Disekuilibrium dan Ekuilibrium Manusia-Alam Dalam Novel Tanah Tabu Karya Anindita S. Thayf: Kajian Ekofenomenologi
| dc.contributor.author | Abdul Hakim | |
| dc.date.accessioned | 2026-06-18T03:18:29Z | |
| dc.date.issued | 2025-12-25 | |
| dc.description | Reuploud file repositori 18 Mei 2026_Firli Approved by Teddy | |
| dc.description.abstract | Kajian mengimplementasikan teori ekofenomenologi Saras Dewi yang bermuara pada konteks disekuilibrium dan ekuilibrium manusia-alam untuk menguraikan unsur pembangun cerita serta teori ekofenomenologi yang berfokus pada relasi manusia–alam melalui pengalaman tubuh, kesadaran ekologis, serta makna ruang hidup. Metode yang digunakan berupa deskriptif-kualitatif melalui analisis teks terhadap novel berjudul Tanah Tabu. Kajian tersebut berupaya menyingkap substansi ekologis yang berlapis, mencakup dinamika tema, penokohan dan perwatakan, latar, konflik, hingga mencapai ketersinambungan ekofenomenologi pada tataran ekuilibrium dan disekuilibrium relasi manusia–alam pada novel berjudul Tanah Tabu karya Anindita S. Thayf. Analisis struktural memperlihatkan bahwa tema terbagi menjadi tema mayor dan tema minor. Tema mayor berupa ketidakseimbangan relasi manusia dan lingkungan atas konflik sosial. Tema minor berupa kearifan lokal dan relasi spiritual dengan alam, kekuasaan dan ketidakadilan struktural, pencarian identitas dan dinamika keluarga, serta narasi kenangan dan pewarisan pengalaman hidup. Penokohan terbagi menjadi tokoh utama dan tokoh tambahan dengan Leksi sebagai tokoh utama yang berwatak bulat, diikuti Mabel dengan watak bulat, Mace berwatak bulat, Pum berwatak datar, serta Kwee dengan watak bulat. Latar dipetakan menjadi tiga dengan latar tempat berupa Timika, Lembah Baliem dan Gunung Nemangkawi. Latar waktu menggunakan sorot balik dari peliharaan keluarga dengan sebagian besar penceritaan berlatar tahun 2012, sedangkan latar sosial-budaya dipetakan menjadi latar nilai keluhuran dan etika ekologis beserta latar relasi kuasa dan ketimpangan sosial. Konflik terbagi menjadi konflik fisik dan konflik batin dalam cerita terpusat pada perebutan ruang ekologis, dominasi perusahaan emas, serta pergeseran nilai budaya. Sintesis ekofenomenologi memperlihatkan dua konfigurasi relasi manusia– alam. Konfigurasi disekuilibrium didominasi tindakan destruktif berupa eksploitasi emas, penggusuran ruang hidup, pencemaran sungai, hilangnya kesadaran ekologis generasi muda, serta keretakan nilai kosmis masyarakat adat oleh kaum pendatang yang menguasai ekosistem. Disekuilibrium tampak melalui ketidakseimbangan material maupun spiritual ketika alam direduksi menjadi komoditas. Wujud disekuilibrium menyelimuti aspek sosial, ekologis, serta eksistensial masyarakat adat yang menduduki wilayah terkait sejak awal sehingga menjauhkan manusia dari pengalaman tubuh yang menyatu dengan alam pada penduduk asli. Adapun pembahasan mengenai konsepsi disekuilibrium dielaborasikan menjadi bagianbagian utama yang meliputi disekuilibrium ruang hidup dan eksploitasi lingkungan, disekuilibrium relasi sosial dan ketimpangan kekuasaan, serta disekuilibrium nilai budaya dan kesadaran ekologis. Konfigurasi ekuilibrium tampak melalui kearifan lokal atau masyarakat adat sebagai penduduk asli yang menata hubungan manusia dengan batas ekologis. Praktik mengambil seperlunya, menghormati gunung sebagai ruang sakral, serta kedekatan emosional dengan hewan memperlihatkan keberlanjutan nilai ekologis leluhur. Hubungan antartubuh yang telah dijalankan secara turun menurun dari zaman terdahulu, baik manusia maupun makhluk lain, menegaskan bahwa relasi ekologis bersandar pada kesadaran embodied yang memelihara ritme alam. Ekuilibrium juga terlihat dalam pengalaman ruang hutan dan kampung dari masyarakat adat yang memberikan rasa teduh, aman, serta menyatu dengan kehidupan sehari-hari. Demikianlah kondisi ekuilibrium dalam pembahasan diklasifikasikan dalam ekuilibrium ruang hidup dan kesadaran kosmis, ekuilibrium relasi manusia dan makhluk lain, serta ekuilibrium praktik hidup dan nilai kearifan lokal. Disekuilibrium lebih dominan dibanding ekuilibrium karena logika kapital, kekuasaan bersenjata, serta eksploitasi industrial menekan struktur sosial-budaya masyarakat lokal. Kehadiran perusahaan emas mengubah orientasi hidup dari keberlanjutan ekologis menuju keuntungan material. Dominasi teknologi berat, pencemaran, penggusuran, serta perebutan sumber daya menciptakan tekanan yang melampaui kemampuan masyarakat mempertahankan nilai ekologis leluhur. Oleh karena itu, ekuilibrium hanya muncul sebagai fragmen yang mempertahankan jejak kearifan lama, sedangkan disekuilibrium menguasai narasi melalui kerusakan ruang kosmis dan keretakan relasi kemanusiaan. | |
| dc.description.sponsorship | Dosen Pembimbing : Dewi Angelina, S.S., M.A. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/9330 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Ilmu Budaya | |
| dc.subject | Disekuilibrium | |
| dc.subject | Ekuilibrium | |
| dc.subject | Ekofenomenologi | |
| dc.subject | Analisis Novel | |
| dc.title | Disekuilibrium dan Ekuilibrium Manusia-Alam Dalam Novel Tanah Tabu Karya Anindita S. Thayf: Kajian Ekofenomenologi | |
| dc.type | Other |
