Repository Universitas Jember
Digital service that collects, preserves, and distributes digital material. Repositories are important tools for preserving an organization's legacy; they facilitate digital preservation and scholarly communication.

Communities in DSpace
Select a community to browse its collections.
- Koleksi Laporan Hasil Pengabdian Masyarakat
- Koleksi Laporan Praktek Kerja Program Diploma
- Koleksi Disertasi Program Doktoral
- Koleksi Laporan hasil penelitian dosen UNEJ
- Koleksi Tesis Program Magister
Recent Submissions
Item type:Item, Implementasi Pengelolaan Limbah Medis Padat di RSUD Dr. Soetomo Surabaya(Fakultas Kesehatan Masyarakat, 2026-09) Rahayu Mulya RamdhaniTata kelola limbah medis padat telah diatur dalam Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 2 Tahun 2023 yang menyatakan bahwa proses pengurangan hingga pengolahan akhir. Menurut data kesehatan nasional pada tahun 2024, hanya sebesar 66% atau 8.907 dari 13.496 fasilitas kesehatan yang menerapkan tata kelola limbah yang sesuai dengan regulasi. Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dr. Soetomo menyediakan berbagai layanan kesehatan yang beragam sehingga data timbulan limbah medis pada tahun 2025, unit pelayanan rawat jalan, rawat inap, dan IGD menjadi unit penyumbang timbulan limbah medis padat yang cukup besar, yaitu masing-masing instalasi mencapai 12.400 kg/bulan, 1.995 kg/bulan, 7.100 kg/bulan. Penelitian ini bertujuan mengetahui gambaran implementasi pengelolaan limbah medis padat di Instalasi Gawat Darurat (IGD), Rawat Inap, dan Rawat Jalan RSUD Dr. Soetomo Surabaya yang sesuai dengan Standar Operasional Prosedur (SOP). Metode penelitian yang dilakukan menggunakan pendekatan kuantitatif desain deskriptif evaluatif yang dilakukan di Irna medik, Irna anak, Irna bedah, Irna obgin, instalasi gawat darurat, instalasi rawat jalan, dan instalasi sanitasi lingkungan. Pengumpulan data menggunakan lembar observasi dan panduan wawacara yang telah melalui uji validitas dan reliabilitas. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa implementasi pengelolaan limbah medis padat di IGD, Instalasi Rawat Inap (Anak, Medik, Bedah Obgin), dan Instalasi Rawat Jalan di RSUD Dr. Soetomo Surabaya termasuk dalam kategori baik, meskipun masih terdapat ketidaksesuaian pada tahap pemilahan, pewadahan, dan pengangkutan. Keberhasilan dalam pengelolaan limbah dapat didukung oleh kompetensi petugas pengelola, ketersediaan sarana dan prasarana yang memadai, metode pengelolaan yang tepat, dan pelaksanaan tahapan pengelolaan yang sesuai prosedur.Item type:Item, Laju Erosi Berdasarkan Penggunaan Lahan pada Desa Curahtakir Kabupaten Jember(Fakultas Pertanian, 2026-07-31) Khisvi Nur AiniPerubahan penggunaan lahan mengubah kerapatan vegetasi dan meningkatkan risiko erosi tanah, khususnya di wilayah pegunungan dengan curah hujan tinggi. Desa Curahtakir, Kecamatan Tempurejo, Kabupaten Jember, memiliki karakteristik penggunaan lahan yang beragam dan medan berlereng yang berkontribusi terhadap variasi tingkat erosi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kerapatan vegetasi dan mengestimasi erosi tanah pada tiga jenis penggunaan lahan: hutan, agroforestri berbasis pepaya, dan lahan kering yang ditanami *Pueraria javanica*. Sebanyak 12 titik pengambilan sampel tanah yang mewakili ketiga sistem penggunaan lahan tersebut diamati antara bulan Oktober 2025 hingga Juli 2026. Kerapatan vegetasi dinilai menggunakan *Normalized Difference Vegetation Index* (NDVI), sedangkan erosi tanah diestimasi menggunakan *Universal Soil Loss Equation* (USLE) dengan mempertimbangkan faktor erosivitas hujan (R), erodibilitas tanah (K), panjang dan kemiringan lereng (LS), pengelolaan tanaman/penutupan lahan (C), dan praktik konservasi (P). Data dianalisis menggunakan uji normalitas Shapiro–Wilk yang dilanjutkan dengan *One-Way Analysis of Variance* (ANOVA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa hutan dan lahan kering dengan *Pueraria javanica* memiliki kerapatan vegetasi yang lebih tinggi dibandingkan agroforestri. Tingkat rata-rata erosi tanah tertinggi tercatat pada agroforestri (556,49 t ha⁻¹ th⁻¹), sedangkan lahan kering dan hutan menunjukkan tingkat erosi yang jauh lebih rendah, masing-masing sebesar 26,22 dan 20,14 t ha⁻¹ th⁻¹. Analisis *One-Way ANOVA* mengungkapkan adanya pengaruh yang signifikan dari penggunaan lahan terhadap erosi tanah (F = 5,384; p = 0,029). Temuan ini mengindikasikan bahwa tutupan vegetasi yang lebih rapat secara efektif mengurangi erosi tanah dan berperan penting dalam mendukung praktik konservasi tanah yang berkelanjutan.Item type:Item, Sebaran Retensi Hara Tanah pada Lahan Sawah Terdegradasi di Empat Kabupaten Jawa Timur(Fakultas Pertanian, 2026-07-31) Fidho Akbar WidyantoLahan sawah merupakan sumber daya penting dalam mendukung ketahanan pangan nasional. Pengelolaan lahan secara intensif yang berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi pengelolaan bahan organik dan konservasi tanah dapat menyebabkan degradasi kimia tanah. Kondisi tersebut mengakibatkan kemampuan tanah dalam mempertahankan dan menyediakan unsur hara bagi tanaman semakin menurun sehingga berpotensi menurunkan produktivitas lahan. Evaluasi retensi hara diperlukan sebagai dasar untuk mengetahui kondisi kesuburan kimia tanah dan mendukung penyusunan strategi pengelolaan lahan sawah secara berkelanjutan. Penelitian ini bertujuan mengetahui kondisi retensi hara pada lahan sawah terdegradasi di Kabupaten Jember, Banyuwangi, Lumajang, dan Situbondo, serta menganalisis pengaruh parameter retensi hara terhadap produktivitas padi dan Indeks Pertanaman (IP). Penelitian menggunakan 174 sampel tanah yang diperoleh secara purposive sampling. Parameter yang dianalisis meliputi pH tanah, Kapasitas Tukar Kation (KTK), C-organik, dan Kejenuhan Basa (KB). Kondisi retensi hara dievaluasi berdasarkan harkat masing-masing parameter, sedangkan pengaruh parameter retensi hara terhadap produktivitas padi dan Indeks Pertanaman dianalisis menggunakan regresi linier berganda. Sebaran kondisi retensi hara dipetakan menggunakan perangkat lunak ArcGIS 10.8. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi retensi hara berbeda pada setiap kabupaten. Kabupaten Jember memiliki kondisi retensi hara terbaik karena didukung oleh nilai pH, C-organik, dan KTK yang relatif lebih tinggi. Kabupaten Situbondo memiliki kondisi retensi hara cukup baik dengan KTK yang tinggi meskipun kandungan C-organik masih rendah. Kabupaten Banyuwangi menunjukkan kondisi retensi hara rendah akibat rendahnya pH, C-organik, dan KTK, sedangkan Kabupaten Lumajang memiliki kondisi retensi hara terendah yang dipengaruhi oleh rendahnya KTK, rendahnya C-organik, serta tingginya kandungan pasir. Analisis regresi menunjukkan bahwa parameter retensi hara secara bersama-sama menjelaskan 44,5% variasi produktivitas padi. C-organik dan kejenuhan basa berpengaruh nyata terhadap produktivitas padi, sedangkan KTK dan pH tidak berpengaruh nyata. Sebaliknya, seluruh parameter retensi hara tidak berpengaruh nyata terhadap Indeks Pertanaman sehingga variasi IP lebih dipengaruhi oleh faktor lain seperti ketersediaan air irigasi, pola tanam, kondisi iklim, dan sistem pengelolaan lahan.Item type:Item, Pengaruh Suhu dan Waktu Pengeringan Terhadap Mutu Fisik dan Kimia Kelopak Bunga Mawar Kering(Fakultas Teknologi Pertanian, 2026-07-29) Inge Dwi Syach PutriSektor pertanian dan hortikultura memiliki peranan penting dalam penyediaan bahan baku bagi berbagai industri, seperti pangan, kosmetik, herbal, hingga aromaterapi. Sektor-sektor ini berfungsi sebagai landasan dalam pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat sekaligus penyedia komoditas bernilai ekonomi yang dapat meningkatkan kesejahteraan petani dan pelaku usaha. Peningkatan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, keamanan pangan, serta keberlanjutan lingkungan turut mendorong peningkatan terhadap produk berbahan alami. Survei Organic Trade Association (OTA) tahun 2024 menunjukkan bahwa generasi Milenial dan Gen Z memiliki minat tinggi terhadap produk organik, regeneratif, dan ramah lingkungan sehingga memacu pertumbuhan pasar global (Cardozo, 2024). Kondisi ini turut mendorong peningkatan kebutuhan terhadap komoditas florikultura, termasuk bunga-bungaan yang memiliki nilai jual dan potensi diversifikasi produk yang luas. Bunga mawar merupakan salah satu komoditas florikultura yang saat ini banyak dimanfaatkan. Mawar merupakan tanaman berkayu abadi yang dikenal sebagai tanaman komersial bernilai ekonomi tinggi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2024 menunjukkan bahwa produksi tanaman mawar pada tahun 2024 di Kota Jember mencapai 232.538 tangkai. Penelitian Aprilia et al. (2025) menjelaskan bahwa pengelolaan dan pemanfaatan bunga mawar masih belum optimal sebab para petani belum banyak melakukan inovasi pengolahan menjadi produk dengan nilai jual yang lebih tinggi. Umumnya, bunga mawar hanya dijual kepada tengkulak atau dipasarkan secara langsung ke pasar untuk keperluan ziarah. Kelopak bunga mawar termasuk bahan yang sangat sensitif terhadap perlakuan pascapanen (suhu, oksidasi, penanganan mekanis).Item type:Item, Optimasi Operasi Kompresor Sentrifugal Multitahap 15-K-103 pada Unit Residue Catalytic Cracking menggunakan Aspen Hysys untuk Meningkatkan Efisiensi Energi(Fakultas Teknik, 2026-07-30) Bintang Langtana SyahniKompresor sentrifugal multitahap 15-K-103 merupakan salah satu peralatan yang mengonsumsi energi cukup besar pada unit Residue Catalytic Cracking (RCC) karena berfungsi menyediakan udara bertekanan untuk proses fluidisasi dan regenerasi katalis. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan model simulasi kompresor 15-K-103 menggunakan Aspen HYSYS V15, mengevaluasi pengaruh tekanan masuk dan temperatur masuk terhadap konsumsi daya kompresor, serta menentukan kondisi operasi yang dapat mengurangi konsumsi energi. Pendekatan simulasi kuantitatif diterapkan menggunakan data operasi sekunder dari penelitian terdahulu di PT Kilang Pertamina Internasional RU VI Balongan. Model yang digunakan merepresentasikan kompresor sentrifugal tiga tahap dengan dua intercooler dan divalidasi menggunakan data operasi aktual. Simulasi Case Study dilakukan dengan memvariasikan tekanan masuk dari 0,50 hingga 1,50 kg/cm² dan temperatur masuk dari 20 hingga 50 °C dengan mempertahankan parameter operasi utama. Hasil penelitian menunjukkan bahwa peningkatan tekanan masuk secara signifikan menurunkan daya kompresor karena rasio tekanan yang diperlukan untuk mencapai tekanan keluar tetap menjadi lebih kecil, sedangkan peningkatan temperatur masuk menyebabkan peningkatan kebutuhan daya. Tekanan masuk sekitar 1,00 kg/cm², yang mendekati tekanan atmosfer, dikombinasikan dengan temperatur masuk yang rendah, diidentifikasi sebagai kondisi operasi yang dapat mengurangi kebutuhan daya. Pada tekanan masuk tahap pertama aktual sebesar 0,90 kg/cm², daya hasil simulasi sebesar 658,8 kW, sedangkan pada tekanan 1,00 kg/cm² daya menurun menjadi 534,9 kW, yang menunjukkan penurunan sebesar 123,9 kW atau 18,8%. Pada operasi kontinu, potensi penghematan energi tahunan diperkirakan mencapai sekitar 1,085 GWh.
