Repository Universitas Jember

Digital service that collects, preserves, and distributes digital material. Repositories are important tools for preserving an organization's legacy; they facilitate digital preservation and scholarly communication.

Communities in DSpace

Select a community to browse its collections.

Now showing 1 - 5 of 9

Recent Submissions

  • Item type:Item,
    Daya Terima dan Sisa Sayur pada Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 04 Jember
    (Fakultas Kesehatan Masyarakat, 2026-09-01) Tifani Engelina
    Daya Terima dan Sisa Sayur pada Program MBG di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 04 Jember; Tifani Engelina; 222110101027; 2026; 40 halaman; Peminatan Gizi Masyarakat; Program Studi Kesehatan Masyarakat; Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Jember. Konsumsi sayur pada anak usia sekolah di Indonesia masih tergolong rendah, padahal sayur merupakan sumber vitamin, mineral, dan serat yang berperan penting dalam pertumbuhan dan perkembangan anak. Pemerintah melaksanakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya meningkatkan status gizi peserta didik melalui penyediaan makanan bergizi seimbang, termasuk menu sayur. Namun, keberhasilan program tidak hanya bergantung pada ketersediaan makanan, tetapi juga dipengaruhi oleh daya terima siswa terhadap menu yang disajikan. Rendahnya daya terima dapat menyebabkan tingginya sisa makanan sehingga asupan zat gizi yang diterima siswa menjadi tidak optimal. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menggambarkan daya terima dan sisa sayur pada Program MBG di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 04 Jember. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik siswa penerima Program MBG, menggambarkan daya terima menu sayur berdasarkan aspek warna, tekstur, aroma, dan rasa, serta mengetahui sisa sayur yang dihasilkan selama pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis. Penelitian menggunakan desain kuantitatif deskriptif dengan pendekatan cross sectional. Penelitian dilaksanakan di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 04 Jember pada minggu pertama bulan Mei 2026. Sampel penelitian berjumlah 86 siswa yang dipilih menggunakan teknik Proportionate Stratified Random Sampling. Data daya terima diperoleh menggunakan kuesioner uji hedonik dengan empat aspek penilaian, yaitu warna, tekstur, aroma, dan rasa, sedangkan sisa sayur diukur menggunakan metode Visual Comstock. Data dianalisis secara univariat dan disajikan dalam bentuk distribusi frekuensi, persentase, dan uraian deskriptif. Penelitian ini telah memperoleh persetujuan etik dengan nomor sertifikat . 633/KEPK/FKM-UNEJ/IV/2026. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 8 tahun dan mayoritas berjenis kelamin perempuan. Penilaian daya terimavi menunjukkan bahwa warna merupakan aspek yang paling disukai dibandingkan tekstur, aroma, dan rasa. Daya terima tertinggi terdapat pada sayur wortel menu tumis sayur di hari pertama dengan rerata 56,69% (kategori cukup), sedangkan daya terima terendah terdapat pada sayur pakcoy hari kedua dengan rerata 45,64% (kategori kurang). Secara keseluruhan, daya terima seluruh menu sayur masih tergolong rendah dengan rerata berkisar 45,64%–56,69%. Hasil pengukuran sisa sayur menunjukkan bahwa seluruh menu sayur memiliki persentase sisa yang tinggi, yaitu berkisar antara 68%–81%, sehingga belum memenuhi standar sisa makanan (<20%). Persentase sisa terendah terdapat pada wortel hari pertama (68%), sedangkan sisa tertinggi terdapat pada pakcoy hari kedua (81%). Tingginya sisa sayur menunjukkan bahwa sebagian besar siswa belum menghabiskan menu sayur yang disediakan dalam Program MBG. Penelitian ini menunjukkan bahwa daya terima menu sayur pada Program Makan Bergizi Gratis di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 04 Jember masih tergolong rendah, terutama pada aspek tekstur, aroma, dan rasa, serta diikuti dengan tingginya sisa sayur pada seluruh menu yang disajikan. Hasil tersebut menunjukkan perlunya evaluasi terhadap pemilihan jenis sayur, teknik pengolahan, penggunaan bumbu, dan penyajian menu agar daya terima siswa meningkat, sisa sayur berkurang, dan tujuan Program Makan Bergizi Gratis dalam meningkatkan pemenuhan gizi anak sekolah dapat tercapai secara optimal.
  • Item type:Item,
    Hubungan Antara Persentase Lemak Tubuh dan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan Tekanan Darah pada Pasien Hipertensi di Puskesmas Sumbersari
    (Fakultas Kesehatan Masyarakat, 2026-07-31) Nadia Ayu Putri Viranda
    Hipertensi merupakan penyakit tidak menular yang ditandai dengan peningkatan tekanan darah secara menetap dan menjadi salah satu penyebab utama morbiditas serta mortalitas di dunia. Tekanan darah yang tidak terkontrol dapat meningkatkan risiko terjadinya penyakit jantung koroner, stroke, gagal ginjal, dan komplikasi kardiovaskular lainnya. Salah satu faktor yang berhubungan dengan peningkatan tekanan darah adalah kelebihan lemak tubuh dan obesitas yang dapat dinilai melalui persentase lemak tubuh dan Indeks Massa Tubuh (IMT). Peningkatan persentase lemak tubuh dan IMT dapat memicu aktivasi sistem saraf simpatis serta sistem renin-angiotensin-aldosteron (RAAS), sehingga meningkatkan resistensi pembuluh darah perifer dan tekanan darah. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk menganalisis hubungan antara persentase lemak tubuh dan Indeks Massa Tubuh (IMT) dengan tekanan darah pada pasien hipertensi di Puskesmas Sumbersari. Penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif analitik dengan desain cross- sectional. Penelitian dilaksanakan di Puskesmas Sumbersari pada bulan Februari– April 2026. Populasi penelitian adalah seluruh pasien hipertensi yang berkunjung ke Puskesmas Sumbersari pada tahun 2025 sebanyak 6.536 pasien. Besar sampel dihitung menggunakan rumus Lemeshow dengan tingkat kepercayaan 95%, sehingga diperoleh jumlah sampel sebanyak 94 responden. Pengambilan sampel dilakukan menggunakan teknik accidental sampling sesuai dengan kriteria inklusi dan eksklusi penelitian. Variabel independen dalam penelitian ini adalah persentase lemak tubuh dan Indeks Massa Tubuh (IMT), sedangkan variabel dependen adalah tekanan darah yang terdiri atas tekanan darah sistolik dan tekanan darah diastolik. Persentase lemak tubuh diukur menggunakan Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), IMT dihitung berdasarkan hasil pengukuran berat badan dan tinggi badan, sedangkan tekanan darah diukur menggunakan tensimeter digital. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik variabel penelitian dan secara bivariat menggunakan uji korelasi Pearson. Hasil penelitian menunjukkan bahwa persentase lemak tubuh responden berada pada kategori overfat sebanyak 41 responden, IMT pada kategori obesitas 1 sebanyak 53 responden, tekanan darah sistolik 137–163 mmHg, dan tekanan darah diastolik 85–96 mmHg. Uji Pearson menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara persentase lemak tubuh dengan tekanan darah sistolik (p = 0,008) serta antara IMT dengan tekanan darah sistolik (p = 0,016). Sebaliknya, tidak terdapat hubungan yang signifikan antara persentase lemak tubuh dengan tekanan darah diastolik (p = 0,056) maupun antara IMT dengan tekanan darah diastolik (p = 0,205). Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa persentase lemak tubuh dan Indeks Massa Tubuh (IMT) berhubungan secara signifikan dengan tekanan darah sistolik, tetapi tidak berhubungan secara signifikan dengan tekanan darah diastolik pada pasien hipertensi di Puskesmas Sumbersari. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi Puskesmas Sumbersari dalam meningkatkan upaya promotif dan preventif melalui edukasi mengenai pengendalian berat badan, penurunan persentase lemak tubuh, penerapan pola makan sehat, serta peningkatan aktivitas fisik sebagai bagian dari pengendalian tekanan darah pada pasien hipertensi.
  • Item type:Item,
    Karakteristik Fisik, Kimia, dan Sensori Bakso Ikan Nila dengan Bahan Pengisi Campuran Tepung Biji Durian dan Tapioka 
    (Fakultas Teknologi Pertanian, 2026-10-13) Nova Amay Yulita
    Bakso merupakan produk olahan berbasis daging yang banyak dikonsumsi masyarakat. Ikan nila dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku dalam pembuatan bakso. Ikan nila relatif mudah dibudidayakan, murah, dan bernilai gizi baik. Pembuatan bakso menggunakan bahan pengisi untuk membentuk tekstur yang kenyal dan kompak. Tingginya konsumsi bakso mendorong perlunya pengembangan produk bakso melalui inovasi substitusi bahan baku lokal, baik pada sumber protein hewani maupun bahan pengisi. Bahan baku alternatif potensial yang dapat dimanfaatkan adalah ikan nila dan tepung biji durian. Kombinasi ikan nila, tepung biji durian dan tapioka diharapkan dapat menghasilkan bakso dengan struktur yang baik. Namun, proporsi ikan nila, serta campuran tepung biji durian dan tapioka yang menghasilkan bakso dengan karakteristik fisik dan sensori yang baik belum diketahui. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi rasio tepung biji durian dan tapioka terhadap karakteristik fisik dan sensori bakso ikan nila, serta menentukan formulasi terbaik, dan menganalisis mutu proksimatnya. Penelitian dilakukan menggunakan rancangan acak lengkap faktor tunggal, yaitu rasio tepung biji durian dan tapioka (P b/b), yang terdiri atas: P0 (0%:100%), P1 (15%:85%), P2 (25%:75%), P3 (35%:65%), P4 (45%:55%), P5 (55%:45%), dan P6 (65%:35%). Data dianalisis menggunakan one way analysis of variance (ANOVA), jika hasil berbeda nyata akan dilanjutkan Duncan New Multiple Range Test (DNMRT) pada taraf kepercayaan 95%, uji Chi – square untuk data sensori, jika berbeda nyata dilanjutkan uji Mann – Witney, dan uji efektivitas menggunakan metode De Garmo untuk menentukan perlakuan terbaik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio tepung biji durian dan tapioka berpengaruh nyata terhadap cooking loss, hardness, springness, WHC, warna (L*, a*, dan b*), serta tingkat kesukaan panelis terhadap warna, aroma, rasa, dan tekstur bakso ikan nila. Semakin tinggi proporsi tepung biji durian, warna bakso cenderung lebih gelap, tekstur kurang kompak, dan tingkat penerimaan panelis menurun. Berdasarkan uji efektivitas De Garmo, formulasi terbaik pada rasio tepung biji durian 15% dan tapioka 85%. Bakso ikan nila yang dihasilkan memiiki cooking loss 2,06%, WHC 90,40%, hardness 449,58 gf, springness 0,65 gf, dan uji sensori warna 7,1, aroma 6,92, tekstur 7,28, rasa 6,48 yang masih bisa diterima oleh panelis, dengan mutu proksimat kadar air 62,97%, kadar abu 2,30%, kadar lemak 0,37%, kadar protein 12,54%, dan kadar karbohidrat by difference 21,82%.
  • Item type:Item,
    Karakteristik Fisik dan Sensori Sosis Ikan Lele dengan Rasio Tepung Talas dan Tapioka Serta Mutu Proksimat Formulasi Terbaik
    (Fakultas Teknologi Pertanian, 2026-10-13) Nilam Aulia Farida
    Sosis merupakan produk olahan daging yang banyak dikonsumsi karena praktis dan memiliki kandungan protein tinggi. Jenis daging yang banyak digunakan adalah daging sapi dan daging ayam, ketersediaan jenis daging tersebut seringkali sulit terpenuhi, sehingga harganya relatif lebih tinggi. Upaya diversifikasi produk sosis dapat dilakukan dengan pemanfaatan ikan lele sebagai bahan baku. Ikan lele relatif mudah dibudidayakan, murah, dan memiliki nilai gizi yang baik. Namun, sosis ikan umumnya memiliki tekstur yang lebih lembek, sehingga diperlukan bahan pengisi pati yang dapat memperbaiki karakteristik produk, seperti tapioka dan sumber pati lainnya. Pemanfaatan tepung talas berpotensi menjadi alternatif, karena bahan lokal ini memiliki kandungan pati dan glukomanan yang dapat memperkuat pembentukan gel dan perbaikan tekstur sosis. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variasi konsentrasi penambahan tepung talas terhadap karakteristik fisik dan sensori sosis ikan lele dengan rasio tepung talas dan tapioka serta menentukan formulasi terbaik dan menganalisis mutu proksimatnya. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor yaitu rasio tepung talas dan tapioka, dengan enam taraf meliputi: Kontrol, F1 (50:50), F2 (60:40), F3 (70:30), F4 (80:20) dan F5 (90:10). Percobaan dilakukan pengulangan sebanyak empat kali. Parameter yang diamati meliputi sifat fisik (cooking loss, tekstur, warna, WHC), sifat sensori (warna, aroma, rasa, tekstur), dan mutu proksimat (kadar air, kadar abu, kadar lemak, kadar protein, kadar karbohidrat). Data dianalisis menggunakan oneway Analysis of Variance (ANOVA), uji lanjut Duncan New Multiple Range Test (DNMRT), dan data sensori dianalisis menggunakan Kruskal-Wallis, serta uji lanjut Dunn-Bonferroni. Hasil penelitian menunjukkan bahwa variasi penambahan konsentrasi tepung talas berbeda nyata (p<0,05) terhadap sifat cooking loss, tekstur, warna, WHC, serta atribut sensori warna, aroma, dan tekstur. Sosis ikan lele dengan rasio tepung talas dan tapioka terbaik diperoleh pada kombinasi subtitusi tepung talas 70 % dan tapioka 30% dengan kadar air 62,42%, kadar abu 2,41%, kadar lemak 5,07%, kadar protein 14,84%, kadar karbohidrat by difference 15,26%, skor sensori warna 6,87, skor sensori aroma 7,50, skor sensori rasa 7,27, dan skor sensori tekstur 6,83.
  • Item type:Item,
    Karakterisik Fisik, Organoleptik, dan Proksimat Nugget Ikan Nila Tersubtitusi Tepung Labu Kuning dan Isolat Protein Kedelai
    (Fakultas Teknologi Pertanian, 2026-10-13) Afil Dwi Suprianto
    Tilapia nuggets are a processed food product with the potential to replace chicken nuggets due to their high protein content. However, they tend to have a soft texture and a fishy odor, making formulation improvement necessary. This study aimed to evaluate the effects of yellow pumpkin flour substitution and isolated soy protein addition on the physical, chemical, and sensory characteristics of tilapia nuggets and to determine the optimum formulation. A two-factor Completely Randomized Design was employed, consisting of yellow pumpkin flour substitution levels of 40%, 50%, and 60%, and isolate soy protein concentrations of 3%, 4%, and 5%, with three replications. The observed parameters included physical characteristics (texture, water-holding capacity, and color), sensory characteristics (color, aroma, taste, and texture), De Garmo's effectiveness analysis, and proximate chemical analysis of the best treatment. Data were analyzed using ANOVA, followed by DNMRT, while sensory data were analyzed using the chi-square test, and proximate using independent sample T-test. The results indicated that yellow pumpkin flour substitution and SPI addition significantly affected (P < 0.05) the physical and sensory characteristics of tilapia nuggets. Based on the effectiveness analysis, the best treatment was the combination of 40% yellow pumpkin flour substitution and 3% isolate soy protein, with an effectiveness value of 0.84. The best treatment was subjected to further testing regarding proximate composition, yielding a moisture content of 58.64%, ash content of 3.19%, fat content of 0.47%, protein content of 14.43%, and carbohydrate content of 23.27%. The analysis results showed that the best treatment met the quality requirements for fish nuggets based on SNI 7758:2013.