Repository Universitas Jember

Digital service that collects, preserves, and distributes digital material. Repositories are important tools for preserving an organization's legacy; they facilitate digital preservation and scholarly communication.

Communities in DSpace

Select a community to browse its collections.

Now showing 1 - 5 of 9

Recent Submissions

  • Item type:Item,
    An Analysis of Reading Comprehension Questions in “English in Mind” Based on Bloom’s Revised Taxonomy
    (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026-07-20) Zafila Nur Fajariyah. Am
    Reading comprehension questions can indicate the cognitive demands that a textbook places on learners. This study analyzed the cognitive levels represented in the reading comprehension questions of the seventh-grade English in Mind textbook using Bloom’s Revised Taxonomy. The study employed qualitative content analysis. The data were collected through documentation and consisted of 91 reading comprehension questions identified across 14 chapters after four initially identified items were excluded because they did not meet the study’s criteria for reading comprehension questions. The questions were coded into six cognitive domains: Remembering (C1), Understanding (C2), Applying (C3), Analyzing (C4), Evaluating (C5), and Creating (C6). Two additional coders participated in the coding process, and differences were discussed to reach a final consensus. The findings show that 73 questions (80.22%) were categorized as Remembering, five (5.49%) as Understanding, 12 (13.19%) as Analyzing, and one (1.10%) as Evaluating. No questions were categorized as Applying or Creating. Thus, 78 questions (85.71%) represented lower-order thinking skills, while 13 questions (14.29%) represented higher-order thinking skills. The findings indicate that the textbook provides a strong emphasis on recalling and understanding information, while opportunities to apply knowledge, evaluate ideas, and create new responses are limited. The results suggest that teachers can supplement textbook questions with appropriately sequenced higher-order questions, while textbook developers can consider a more balanced distribution of cognitive demands.
  • Item type:Item,
    Sebaran Status Hara Unsur Natrium (NA) Pada Lahan Sawah Terdegradasi DI Empat Kabupaten Jawa Timur
    (Fakultas Pertanian, 2026-07-30) Ananta Sandy Firmansyah
    Lahan sawah merupakan sumber utama produksi pangan nasional; produktivitas lahan sawah dapat menurun akibat degradasi lahan yang disebabkan oleh akumulasi natrium (Na). Akumulasi natrium dapat memberikan dampak negatif terhadap tanah, yang menyebabkan tanah menjadi salin dan sodik. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan sebaran status hara natrium dan nilai ESP pada lahan sawah terdegradasi di wilayah Kabupaten Jember, Banyuwangi, Lumajang, dan Situbondo, Provinsi Jawa Timur. Sampel tanah diambil dari 174 titik pada kedalaman 0-30 cm yang mewakili lahan terdegradasi. Tujuh parameter dianalisis: pH, daya hantar listrik (EC), kapasitas tukar kation (KTK), kalium (K), kalsium (Ca), natrium (Na), magnesium (Mg), kejenuhan basa (KB), persentase natrium dapat tukar (ESP), *Sodium Adsorption Ratio* (SAR), dan tekstur tanah (persentase liat). Analisis statistik yang digunakan meliputi uji ANOVA dan uji korelasi Pearson. Status hara natrium di Kabupaten Jember dan Banyuwangi tergolong sedang, sedangkan di Kabupaten Lumajang dan Situbondo tergolong tinggi hingga sangat tinggi. Nilai ESP di Kabupaten Jember tergolong rendah hingga sedang, Kabupaten Banyuwangi sedang hingga tinggi, Kabupaten Lumajang tinggi hingga sangat tinggi, dan Kabupaten Situbondo sedang. Korelasi Pearson menunjukkan bahwa natrium berkorelasi negatif dengan kalsium dan tekstur tanah (persentase liat), serta berkorelasi positif dengan pH, daya hantar listrik, kalium, kapasitas tukar kation (KTK), kejenuhan basa (KB), persentase natrium dapat tukar (ESP), *Sodium Adsorption Ratio* (SAR), dan magnesium. Kalium (K) memiliki nilai korelasi tertinggi, yaitu kategori sangat kuat. pH, kapasitas tukar kation (KTK), kalsium (Ca), magnesium (Mg), dan tekstur tanah (persentase liat) berpengaruh signifikan terhadap natrium (Na), sedangkan daya hantar listrik (EC) dan *Sodium Adsorption Ratio* (SAR) tidak memberikan pengaruh yang signifikan terhadap natrium (Na).
  • Item type:Item,
    Pengaruh Content Marketing Dan User Generated Content Terhadap Purchase Intention Tomoro Coffee DI Jember Dengan Brand Trust Sebagai Mediasi
    (Fakultas Ekonomi dan Bisnis, 2026-07-28) Rezky M. Irfan Diaulhaq
    Persaingan industri kopi kekinian di Indonesia mendorong perusahaan untuk menerapkan strategi pemasaran digital yang efektif dalam meningkatkan minat beli konsumen. Tomoro Coffee me manfaatkan content marketing dan user generated content (UGC) melalui media sosial untuk membangun brand trust dan meningkatkan purchase intention. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh content marketing dan user generated content terhadap purchase intention Tomoro Coffee di Jember dengan brand trust sebagai variabel mediasi. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan teknik purposive sampling sebanyak 131 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan dianalisis menggunakan Structural Equation Modeling–Partial Least Squares (SEM-PLS). Hasil penelitian menunjukkan bahwa content marketing dan user generated content berpengaruh positif dan signifikan terhadap brand trust, sedangkan brand trust dan user generated content berpengaruh positif dan signifikan terhadap purchase intention. Namun, content marketing tidak berpengaruh signifikan terhadap purchase intention. Selain itu, brand trust terbukti memediasi pengaruh content marketing dan user generated content terhadap purchase intention.
  • Item type:Item,
    Perbedaan Motivasi Belajar Siswa Menggunakan Model Pbl Berbantuan Media Lumio by Smart Dengan Model Pbl Berbantuan Media Power Point(Studi Kasus Pada Materi Lembaga Jasa Keuangan Siswa Kelas X Man 1 Jember Kab. Jember)
    (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026-07-30) Algis Zahrotul Zakia
    Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam dunia pendidikan, termasuk dalam pemanfaatan media pembelajaran. Motivasi belajar siswa sangat dipengaruhi oleh model dan media yang digunakan guru. PowerPoint yang selama ini digunakan cenderung monoton dan kurang interaktif, sehingga siswa kurang aktif dalam proses pembelajaran. Lumio by Smart menawarkan fitur interaktif seperti kuis, video, dan kolaborasi daring yang memungkinkan siswa untuk berpartisipasi secara langsung, berdiskusi, dan menyelesaikan masalah nyata dengan cara yang lebih menyenangkan. Dengan demikian, Lumio by Smart diharapkan mampu meningkatkan motivasi belajar sekaligus menciptakan suasana kelas yang lebih kondusif, kreatif, dan menyenangkan. Penelitian ini menjadi penting karena materi lembaga jasa keuangan bersifat kompleks dan abstrak, sehingga membutuhkan media yang mampu memvisualisasikan konsep secara konkret agar lebih mudah dipahami siswa. Hasil observasi awal di MAN 1 Jember menunjukkan bahwa motivasi belajar siswa pada kelas reguler mata pelajaran ekonomi tergolong rendah daripada kelas yang lain. Sebagian siswa terlihat kurang antusias saat pembelajaran berlangsung, serta mudah merasa bosan ketika guru menjelaskan materi menggunakan media PowerPoint. Guru mata pelajaran ekonomi juga menyampaikan bahwa penggunaan media PowerPoint masih dominan satu arah sehingga interaksi antara guru dan siswa belum berjalan secara maksimal. Berdasarkan kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan motivasi belajar siswa menggunakan model PBL berbantuan media Lumio by Smart dengan model PBL berbantuan media PowerPoint pada materi lembaga jasa keuangan siswa kelas X MAN 1 Jember.
  • Item type:Item,
    Pengembangan Model Collaborative Learning Terintegrasi Culturally Responsive Teaching untuk Meningkatkan Student Engagement dan Hasil Belajar pada Pembelajaran Sejarah
    (Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, 2026-09-09) Nurista Salsabila
    Penelitian ini dilatar belakangi oleh masalah student engagement dan hasil belajar sejarah peserta didik yang cenderung dipersepsikan sebagai materi yang relevan dengan pembelajaran sehingga mengakibatkan kurang optimalnya keterlibatan sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar. Analisis performansi dilakukan untuk mengidentifikasi permasalahan di SMAN Arjasa. Berdasarkan analisis performansi 1) 50% peserta didik mengalami kesulitan menganalisis materi sejarah, (2) 30,55% menganggap bahwa metode pembelajaran kurang memotivasi dalam belajar sejarah, (3) 75% peserta didik jarang berdiskusi dalam kelas, (4) 33,33% mereka mendengarkan dengan baik tetapi jarang bertanya, 41,66% kurang fokus, 11,11% tidak memperhatikan dan hanya 13,88% mendengarkan dengan baik, (5)16,66% (model pembelajaran kurang inovatif), 27,77% (kurang memberikan stimulus), 25% kurang menyenangkan, 30,55% (kurang memotivasi dan monoton) dan (6) 91,67% peserta didik merasa pembelajaran sejarah kurang relevan dengan budaya yang berada di sekitar. Temuan yang sangat penting menunjukkan bahwa 91,67% peserta didik merasa pembelajaran sejarah belum relevan sehingga belum sepenuhnya memenuhi kebutuhan dan karakteristik peserta didik sehingga berdampak pada kurang optimalnya keterlibatan dan berdampak pada rendahnya hasil belajar. Berdasarkan permasalahan diatas, solusi alternatif berupa pengembangan Model Collaborative Learning terintegrasi Culturally Responsive Teaching untuk meningkatkan student engagement dan hasil belajar peserta didik pada pembelajaran sejarah. Berdasarkan analisis kebutuhan juga menunjukkan bahwa 1). 97,67% peserta didik menganggap model collaborative learning itu penting dalam belajar sejarah; (2)77,78% peserta didik menyukai belajar secara dan berkelompok; (3) 66,67% peserta didik menganggap bahwa belajar berkelompok dapat lebih termotivasi karena dapat bertukar pikiran dan diskusi; (3) 88,89% penting adanya pembelajaran sejarah yang disesuaikan dengan budaya sekitarnya; (4) 77,78% peserta didik menganggap bahwa budaya hindu-budha kurang relevan dengan pembelajaran; serta (5) 47,22% peserta didik menganggap bahwa lebih tertarik dan semangat belajar karena merasa materi dekat dan sesuai dengan kehidupannya. Rumusan masalah dalam penelitian ini yaitu meliputi: (1) bagaimana hasil pengembangan model collaborative learning terintegrasi culturally responsive teaching menggunakan Model 4D?; (2) bagaimana efektivitas pengembangan model collaborative learning terintegrasi culturally responsive teaching dapat meningkatkan student sngagement?; dan (3) bagaimana efektivitas pengembangan model collaborative learning terintegrasi Culturally Responsive Teaching dapat meningkatkan hasil belajar peserta didik?. Tujuan penelitian dan pengembangan ini yaitu meliputi; (1) menghasilkan produk model collaborative learning terintegrasi culturally responsive teaching yang sudah divalidasi ahli dalam pembelajaran sejarah sesuai tahap 4D; (2) mengukur efektivitas pengembangan model collaborative learning terintegrasi culturally responsive teaching untuk meningkatkan student engagement dalam pembelajaran sejarah; dan (3) mengukur efektivitas pengembangan model collaborative learning terintegrasi CRT untuk meningkatkan hasil belajar dalam pembelajaran sejarah. Hasil uji validasi menunjukkan bahwa produk pendidikan berupa model collaborative learning terintegrasi culturally responsive teaching yang dikembangkan menggunakan model 4D dinyatakan valid layak digunakan dalam pembelajaran sejarah. Validasi ahli media memperoleh nilai 4,50 (above average), validasi bahasa memperoleh nilai 4,60 (outstanding), dan validasi ahli bidang studi memperoleh 4,25 (above average). Hasil uji coba perorangan pendidik peserta didik memperoleh rerata 4,64 (outstanding), sedangkan hasil uji coba perorangan peserta didik memperoleh nilai rerata 4,60 (outstanding). Uji coba kelompok kecil juga menunjukkan adanya peningkatan signifikan student engagement dan hasil belajar yang dibuktikan dengan Uji Paired Sampel T-Test dengan nilai Sig < 0,005. Sementara itu, nilai effect size pada uji coba kelompok kecil student engagement indikator behavioral sebesar 0,802, emotional 0,796 dan cognitive 0,763, serta hasil belajar 0,892 yang termasuk dalam kategori large effect. Hasil uji coba kelompok besar juga menunjukkan bahwa kelas perlakuan yang menggunakan model Collaborative Learning terintegrasi Culturally Responsive Teaching mengalami peningkatan student engagement dan hasil belajar secara signifikan. Hasil uji paired sampel t-test menunjukkan nilai Sig. 000 < 0,05 dan peningkatan tersebut didukung dengan nilai N-Gain pada kategori sedang dengan skor 0,545 (behavioral engagement), 0,505 (emotional engagement), 0,515 (cognitive engagment) dan 0,6100 (hasil belajar) serta uji effect size student engagement dengan skor 0,803, 0,878, dan 0,895 serta hasil belajar 0,885 yang berkategori large effect. Berdasarkan hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa produk model collaborative learning terintegrasi culturally responsive teaching telah dikembangkan sesuai tahapan model 4D, telah divalidasi, serta layak digunakan dalam pembelajaran sejarah dan memiliki efektivitas terhadap student engagement dan hasil belajar peserta didik.