Repository Universitas Jember

Digital service that collects, preserves, and distributes digital material. Repositories are important tools for preserving an organization's legacy; they facilitate digital preservation and scholarly communication.

Communities in DSpace

Select a community to browse its collections.

Now showing 1 - 5 of 9

Recent Submissions

  • Item type:Item,
    Aktivitas Senyawa Bioaktif Jamur Tiram Putih (Pleurotus ostratus) dan Inulin dengan Formulasi yang Berbeda
    (Fakultas Teknologi Pertanian, 2026-07-28) Utviatul Laily
    As public awareness of the importance of health continues to increase, the demand for food products containing bioactive compounds and providing health benefits has also increased. However, the development of products based on local resources rich in bioactive compounds remains limited. White oyster mushroom (Pleurotus ostreatus) is one potential source of bioactive compounds that can be further developed. Optimizing its potential requires efficient extraction methods and appropriate formulation to enhance the activity of its bioactive compounds. This study combined ultrasound-assisted extraction (UAE) and hot water extraction (HWE) to obtain white oyster mushroom extract, which was subsequently formulated with inulin as a commercial prebiotic. This study aimed to determine the physicochemical characteristics of the white oyster mushroom extract obtained through the combination of UAE and HWE and to evaluate the effects of different formulations of white oyster mushroom extract and inulin on the prebiotic index, prebiotic activity, total phenolic and flavonoid contents, and antioxidant activity. The resulting white oyster mushroom extract had a yield of 30.059%, moisture content of 10.201%, ash content of 3.186%, protein content of 1.128%, β-glucan content of 2.584%, and reducing sugar content of 0.105 mg/mL. The extract was formulated with inulin at five ratios, namely F1 (100:0), F2 (75:25), F3 (50:50), F4 (25:75), and F5 (0:100). Different formulations of white oyster mushroom extract and inulin resulted in different prebiotic index values for L. plantarum and L. paracasei. Both bacteria were able to grow in formulations containing either white oyster mushroom extract or inulin, but showed differences in substrate utilization. The unpurified extract also influenced prebiotic activity because it contained other components that may have supported the growth of E. coli.Meanwhile, increasing the proportion of white oyster mushroom extract in the formulations increased antioxidant activity, total phenolic content, and total flavonoid content.
  • Item type:Item,
    Produksi Xilooligosakarida Dari Ampas Batang Nanas Secara Hidrotermal Menggunakan Katalis Asam Sitrat
    (Fakultas Teknologi Pertanian, 2026-07-28) Putri Angelina BR Ginting
    Ampas batang nanas merupakan limbah pertanian yang kaya akan hemiselulosa dan berpotensi sebagai substrat pada produksi xilooligosakarida (XOS). XOS merupakan oligosakarida yang memiliki berbagai manfaat fungsional termasuk aktivitas antioksidan. XOS diproduksi melalui hidrolisis hidrotermal menggunakan katalis asam sitrat berbantuan thermo mighty stirrer melalui pendekatan Respon Surface Methodology (RSM) dengan variasi konsentrasi katalis, waktu pemanasan dan suhu reaksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi pemanfaatan ampas batang nanas melalui hidrolisis hidrotermal untuk produksi xilooligosakarida menggunakan asam sitrat (C6H8O7) sebagai katalis. Hasil analisis ANOVA menunjukkan bahwa suhu dan waktu hidrolisis berpengaruh signifikan (P<0,05) terhadap pembentukan gula pereduksi dan XOS. Model RSM menghasilkan kondisi optimal prediksi pada konsentrasi katalis 4,8%, waktu 32,5 menit, dan suhu 140 ⁰C dengan prediksi XOS sebesar 5,376 g/L dan gula pereduksi sebesar 4,298 g/L dengan desirability 0,926. Hasil uji validasi kondisi optimal model RSM menghasilkan gula pereduksi sebesar 0,818 g/L dan XOS sebesar 4,541 g/L. Dari keseluruhan perlakuan, kondisi terbaik diperoleh pada konsentrasi asam sitrat 5%, waktu 30 menit dan suhu 170 ⁰C menghasilkan 28,903 g/L gula pereduksi dan 5,515 g/L XOS dalam hidrolisat. Karakterisasi produk melalui TLC mengonfirmasi terbentuknya XOS DP X2 (Xilobiosa) – X6 (Xiloheksosa). Sampel optimal dan validasi model memiliki aktivitas antioksidan masing-masing sebesar 69,652% dan 23,289%.
  • Item type:Item,
    Grub Kesenian Jaranan Seno Joyo Desa Tlogosari Kabupaten Banyuwangi Tahun 1994-2014
    (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026-07-29) Ana Rifki Jamil
    Jaranan is a form of traditional art that has developed in various regions in East Java, this art also has important cultural values for the communities that support it. In Tlogosari Village, Jaranan Seno Joyo is one of the art groups that contributes to maintaining local traditions while providing entertainment for the community. However, progress and changes in socio-cultural aspects create various challenges that affect the continuity of traditional arts. Therefore, this study aims to determine the background of the formation of Jaranan Seno Joyo Art in Tlogosari Village, examine the dynamics of its development from 1994 to 2014, and analyze its preservation efforts. The research method used is a historical research method consisting of four stages, namely heuristics, criticism, interpretation and historiography. The data sources used consist of primary sources in the form of interviews and photo archives as well as secondary sources in the form of books, journals, and documentation related to jaranan art. The results of the study indicate that Jaranan Seno Joyo Art was established as an effort to preserve traditional arts that have become an important part of the socio-cultural life of the community. Over its development, the Jaranan art form has undergone various dynamics, including variations in attractions, the addition of various performance elements, and adaptations to more modern technological developments. Between 1994 and 2014, the Jaranan art form maintained its existence despite facing various challenges, including competition from modern entertainment. Preservation efforts, such as participating in cultural events and involving the younger generation in art performances, are among the ways to ensure the continued survival of Jaranan as a traditional cultural heritage.
  • Item type:Item,
    Enkapsulasi Bacillus subtilis JB12 dengan Na Alginat-Kitosan dan Efektivitasnya dalam Mengendalikan Penyakit Layu Bakteri (Ralstonia solanacearum) Pada Cabai Rawit
    (Fakultas Pertanian, 2026-07-27) Kharisma Puspa Negara
    Cabai rawit (Capsicum frutescens L.) merupakan salah satu komoditas holtikultura bernilai ekonomis tinggi di Indonesia, namun produksinya seringkali mengalami penurunan akibat penyakit tular tanah seperti layu bakteri yang disebabkan oleh Ralstonia solanacearum. Agens hayati Bacillus subtilis JB12 menjadi alternatif pengendalian ramah lingkungan, namun aplikasi konvensional seringkali kurang efisien karena penurunan viabilitas akibat stres lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakterisitik formulasi enkapsulasi B. subtilis JB12 dengan bahan pembawa natrium alginat dan kitosan, selain itu untuk mengetahui daya hambatnya terhadap R. solanacearum, menganalisis waktu pelepasan bakteri (slow release), serta mengetahui kemampuannya dalam mengendalikan penyakit layu bakteri pada tanaman cabai rawit. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 5 perlakuan 6 ulangan. Parameter yang diamati meliputi daya hambat formulasi, warna, ukuran dan berat enkapsulasi, pelepasan bakteri, masa inkubasi, insidensi penyakit, dan keparahan penyakit. Hasil penelitian in vitro menunjukkan enkapsulasi perlakuan P1 (Kitosan 0,4%) menghasilkan zona hambat terbaik terhadap R. solanacearum sebesar 11,78 mm. Secara makroskopis, formulasi enkapsulasi berbentuk bulat kenyal menyerupai mutiara dengan diameter basah berukuran 2,5-2,9 mm dan menyusut menjadi 1,1-1,7 mm setelah dikering anginkan. Peningkatan konsentrasi kitosan meningkatkan ukuran, dan berat, serta merapatkan matriks pori-pori yang memperlambat laju pelepasan bakteri (slow release). Pada pengujian in vivo di rumah kaca hingga 21 HSI, perlakuan enkapsulasi P1 (Kitosan 0,4%) terbukti memperlambat masa inkubasi penyakit, menekan insidensi penyakit dan keparahan penyakit layu bakteri pada tanaman cabai.
  • Item type:Item,
    Pengaruh Konsumsi Kopi Robusta Tubruk dan Kopi Robusta Jagung terhadap Perubahan Kadar Trigliserida pada Dewasa Muda
    (Fakultas Kedokteran, 2024-12-01) Nona Bintania Nurrahma
    Kopi merupakan salah satu minuman yang populer di dunia termasuk di Indonesia. Berdasarkan data International Coffee Organization tahun 2023, konsumsi kopi di Indonesia meningkat sebesar 18,2% dibandingkan tahun 2022. Peningkatan konsumsi ini juga diiringi oleh peningkatan produksi kopi sebesar 2,4% dengan total produksi mencapai 12 juta kantong. Umumnya penikmat kopi di Indonesia lebih sering menikmati kopi tubruk yang diseduh hanya dengan air panas. Akan tetapi, terdapat pula penikmat kopi yang mengolah dan meracik kopi dengan dicampur bersama bahan baku nabati lainnya. Kopi robusta jagung adalah salah satu bentuk campuran antara kopi robusta dan jagung yang telah dikenal sejak masa penjajahan. Kopi robusta dan jagung masing-masing memiliki kandungan bioaktif dengan antioksidan yang cukup tinggi, seperti kafein, asam klorogenat, asam ferulat, dan flavonoid. Penambahan jagung pada kopi robusta dapat memberikan efek antioksidan yang lebih kuat karena kandungan asam ferulat dan kandungan antioksidan lainnya yang berpotensi menurunkan kadar trigliserida dengan cara menghambat pembentukan asam lemak. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efek konsumsi kopi robusta tubruk dan kopi robusta jagung terhadap perubahan kadar trigliserida pada dewasa muda. Penelitian ini menggunakan desain non-randomized parallel clinical trial dengan pretest dan posttest yang melibatkan 50 subjek penelitian dewasa muda berusia 18-25 tahun yang memenuhi kriteria inklusi yang terbagi dalam dua kelompok yaitu kelompok yang mengonsumsi kopi robusta tubruk sebanyak 10 gram dan kelompok yang mengonsumsi racikan kopi robusta jagung sebanyak 20 gram selama 14 hari. Variabel bebas adalah jenis pemberian kopi (kopi robusta tubruk dan kopi robusta jagung), sedangkan variabel terikat berupa kadar trigliserida subjek penelitian. Pengukuran kadar trigliserida menggunakan metode enzimatik kolorimetri GPO-PAP. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Biokimia Fakultas Kedokteran Universitas Jember. Beberapa subjek tidak dapat dilibatkan dalam analisis data karena memenuhi kriteria drop out, sehingga jumlah subjek penelitian mengalami pengurangan menjadi 44 orang dengan proporsi jenis kelamin seimbang di kedua kelompok. Uji normalitas hasil pengukuran kadar trigliserida pada kedua kelompok dengan uji Shapiro Wilk menunjukkan data tidak terdistribusi normal. Hasil uji Wilcoxon signed-rank pada kelompok kopi robusta tubruk dan kopi robusta jagung masing-masing diperoleh nilai p>0,05 yang menunjukkan tidak ada perubahan yang signifikan pada kadar trigliserida sebelum dan sesudah perlakuan. Uji Mann Whitney U juga dilakukan untuk membandingkan secara independen posttest kedua kelompok. Hasil uji Mann Whitney U diperoleh nilai p>0,05 yang menunjukkan tidak terdapat perbedaan yang signifikan antara kelompok kopi robusta tubruk dengan kopi robusta jagung.