagi peneliti untuk melakukan pendalaman tentang faktor-faktor yang menimbulkan niat pelaku secara internal dan eksternal, sekaligus menjadi dasar dari rumusan masalah penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pelaku dalam melakukan pencurian kendaraan bermotor, baik dari faktor internal maupun eksternal, serta mendeskripsikan faktor yang paling dominan di antara keduanya pada warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Jember. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk memahami fenomena kriminologis pada narapidana pelaku curanmor secara mendalam dan holistik. Yang menjadi subjek penelitian adalah Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Jember yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Keabsahan data diuji dengan triangulasi metode untuk membandingkan hasil observasi dengan wawancara, serta menutup kelemahan masing-masing teknik. Hasil dari temuan yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa tindak pidana curanmor tidak muncul dari satu faktor tunggal, tetapi berasal dari rangkaian faktor yang saling terkait satu sama lain. tekanan ekonomi yang mendesak (kondisi menganggur, pendapatan yang minim, tanggungan keluarga, serta beban utang), penyalahgunaan zat terlarang, pengaruh ajakan teman dan lingkungan sosial yang buruk, dan adanya kesempatan serta jaringan penadah yang memudahkan pelaku dalam menjual barang hasil curiannya. Mayoritas dari para pelaku mengakui bahwa tindakan kejahatan yang mereka lakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.Item type:Item, Memahami Faktor Penyebab Pencurian Kendaraan Bermotor pada Warga Binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Jember(Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, 2026-10-22) NatanaelPenelitian ini berangkat dari realitas meningkatnya kebutuhan material individu pada era modern. Pertumbuhan penduduk usia produktif yang cepat tidak diimbangi oleh ketersediaan lapangan kerja, minimnya pembukaan lapangan kerja, tingginya angka pemutusan hubungan kerja, inflasi, serta kelangkaan investasi membuat angka pengangguran terus meningkat serta kesenjangan sosial ekonomi semakin melebar. Akibatnya, sebagian individu yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup secara sah mengambil jalan yang menyimpang, salah satunya dengan melakukan tindak pidana pencurian kendaraan bermotor. Data awal yang dihimpun peneliti menunjukkan bahwa kasus pencurian lebih banyak dilatarbelakangi oleh unsur sengaja atau kesempatan dibandingkan dengan faktor ekonomi murni. Hal ini bertentangan dengan asumsi umum masyarakat. Karena hal inilah yang menjadi pendorong bagi peneliti untuk melakukan pendalaman tentang faktor-faktor yang menimbulkan niat pelaku secara internal dan eksternal, sekaligus menjadi dasar dari rumusan masalah penelitian. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi pelaku dalam melakukan pencurian kendaraan bermotor, baik dari faktor internal maupun eksternal, serta mendeskripsikan faktor yang paling dominan di antara keduanya pada warga binaan Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Jember. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus untuk memahami fenomena kriminologis pada narapidana pelaku curanmor secara mendalam dan holistik. Yang menjadi subjek penelitian adalah Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) Lapas Kelas IIA Jember yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui observasi langsung, wawancara mendalam, dan dokumentasi. Keabsahan data diuji dengan triangulasi metode untuk membandingkan hasil observasi dengan wawancara, serta menutup kelemahan masing-masing teknik. Hasil dari temuan yang dilakukan peneliti menunjukkan bahwa tindak pidana curanmor tidak muncul dari satu faktor tunggal, tetapi berasal dari rangkaian faktor yang saling terkait satu sama lain. tekanan ekonomi yang mendesak (kondisi menganggur, pendapatan yang minim, tanggungan keluarga, serta beban utang), penyalahgunaan zat terlarang, pengaruh ajakan teman dan lingkungan sosial yang buruk, dan adanya kesempatan serta jaringan penadah yang memudahkan pelaku dalam menjual barang hasil curiannya. Mayoritas dari para pelaku mengakui bahwa tindakan kejahatan yang mereka lakukan adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup mereka.
