Repository Universitas Jember
Digital service that collects, preserves, and distributes digital material. Repositories are important tools for preserving an organization's legacy; they facilitate digital preservation and scholarly communication.

Communities in DSpace
Select a community to browse its collections.
- Koleksi Laporan Hasil Pengabdian Masyarakat
- Koleksi Laporan Praktek Kerja Program Diploma
- Koleksi Disertasi Program Doktoral
- Koleksi Laporan hasil penelitian dosen UNEJ
- Koleksi Tesis Program Magister
Recent Submissions
Item type:Item, Analisis Pengendalian Kualitas Produk Benih PADI Dengan Pendekatan Model Sqc (Statistical Quality Control) Pada UD. Mayang Srie – Mayang Kabupaten Jember(Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 2018-03-20) Yuangga Rahmad RamadanPerusahaan yang tidak memperhatikan pengendalian kualitas pada produk yang akan di pasarkan, dalam jangka pendek perusahaan tidak perlu mengeluarkan biaya tambahan terkait pengawasan kualitas, akan tetapi dalam jangka panjang perusahaan sulit memasarkan produk dikarenakan tersaingi perusahaan sejenis yang kualitas produknya lebih baik. Jadi peranan pengendalian kualitas produk sangat penting dan berguna bagi perusahaan. Penelitian ini bertujuan Untuk mengetahui apakah ada produk rusak di UD. Mayang Srie dengan menerapkan sistem pengendalian kualitas. Untuk mengetahui apakah jumlah kerusakan produk yang terjadi di UD. Mayang Srie Jember masih berada pada batas toleransi. Untuk mendiskripsikan faktor - faktor apa saja yang menyebabkan kerusakan pada produk yang diproduksi oleh UD. Mayang Srie Jember. Penelitian ini berbasis deskriptif kuantitatif dengan mengambil populasi hasil produksi benih padi selama bulan Oktober, November, Desember 2017 dan sampel penelitian adalah produksi setiap minggu pada bulan Oktober sampai Desember 2017. Analisis yang digunakan adalah (Statistical Quality Control) SQC. Dari hasil analisis menunjukkan Jumlah produksi benih padi UD. Mayang Srie pada bulan Oktober, November, Desember pada tahun 2017 adalah sebanyak 81.968 kg, dengan jumlah produk rusak 3.699,78 kg. Berdasarkan hasil analisis dengan menggunakan alat bantu statistik peta kendali P (P-Chart) dalam pengendalian kualitas produk benih padi diketahui bahwa produk yang mengalami kerusakan masih diluar batas kendali, meskipun kerusakan yang terjadi masih berada di presentase rendah akan tetapi bila dibiarkan akan menimbulkan kerugian oleh UD. Mayang Srie. Dimana 1 titik masih berada dalam batas kendali dan titik-titik origin lain masih berfluktuasi diluar batas kendali atas (UCL) yaitu 0,0528 dan batas kendali bawah (LCL) yaitu 0,0374 yang artinya dapat beresiko bagi perusahaan terkait. Oleh sebab itu diperlukan analisis lebih lanjut untuk mengetahui faktor penyebab dari penyimpangan ini dengan menggunakan diagram sebab akibat yang kemudian dari hasil diagram sebab akibat akan dibuat rekomondasi perbaikan sebagai bahan pertimbangan untuk produksi benih padi UD. Mayang Srie dimasa yang akan datang guna untuk terus meningkatkan kualitas produksi dan meminimalkan timbulnya kerusakan yang sama yang terjadi di UD. Mayang Srie. Hasil analisis menggunakan diagram sebab akibat diketahui faktor-faktor penyebab kerusakan dalam proses produksi benih padi adalah manusia (Man), lingkungan kerja (Environment), metode (Method), mesin.Item type:Item, Hubungan Lama Mengidap Kusta dengan Tingkat Depresi pada Pasien di Rumah Sakit Kusta Sumberglagah Kabupaten Mojokerto(Fakultas Kedokteran, 2018-03-06) Widya Ayu Putri MaharaniKusta merupakan suatu penyakit infeksi kronik yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae yang bersifat interselular obligat yang menyerang kulit, mukosa (mulut), mata, saluran pernafasan atas dan saraf, kecuali saraf pusat. WHO pada tahun 2011 menyebutkan bahwa Indonesia menempati peringkat ketiga di dunia dengan jumlah kasus kusta terbanyak setelah India dan Brazil dan masih memiliki prevalensi yang tinggi di Indonesia yang menyebabkan penyakit ini menjadi salah satu masalah kesehatan nasional. Pada pasien yang sudah terdeteksi mengidap kusta dan muncul gejala-gejalanya tentu akan mengalami halangan dalam menjalani kehidupan bermasyarakat untuk memenuhi kebutuhan hidup alamiahnya. Hal ini disebabkan karena stigma negatif mengenai penyakit kusta masih melekat erat di benak masyarakat. Adanya stigma negatif dan terjadinya penurunan kualitas hidup penderita kusta akan berkesinambungan dengan munculnya masalah psikis yang lebih parah, salah satunya depresi. Depresi merupakan satu masa terganggunya fungsi manusia yang berkaitan dengan alam perasaan yang sedih dan gejala penyertanya, termasuk perubahan pola tidur dan nafsu makan, psikomotor, konsentrasi, anhedonia, kelelahan, rasa putus asa dan tidak berdaya, serta rasa ingin bunuh diri. Beberapa penelitian menyebutkan bahwa resiko mengalami depresi akan meningkat sebesar 2,6 kali lipat pada orang yang memiliki suatu penyakit kronis dan tingkat depresi akan lebih tinggi pada penderita kusta daripada masyarakat umum akibat dari stigma negatif yang disebabkan oleh kusta. Hal ini mendasari penulis untuk melakukan penelitian tentang hubungan lama mengidap kusta dengan tingkat depresi pada pasien di Rumah Sakit Kusta Sumberglagah Kabupaten Mojokerto. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan lama mengidap kusta dengan tingkat depresi pada pasien. Manfaat dari penelitian ini adalah dapat memberikan informasi pada pasien kusta agar lebih memperhatikan kondisi psikologisnya yang muncul akibat stigma negatif dari masyarakat dan keterbatasan yang muncul karena penyakit kusta serta sebagai bahan pertimbangan perlunya perawatan intensif antara bidang penyakit kulit dan psikiatri. Jenis penelitian ini adalah analitik observasional dengan desain penelitian cross sectional. Sampel adalah 60 orang pasien yang telah terdiagnosis Kusta di Rumah Sakit Kusta Sumberglagah Kabupaten Mojokerto yang memenuhi kriteria inklusi dan eksklusi. Pengambilan sampel menggunakan teknik purposive sampling. Kriteria inklusi sampel adalah berusia 18-80 tahun dan terdaftar sebagai pasien kusta di Rumah Sakit Kusta Sumberglagah Kabupaten Mojokerto. Sedangkan kriteria ekslusi sampel adalah tidak menyelesaikan proses interview atau pengisian kuesioner, dan menderita depresi sangat berat dan/atau gangguan jiwa berat. Penelitian ini dilakukan di Poli Rawat Jalan Ruang Melati Rumah Sakit Kusta Sumberglagah Kabupaten Mojokerto pada bulan Juli 2017 dalam kurun waktu 1 (satu) minggu.Item type:Item, Pengaturan Penyaluran Bahan Bakar Minyak Jenis Tertentu DI Indonesia(Fakultas Hukum, 2018-03-21) Widia AndrianiItem type:Item, Optimasi Proporsi Cera Alba dan Etil Selulosa dalam Mikroenkapsulasi Vitamin C dengan Metode Melt Dispersion(Fakultas Farmasi, 2018-03-28) Vinsensia Meykarlina PoerbaVitamin C dengan nama lain asam askorbat adalah vitamin yang larut dalam air. Vitamin C merupakan komponen esensial dalam pembentukan kolagen, penyembuhan luka, kesehatan sistem kekebalan tubuh dan sistem saraf, serta sebagai antioksidan untuk membantu mencegah penyakit. Vitamin C merupakan antioksidan yang paling banyak digunakan dan masih terus diteliti karena memiliki masalah stabilitas. Vitamin C merupakan antioksidan yang efisien, namun sangat tidak stabil dan mudah terdegradasi. Vitamin C relatif stabil dalam bentuk serbuk tetapi stabilitasnya akan turun ketika dilarutkan dalam air. Faktor lingkungan seperti cahaya, temperatur, pH, oksigen, ion logam, sinar UV, dan sinar X juga dapat mempengaruhi stabilitasnya. Stabilitas vitamin C akan menurun karena mengalami oksidasi sehingga menyebabkan penurunan konsentrasi vitamin C, sehingga dapat mengakibatkan hilangnya seluruh bioaktivitas vitamin C. Mikrokapsul adalah bahan padat yang terdiri dari cangkang padat yang mengandung zat cair, padat, atau setengah padat. Mikrokapsul merupakan hasil dari proses mikroenkapsulasi. Mikroenkapsulasi didefinisikan sebagai teknologi pengemasan bahan padat, cair, atau gas dalam ukuran kecil, dibungkus oleh cangkang yang dapat meningkatkan stabilitas bahan inti dan melepaskan bahan inti dengan laju terkontrol di bawah kondisi spesifik. Mikroenkapsulasi vitamin C memiliki beberapa manfaat seperti meningkatkan stabilitas vitamin C selama preparasi dan penyimpanan, menjaga vitamin C terhadap reaksi yang tidak diinginkan dengan bahan lain dalam suatu sediaan yang dapat menurunkan kualitas sediaan, menutupi rasa asam vitamin C, meningkatkan bioavailabilitas vitamin C serta mengontrol pelepasannya sehingga mengurangi terjadinya iritasi terhadap lambung, dan meningkatkan sifat alir vitamin C. TerdapatItem type:Item, Faktor yang Berhubungan dengan Proses Pengambilan Keputusan dalam Kepesertaan Jaminan Kesehatan Nasional pada Petani di Wilayah Kerja Puskesmas Lojejer Jember Tahun 2017(Fakultas Kesehatan Masyarakat, 2018-03-06) Venty Arum ValentineBerdasarkan Undang-Undang No.40 tahun 2004 menyatakan bahwa jaminan sosial wajib bagi seluruh penduduk termasuk Jaminan Kesehatan Nasional (JKN). Data yang diperoleh dari BPJS Kesehatan Kab. Jember- Lumajang per 1 Oktober 2017, jumlah peserta terendah yaitu berada di kategori PBPU sebesar 8,32%. Menurut Dinas Kesehatan Kab. Jember tahun 2017 jumlah kepesertaan terendah pada kategori Non PBI yaitu Puskesmas Lojejer sebesar 0,74% dari 58.756 penduduk. Puskesmas Lojejer memiliki jumlah mata pencaharian tertinggi adalah petani yaitu 28,35% dari 55.393 penduduk. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor apa sajakah yang berhubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam kepesertaan JKN pada petani di wilayah kerja Puskesmas Lojejer Jember Tahun 2017. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Populasi dalam penelitian ini adalah petani yang sudah menjadi peserta JKN maupun tidak menjadi peserta, dengan jumlah 96 orang. Pengambilan sampel dengan menggunakan teknik multistage random sampling. Analisis penelitian ini menggunakan uji korelasi Chi Square dengan tingkat kepercayaan 95%. Hasil uji analisis diperoleh bahwa yang memiliki hubungan dengan proses pengambilan keputusan adalah status perkawinan (pvalue = 0,007), pendidikan (p-value = 0,003), pengetahuan (p-value = 0,001), kelompok referensi (p-value = 0,001) dan sumber informasi (p-value 0,011). Hasil uji analisis yang tidak terdapat hubungan yaitu umur (p-value = 0,076), jenis kelamin (p-value 0,281) dan penghasilan (p-value = 0,650). Faktor tersebut mempunyai peranan penting dan saling keterkaitan dalam pengambilan keputusan viii karena melalui faktor-faktor tersebut masyarakat dapat mengetahui keputusan apa yang akan diambil setelah mengetahui masalah/kebutuhannya. Kesimpulan hasil penelitian ini adalah ada hubungan antara kondisi demografis dengan proses pengambilan keputusan dalam kepesertaan JKN pada petani kecuali faktor umur, jenis kelamin dan penghasilan. Untuk kondisi sosial dua faktor yaitu faktor kelompok referensi dan sumber informasi, semua ada hubungan dengan proses pengambilan keputusan dalam kepesertaan JKN pada petani. Saran bagi BPJS Kesehatan agar bisa melakukan kerjasama dengan para perangkat desa, kader ataupun tokoh masyarakat yang sudah mengikuti BPJS Kesehatan sebagai fasilitator atau pemicu untuk mendorong masyarakat dalam mengikuti program BPJS Kesehatan.
