Repository Universitas Jember
Digital service that collects, preserves, and distributes digital material. Repositories are important tools for preserving an organization's legacy; they facilitate digital preservation and scholarly communication.

Communities in DSpace
Select a community to browse its collections.
- Koleksi Laporan Hasil Pengabdian Masyarakat
- Koleksi Laporan Praktek Kerja Program Diploma
- Koleksi Disertasi Program Doktoral
- Koleksi Laporan hasil penelitian dosen UNEJ
- Koleksi Tesis Program Magister
Recent Submissions
Item type:Item, Pengaruh Karakteristik ENSO (El Niño–Southern Oscillation) terhadap Curah Hujan di Kabupaten Nganjuk(Fakultas Pertanian, 2026-06-30) Firda Mareta AndrianiPenelitian ini bertujuan untuk menganalisis karakteristik curah hujan di Kabupaten Nganjuk pada fase normal, fase La Niña, dan fase El Niño selama periode sepuluh tahun (2013–2022). Metode penelitian menggunakan analisis kuantitatif dengan memanfaatkan data curah hujan sekunder dari 45 stasiun penakar hujan di Kabupaten Nganjuk, serta data indeks Oceanic Niño Index (ONI) dari NOAA. Analisis hubungan statistik menggunakan uji korelasi Spearman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fenomena ENSO berpengaruh nyata terhadap variabilitas curah hujan di Kabupaten Nganjuk, di mana fase El Niño memicu penurunan curah hujan, sementara fase La Niña memicu peningkatan curah hujan. Selama periode pengamatan, kondisi ENSO normal/netral paling stabil terjadi pada tahun 2013 dengan anomali suhu muka laut (SST) berkisar antara −0,4 °C hingga −0,2 °C, menghasilkan pola hujan musiman yang stabil. Fase El Niño terkuat tercatat pada periode 2015–2016 dengan nilai ONI mencapai +2,6 (kategori sangat kuat), yang diperparah oleh fenomena IOD positif sehingga mengakibatkan kekeringan meteorologis yang parah. Sebaliknya, fase La Niña terlama terjadi pada periode 2020–2022 (triple-dip La Niña) yang menyebabkan musim hujan berlangsung lebih panjang dan meningkatkan risiko banjir. Hasil uji korelasi Spearman secara umum menunjukkan hubungan negatif antara ONI dan curah hujan lokal. Terdapat 14 stasiun hujan yang memiliki hubungan signifikan pada taraf signifikansi 0,05, antara lain Stasiun Tempuran, Bangle, Sumber Kepuh, Gondang, Sawahan, Sekar Pundak, Gunung Krikil, Sumber Sono, Dingin, Ngasem, Sumber Kemiri, Sumber Soko, Ngudikan, dan Glatik. Stasiun Ngasem menunjukkan nilai korelasi tertinggi sebesar −0,212 dikuti Stasiun Gondang sebesar −0,206. Tingginya sensitivitas di wilayah Ngasem dipengaruhi oleh posisi geografisnya yang berada pada kawasan dataran monsunal terbuka di bawah pengaruh topografi Pegunungan Wilis, serta minimnya gangguan hujan orografis lokal yang kompleks.Item type:Item, Uji Aktivitas Antibakteri Fraksi Metanol Liken dari Daerah Hutan Pelangi, Bondowoso terhadap Staphylococcus aureus dan Karakterisasi Senyawa Berdasarkan Pendekatan Metabolomik(Fakultas Farmasi, 2026-07-24) Elok Zakiya AzzahroInfeksi bakteri masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas global, dengan S. aureus sebagai salah satu patogen resisten yang paling banyak menimbulkan kematian. Penggunaan antibakteri yang masif memicu resistensi bakteri, sehingga eksplorasi antibakteri alami menjadi penting. Liken yang merupakan organisme simbiosis jamur dan alga berpotensi sebagai sumber antibakteri baru karena mengandung ratusan metabolit sekunder bioaktif. Penelitian ini berfokus pada liken yang dikumpulkan dari Hutan Pelangi, Bondowoso, Jawa Timur, dengan pendekatan metabolomik untuk menghubungkan profil metabolit fraksi metanol liken dengan aktivitas antibakterinya terhadap S. aureus. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil metabolit fraksi metanol liken menggunakan HPLC, mengetahui persentase penghambatan bakteri S. aureus pada konsentrasi 100 µg/mL, menganalisis hubungan profil metabolit dan aktivitas antibakteri melalui analisis multivariat PCA dan OPLS-DA, serta melakukan karakterisasi dan validasi in silico senyawa target berdasarkan hasil HR-MS. Penelitian eksperimental ini dilaksanakan di beberapa laboratorium Universitas Jember, Universitas Ma Chung, dan BRIN sejak Juli 2025. Empat spesies liken (P. crinitum, T. flavicans, P. reticulatum, dan P. perlatum) dikumpulkan dan diekstraksi dengan metode maserasi menggunakan metanol, kemudian difraksinasi cair-cair dengan heksana untuk memperoleh fraksi metanol. Aktivitas antibakteri diuji dengan metode mikrodilusi konsentrasi tunggal (100 µg/mL) mengacu protokol CLSI 2020, menggunakan gentamisin sebagai kontrol positif dan DMSO 1% sebagai kontrol negatif. Profil metabolit dianalisis dengan HPLC fase terbalik dan data kromatogram yang diperolah dianalisis multivariat PCA dan OPLS-DA untuk mengaitkan waktu retensi tertentu dengan aktivitas antibakteri. Target puncak kromatogram selanjutnya dikarakterisasi dengan HRMS untuk identifikasi senyawa, dilanjutkan validasi in silico melalui penambatan molekuler terhadap tiga protein target bakteri (MetAP1, DHFR, GyrB) serta uji kelayakan obat berdasarkan Lipinski Rule of Five dan Veber Rule. Keempat spesies liken menunjukkan persentase penghambatan S. aureus bervariasi antara 7 – 106%. P. crinitum (Ach.) M.Choisy menunjukkan aktivitas terkuat (rata-rata 106%, setara gentamisin), diikuti P. perlatum perlatum (Huds.) M.Choisy (43,7%), T. flavicans (Sw.) Norman (15,1%), P. reticulatum (Taylor) M.Choisy (7,3%, aktivitas lemah). Analisis OPLS-DA berhasil membentuk model clustering yang baik (Q² > 0,5) antara profil metabolit dan kelas aktivitas antibakteri (poten, sedang, menengah), mengidentifikasi puncak kromatogram pada waktu retensi 19,6–20,0 menit sebagai kontributor utama aktivitas pada spesies poten. Karakterisasi HR-MS pada fraksi puncak kromatogram tersebut mendeteksi 161 senyawa, terdiri dari 12 metabolit primer, 35 metabolit sekunder, dan sisanya kontaminan. Setelah penelusuran literatur, senyawa fenolik 3,5-di-tert-butilkatekol diduga bertanggung jawab atas aktivitas antibakteri. Validasi in silico menunjukkan senyawa ini memiliki afinitas ikatan lebih baik daripada kontrol positif terhadap protein 1QXY (MetAP1) sebesar -6,9 kkal/mol, meski sedikit lebih rendah dibanding kontrol pada protein 3SQY dan 3U2D. Senyawa ini juga memenuhi seluruh kriteria Lipinski Rule of Five dan Veber Rule, menunjukkan potensi baik sebagai kandidat obat oral. Fraksi metanol liken dari Hutan Pelangi, Bondowoso terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap S. aureus dengan tingkat yang bervariasi. Pendekatan metabolomik berbasis PCA dan OPLS-DA berhasil menghubungkan profil metabolit dengan aktivitas biologis dan mengarah pada identifikasi senyawa 3,5-ditert-butilkatekol sebagai kandidat antibakteri potensial, yang didukung hasil validasi in silico yang menjanjikan. Penelitian menyarankan pengujian MIC lebih lanjut serta validasi menggunakan isolat murni senyawa tersebut.Item type:Item, Interpretasi Pola dan Sifat Limpasan dari Parameter Fisik Sub-DAS Pengarengan Menggunakan Citra Satelit(Fakultas Teknik, 2026-07-28) JEREMY I. SIHITEDaerah Aliran Sungai (DAS) memerlukan data topografi yang akurat untuk mendukung analisis hidrologi, terutama dalam penyusunan Hidrograf Satuan Sintetik (HSS) sebagai dasar estimasi debit banjir rancangan pada wilayah dengan keterbatasan data debit terukur. Penelitian ini bertujuan untuk menginterpretasikan pola dan sifat limpasan di Sub-DAS Pengarengan, Kabupaten Jember, menggunakan metode HSS Nakayasu berdasarkan pengaruh variasi citra satelit Digital Elevation Model (DEM), yaitu SRTM, Copernicus DEM, dan NASADEM, pada resolusi asli serta hasil resampling 10 m, 20 m, dan 30 m. Delineasi batas DAS dan jaringan sungai dilakukan menggunakan perangkat lunak Watershed Modeling System (WMS), kemudian divalidasi terhadap data tracking GPS Garmin 78s di lapangan menggunakan analisis Root Mean Square Error (RMSE) mengacu pada Peraturan Kepala BIG No. 15 Tahun 2014. Parameter fisik DAS yang diperoleh selanjutnya digunakan untuk menyusun HSS Nakayasu dan hidrograf limpasan berdasarkan hujan efektif hasil distribusi Mononobe, serta divalidasi terhadap debit puncak observasi menggunakan metode Percentage Error in Peak Flow (PEPF). Hasil penelitian menunjukkan bahwa citra SRTM memberikan ketelitian spasial horizontal terbaik pada sebagian besar klaster resolusi, sementara parameter fisik makro DAS (luas dan kemiringan) relatif stabil terhadap variasi DEM, berbeda dengan parameter panjang sungai utama yang sensitif terhadap resolusi. Nilai debit puncak HSS Nakayasu pada seluruh skenario tetap berada pada rentang yang sempit (4,46–4,58 m³/dtk untuk hujan satuan 1 mm), dengan parameter alfa terbaik sebesar 1,5 yang mencerminkan karakter hidrograf tanggap cepat. Validasi terhadap debit observasi (41,932 m³/dtk) menunjukkan seluruh 12 skenario DEM tergolong kinerja Sangat Baik (PEPF < 15%), dengan akurasi tertinggi diperoleh pada COPERNICUS resolusi 10 meter (kesalahan 0,46%). Penelitian ini merekomendasikan penggunaan SRTM untuk keperluan delineasi spasial dan NASADEM resolusi asli untuk estimasi debit puncak banjir rancangan di Sub-DAS Pengarengan.Item type:Item, Preferensi Konsumen dan Willingness to Pay Beras Hitam Organik PT Sirtanio Organik Indonesia di Kabupaten Banyuwangi(Fakultas Pertanian, 2026-07-31) Dimas Fatikhuz ZakiyBeras organik merupakan beras yang dihasilkan melalui sistem budidaya tanpa menggunakan pupuk dan pestisida kimia, sehingga lebih aman untuk dikonsumsi. Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan mendorong mereka untuk lebih selektif dalam memilih beras yang akan dikonsumsi, salah satunya beras hitam organik PT. Sirtanio Organik Indonesia. Kandungan antosianin pada beras hitam enam kali lebih tinggi dari varietas beras lainnya. Antosianin memiliki banyak efek bagi kesehatan yakni sebagai antioksidan, memperlambat pertumbuhan dan penyebaran sel kanker, kardiovaskular, stress oksidasi, komplikasi diabetes, serta penyakit degenerative lainnya. Hal ini menjadi peluang yang baik untuk PT Sirtanio Organik Indonesia. Akan tetapi, penjualan beras hitam organik menghadapi tantangan berupa persepsi konsumen yang menganggap beras hitam sebagai ketan hitam dan persepsi terhadap harga beras organik yang mahal Rp43.500/Kg. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk mengetahui prefernsi konsumen dan nilai kesediaan membayar konsumen beras hitam organik. Metode yang digunakan yakni deskriptif analitik dengan lokasi penelitian di PT. Sirtanio Organik Indonesia, Desa Sumberbaru, Kecamatan Singonjuruh, Kabupaten Banyuwangi. Data yang digunakan terdiri dari data primer yang diperoleh melalui wawancara, observasi, dan dokumentasi, serta data sekunder yang berasal dari berbagai literatur dan instansi terkait. Analisis preferensi konsumen beras hitam organik PT. Sirtanio Organik Indonesia dilakukan menggunakan analisis multiatribut fishbein. Analisis kesediaan membayar konsumen beras hitam organik PT. Sirtanio Organik Indonesia dilakukan menggunakan analisis contingent valuation method (CVM). Sementara itu, analisis faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan membayar beras hitam organik PT. Sirtanio Organik Indonesia dilakukan menggunakan analisis regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 1) Sikap konsumen terhadap atribut beras hitam organik PT. Sirtanio Organik Indonesia adalah positif (102,03) dengan atribut produk yang paling dipertimbangkan adalah kandungan gizi (19,94). 2) Nilai rata-rata kesediaan membayar konsumen beras hitam organik PT. Sirtanio Organik Indonesia adalah Rp43.900/Kg, nilai ini lebih besar dibandingkan harga yang telah ditetapkan PT. Sirtanio Organik Indonesia yaitu Rp43.500/Kg sehingga didapatkan surplus konsumen sebesar Rp400. 3) Faktor-faktor yang mempengaruhi kesediaan membayar konsumen beras hitam organik PT. Sirtanio Organik Indonesia pada tingkat kepercayaan 90% adalah pendapatan dengan nilai signifikansi (0,058) dan jumlah anggota keluarga dengan nilai signifikansi (0,044). Sementara itu, untuk tingkat kepercayaan 85% adalah persepsi terhadap harga dengan nilai signifikansi (0,132).Item type:Item, Analisis Faktor-Faktor Penentu Kapasitas Produksi pada Industri Pengolahan Edamame Crispy (Studi Kasus: Kampung Edamame Jember)(Fakultas Teknologi Pertanian, 2026-07-31) Hirzi RaufiKampung Edamame merupakan agroindustri di Desa Klompangan, Kecamatan Ajung, Kabupaten Jember, yang mengolah edamame segar menjadi produk unggulan edamame crispy. Permintaan produk ini terus meningkat, namun kapasitas produksi harian masih terbatas pada sekitar 60 kg bahan baku melalui tiga siklus penggorengan menggunakan satu unit mesin vacuum frying, sehingga timbul ketidaksesuaian antara kapasitas produksi aktual dengan permintaan pasar yang berisiko memicu inefisiensi operasional atau pemborosan biaya. Oleh karena itu, diperlukan perencanaan dan analisis faktor-faktor yang memengaruhi kapasitas produksi agar efisiensi pengolahan edamame crispy dapat ditingkatkan secara terukur. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi kapasitas produksi edamame crispy di Kampung Edamame, menganalisis hubungan struktural antar-faktor untuk memperoleh struktur hierarki, serta menentukan kombinasi jumlah produksi yang optimal berdasarkan keterbatasan sumber daya. Data primer diperoleh dari observasi, wawancara, dan kuesioner terhadap tiga orang pakar (pimpinan, koordinator produksi, dan bagian pemasaran) yang dipilih secara purposive sampling, sedangkan data sekunder berasal dari data produksi, data permintaan, dan jurnal ilmiah. Analisis data dilakukan dengan mengintegrasikan metode Interpretive Structural Modeling (ISM) untuk memetakan hubungan kausalitas dan menentukan faktor kunci, serta Fuzzy linear programming (FLP) untuk mengoptimalkan alokasi kombinasi jumlah produksi varian kemasan 100 gram (𝑋1) dan 500 gram (𝑋2) dengan mempertimbangkan toleransi sumber daya serta pembatasan permintaan pasar. Hasil identifikasi memperoleh 12 faktor yang memengaruhi kapasitas produksi. Melalui analisis ISM, empat faktor ditetapkan sebagai faktor kunci pada sektor independent (Sektor IV) dengan daya dorong (Driver Power) tertinggi dan ketergantungan (Dependence) terendah, yaitu ketersediaan bahan baku, kualitas bahan baku, kapasitas mesin vacuum frying, dan jumlah tenaga kerja produksi, sedangkan faktor operasional lainnya seperti penjadwalan produksi dan kapasitas produksi harian berada pada sektor dependent. Selanjutnya, keempat faktor kunci tersebut diterjemahkan menjadi fungsi kendala dalam model FLP. Hasil optimasi FLP menghasilkan alokasi produksi optimal sebesar 2.547,03 kemasan ukuran 100 gram dan 360 kemasan ukuran 500 gram atau setara dengan 434,70 kg/bulan, yang mampu memenuhi sekitar 99,93% dari total permintaan pasar (435 kg/bulan) dengan tingkat kepuasan fuzzy (𝜆) sebesar 0,9191 (91,91%). Hasil ini terbukti lebih efektif dan efisien dibandingkan kondisi normal (431,33 kg/bulan) maupun kondisi toleransi penuh (465,55 kg/bulan) tanpa memicu risiko produksi berlebih (overproduction). Berdasarkan hasil tersebut, disusun rekomendasi perbaikan secara bertahap: jangka pendek (0–6 bulan) berupa penjaminan pasokan dan mutu bahan baku melalui kesepakatan tertulis dengan mitra tani, jangka menengah (6–12 bulan) berupa pelaksanaan preventive maintenance rutin mesin vacuum frying serta pengaturan jam kerja tenaga kerja efektif, dan jangka panjang (>12 bulan) berupa evaluasi berkala serta pemanfaatan fleksibilitas kapasitas sebelum melakukan penambahan unit mesin baru. Penelitian ini menyimpulkan bahwa peningkatan efisiensi pengolahan edamame crispy di Kampung Edamame perlu diawali dengan penguatan pada keempat faktor kunci di tingkat dasar operasional secara terintegrasi. Penelitian selanjutnya disarankan mengombinasikan metode ISM-FLP dengan simulasi sistem atau metode optimasi dinamis serta memasukkan variabel biaya produksi dan fluktuasi harga bahan baku.
