Repository Universitas Jember
Digital service that collects, preserves, and distributes digital material. Repositories are important tools for preserving an organization's legacy; they facilitate digital preservation and scholarly communication.

Communities in DSpace
Select a community to browse its collections.
- Koleksi Laporan Hasil Pengabdian Masyarakat
- Koleksi Laporan Praktek Kerja Program Diploma
- Koleksi Disertasi Program Doktoral
- Koleksi Laporan hasil penelitian dosen UNEJ
- Koleksi Tesis Program Magister
Recent Submissions
Item type:Item, Figurative Language Analysis in The Lyrics of BTS Song Swim(Fakultas Ilmu Budaya, 2026-07-22) Ana Muthi’Ah FajriyahThis study analyzes figurative language found in the BTS’s song lyrics Swim and examines their contribution to the themes of the song. As mentioned by RM, the leader of the group, in a Message from RM uploaded on Spotify that the song Swim is centered on the courage to face life by choosing to move at one's own rhythm rather than fighting the current. Using a qualitative descriptive method, the study analyzes figurative language in the lyrics based on Perrine’s (1963) classification and analyzed the meaning of each data on its context using Kreidler’s theory of contextual meaning. The findings reveal that 20 lines of lyrics lines contain figurative language. Symbolism is the most frequent type, which appears thirteen times, and is used to convey a profound message of never giving up by using other terms that broaden the listener's interpretation. Hyperbole appears four times, which conveys perseverance and courage in a dramatic way. Simile, metaphor, and personification also help illustrate the singer's courage, persistence, and goals conveyed in the song's lyrics.Item type:Item, Asuhan Keperawatan Nyeri Akut (Post Sectio Caesarea) dengan Terapi Relaksasi Autogenik di RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan(Fakultas Keperawatan, 2026-08-27) Dwi Nur DianahLatar Belakang: Sectio caesarea merupakan metode persalinan dengan prosedur pembedahan abdomen dan uterus. Tindakan ini menyebabkan terputusnya kontinuitas jaringan yang memicu pelepasan mediator biokimia dan transmisi impuls nyeri ke otak sehingga mengakibatkan masalah keperawatan nyeri akut. Salah satu intervensi non farmakologis untuk menurunkan tingkat nyeri adalah terapi relaksasi autogenik. Tujuan penelitian ini untuk mendeskripsikan asuhan keperawatan nyeri akut (post op sectio caesarea) dengan terapi relaksasi autogenik di RSUD Bangil. Metode: Penelitian ini berbentuk studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan selama 3 hari yang dilakukan pada satu pasien post op sectio caesarea dengan masalah keperawatan nyeri akut dengan pemberian intervensi berupa terapi relaksasi autogenik. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Hasil: Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama 3 hari, nyeri akut teratasi yang ditunjukkan dengan adanya penurunan keluhan nyeri dari skala 7 menjadi 3, meringis menurun, gelisah menurun, bersikap protektif menurun, frekuensi nadi membaik, dan tekanan darah membaik. Kesimpulan: studi kasus ini menunjukkan bahwa terapi relaksasi autogenik efektif dalam membantu mengatasi nyeri akut pada pasien post sectio caesarea. Terapi ini dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis yang aman, mudah diterapkan, dan dapat dikombinasikan dengan terapi medis.Item type:Item, Asuhan Keperawatan Gangguan Pertukaran Gas (Pneumonia) dengan Terapi NRBM di RSUD Bangil Kabupaten Pasuruan(Fakultas Keperawatan, 2026-06-18) Nuril IlmiahLatar belakang: Pneumonia merupakan infeksi akut pada parenkim paru akibat bakteri, virus, atau jamur yang menyebabkan inflamasi dan penumpukan cairan di alveoli sehingga mengganggu pertukaran gas. Kondisi ini menimbulkan gejala sesak napas, penggunaan otot bantu napas, dan penurunan saturasi oksigen. Berdasarkan data RSUD Bangil, terdapat 1.214 kasus pneumonia selama tahun 2025–2026, dengan sebagian besar pasien mengalami gangguan pertukaran gas. Metode: Penelitian ini menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan deskriptif kuantitatif pada satu pasien pneumonia dengan diagnosis gangguan pertukaran gas. Intervensi yang diberikan berupa terapi oksigen menggunakan Non-Rebreathing Mask (NRBM) selama tiga hari berturut-turut, disertai posisi semi-Fowler, pemantauan pola napas, dan edukasi teknik pernapasan. Hasil: Setelah dilakukan intervensi, kondisi pasien menunjukkan perbaikan yang signifikan. Frekuensi napas menurun dari 26 kali/menit menjadi 22 kali/menit, suara ronki berkurang, saturasi oksigen meningkat dari 95% menjadi 98%, dan pasien tampak lebih nyaman. Masalah keperawatan gangguan pertukaran gas dinyatakan teratasi. Kesimpulan: Terapi oksigen menggunakan NRBM efektif sebagai intervensi keperawatan dalam membantu mengatasi gangguan pertukaran gas pada pasien pneumonia dan dapat diterapkan sebagai bagian dari standar asuhan keperawatan pada pasien gangguan sistem pernapasan.Item type:Item, Asuhan Keperawatan Nausea (Gastroenteritis) dengan Edukasi SFM (Small Frequnt Meals) di RSUD dr.R. Soedarso Kota Pasuruan(Fakultas Keperawatan, 2026-08-27) Adinda Amalia IstiqlalaGastroenteritis merupakan peradangan pada saluran pencernaan yang sering menimbulkan keluhan (nausea), muntah, dan penurunan nafsu makan sehingga dapat mengganggu pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien. Salah satu intervensi nonfarmakologis yang dapat diterapkan adalah edukasi SFM (Small Frequent Meals), yaitu pemberian makan dalam porsi kecil tetapi lebih sering serta mengatur jadwal makan dan pendampingan makan untuk mengurangi beban kerja lambung dan membantu menurunkan keluhan . Tujuan: Mendeskripsikan asuhan keperawatan pada pasien gastroenteritis dengan masalah keperawatan nausea melalui penerapan edukasi Small Frequent Meals (SFM) di RSUD dr. R. Soedarsono Kota Pasuruan. Metode: Penelitian ini menggunakan metode studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan yang meliputi pengkajian, diagnosis, intervensi, implementasi, dan evaluasi pada pasien gastroenteritis dengan masalah keperawatan nausea. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan dokumentasi. Intervensi utama berupa edukasi SFM yang diterapkan selama proses asuhan keperawatan. Hasil:Setelah dilakukan asuhan keperawatan selama tiga hari, pasien menunjukkan penurunan frekuensi , berkurangnya keinginan untuk muntah, peningkatan nafsu makan, serta mampu mengonsumsi makanan dalam porsi kecil tetapi sering sesuai prinsip SFM. Kesimpulan: Penerapan edukasi SFM (Small Frequent Meals) efektif sebagai intervensi nonfarmakologis dalam membantu mengurangi keluhan nausea pada pasien gastroenteritis. Edukasi ini dapat dijadikan salah satu intervensi keperawatan mandiri untuk meningkatkan toleransi makan dan membantu pemenuhan kebutuhan nutrisi pasien selama masa perawatan Introduction: Gastroenteritis is an inflammation of the gastrointestinal tract that often causes complaints of nausea, vomiting, and decreased appetite, which can interfere with meeting the patient's nutritional needs. One non-pharmacological intervention that can be applied is Small Frequent Meals (SFM) education, which involves consuming small portions of food more frequently to reduce the workload of the stomach and help alleviate nausea. Objective: To describe nursing care for a patient with gastroenteritis experiencing the nursing problem of nausea through the implementation of Small Frequent Meals (SFM) education at dr. R. Soedarsono Regional General Hospital, Pasuruan City. Methods: This study employed a case study method using the nursing process approach, which included assessment, diagnosis, intervention, implementation, and evaluation of a patient with gastroenteritis and the nursing problem of nausea. Data were collected through interviews, observation, physical examination, and documentation. The main intervention was SFM education, which was implemented throughout the nursing care process. Results: After three days of nursing care, the patient showed a decrease in the frequency of nausea, a reduced urge to vomit, an improvement in appetite, and the ability to consume food in small but frequent portions according to the SFM principle. Conclusion: The implementation of SFM (Small Frequent Meals) education was effective as a nonpharmacological intervention in helping reduce nausea complaints in patients with gastroenteritis. This education can be used as an independent nursing intervention to improve food tolerance and support the fulfillment of patients' nutritional needs during hospitalization.Item type:Item, Asuhan Keperawatan Nyeri Akut (Gastroenteritis) dengan Terapi Relaksasi Benson di RSUD dr.R. Soedarsono Kota Pasuruan(Fakultas Keperawatan, 2026-08-27) Syinta NurdianaLatar Belakang: Gastroenteritis merupakan peradangan saluran pencernaan yang dapat menyebabkan nyeri abdomen, mual, muntah, dan diare. Nyeri akut akibat inflamasi mukosa usus dapat menurunkan kenyamanan pasien. Salah satu intervensi nonfarmakologis untuk mengurangi nyeri adalah Terapi Relaksasi Benson. Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan asuhan keperawatan nyeri akut pada pasien gastroenteritis dengan Terapi Relaksasi Benson. Metode: Studi kasus dengan pendekatan proses keperawatan selama 3 hari pada satu pasien gastroenteritis yang mengalami nyeri akut. Intensitas nyeri diukur menggunakan Numeric Rating Scale (NRS). Hasil: Setelah diberikan Terapi Relaksasi Benson selama 3 hari terjadi penurunan skala nyeri dari 6 menjadi 2. Pasien tampak lebih rileks dan nyaman, ekspresi meringis berkurang, sikap protektif menurun, frekuensi nadi membaik. Kesimpulan: Terapi Relaksasi Benson efektif membantu menurunkan intensitas nyeri akut pada pasien gastroenteritis dan dapat digunakan sebagai intervensi keperawatan nonfarmakologis. Background: Gastroenteritis is an inflammation of the gastrointestinal tract that can cause abdominal pain, nausea, vomiting, and diarrhea. Acute pain resulting from intestinal mucosal inflammation may reduce patient comfort. One of the non-pharmacological interventions used to reduce pain is Benson Relaxation Therapy. This study aimed to describe nursing care for acute pain in a patient with gastroenteritis using Benson Relaxation Therapy. Methods: This study employed a case study design using the nursing process approach for three days in one patient with gastroenteritis experiencing acute pain. Pain intensity was measured using the Numeric Rating Scale (NRS). Results: After receiving Benson Relaxation Therapy for three days, the patient's pain scale decreased from 6 to 2. The patient appeared more relaxed and comfortable, grimacing decreased, protective behavior was reduced, pulse rate improved, and complaints of nausea, vomiting, and diarrhea decreased. Conclusion: Benson Relaxation Therapy was effective in reducing the intensity of acute pain in patients with gastroenteritis and can be used as a non-pharmacological nursing intervention.
