Disekuilibrium dan Ekuilibrium Manusia-Alam Dalam Novel Tanah Tabu Karya Anindita S. Thayf: Kajian Ekofenomenologi
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Kajian mengimplementasikan teori ekofenomenologi Saras Dewi yang
bermuara pada konteks disekuilibrium dan ekuilibrium manusia-alam untuk
menguraikan unsur pembangun cerita serta teori ekofenomenologi yang berfokus
pada relasi manusia–alam melalui pengalaman tubuh, kesadaran ekologis, serta
makna ruang hidup. Metode yang digunakan berupa deskriptif-kualitatif melalui
analisis teks terhadap novel berjudul Tanah Tabu. Kajian tersebut berupaya
menyingkap substansi ekologis yang berlapis, mencakup dinamika tema,
penokohan dan perwatakan, latar, konflik, hingga mencapai ketersinambungan
ekofenomenologi pada tataran ekuilibrium dan disekuilibrium relasi manusia–alam
pada novel berjudul Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf.
Analisis struktural memperlihatkan bahwa tema terbagi menjadi tema
mayor dan tema minor. Tema mayor berupa ketidakseimbangan relasi manusia dan
lingkungan atas konflik sosial. Tema minor berupa kearifan lokal dan relasi spiritual
dengan alam, kekuasaan dan ketidakadilan struktural, pencarian identitas dan
dinamika keluarga, serta narasi kenangan dan pewarisan pengalaman hidup.
Penokohan terbagi menjadi tokoh utama dan tokoh tambahan dengan Leksi sebagai
tokoh utama yang berwatak bulat, diikuti Mabel dengan watak bulat, Mace
berwatak bulat, Pum berwatak datar, serta Kwee dengan watak bulat. Latar
dipetakan menjadi tiga dengan latar tempat berupa Timika, Lembah Baliem dan
Gunung Nemangkawi. Latar waktu menggunakan sorot balik dari peliharaan
keluarga dengan sebagian besar penceritaan berlatar tahun 2012, sedangkan latar
sosial-budaya dipetakan menjadi latar nilai keluhuran dan etika ekologis beserta
latar relasi kuasa dan ketimpangan sosial. Konflik terbagi menjadi konflik fisik dan
konflik batin dalam cerita terpusat pada perebutan ruang ekologis, dominasi
perusahaan emas, serta pergeseran nilai budaya.
Sintesis ekofenomenologi memperlihatkan dua konfigurasi relasi manusia–
alam. Konfigurasi disekuilibrium didominasi tindakan destruktif berupa eksploitasi
emas, penggusuran ruang hidup, pencemaran sungai, hilangnya kesadaran ekologis
generasi muda, serta keretakan nilai kosmis masyarakat adat oleh kaum pendatang
yang menguasai ekosistem. Disekuilibrium tampak melalui ketidakseimbangan
material maupun spiritual ketika alam direduksi menjadi komoditas. Wujud
disekuilibrium menyelimuti aspek sosial, ekologis, serta eksistensial masyarakat
adat yang menduduki wilayah terkait sejak awal sehingga menjauhkan manusia dari
pengalaman tubuh yang menyatu dengan alam pada penduduk asli. Adapun
pembahasan mengenai konsepsi disekuilibrium dielaborasikan menjadi bagianbagian utama yang meliputi disekuilibrium ruang hidup dan eksploitasi lingkungan,
disekuilibrium relasi sosial dan ketimpangan kekuasaan, serta disekuilibrium nilai
budaya dan kesadaran ekologis.
Konfigurasi ekuilibrium tampak melalui kearifan lokal atau masyarakat adat
sebagai penduduk asli yang menata hubungan manusia dengan batas ekologis.
Praktik mengambil seperlunya, menghormati gunung sebagai ruang sakral, serta
kedekatan emosional dengan hewan memperlihatkan keberlanjutan nilai ekologis
leluhur. Hubungan antartubuh yang telah dijalankan secara turun menurun dari
zaman terdahulu, baik manusia maupun makhluk lain, menegaskan bahwa relasi
ekologis bersandar pada kesadaran embodied yang memelihara ritme alam.
Ekuilibrium juga terlihat dalam pengalaman ruang hutan dan kampung dari
masyarakat adat yang memberikan rasa teduh, aman, serta menyatu dengan
kehidupan sehari-hari. Demikianlah kondisi ekuilibrium dalam pembahasan
diklasifikasikan dalam ekuilibrium ruang hidup dan kesadaran kosmis, ekuilibrium
relasi manusia dan makhluk lain, serta ekuilibrium praktik hidup dan nilai kearifan
lokal.
Disekuilibrium lebih dominan dibanding ekuilibrium karena logika kapital,
kekuasaan bersenjata, serta eksploitasi industrial menekan struktur sosial-budaya
masyarakat lokal. Kehadiran perusahaan emas mengubah orientasi hidup dari
keberlanjutan ekologis menuju keuntungan material. Dominasi teknologi berat,
pencemaran, penggusuran, serta perebutan sumber daya menciptakan tekanan yang
melampaui kemampuan masyarakat mempertahankan nilai ekologis leluhur. Oleh
karena itu, ekuilibrium hanya muncul sebagai fragmen yang mempertahankan jejak
kearifan lama, sedangkan disekuilibrium menguasai narasi melalui kerusakan ruang
kosmis dan keretakan relasi kemanusiaan.
Description
Reuploud file repositori 18 Mei 2026_Firli
Approved by Teddy
