Pengaruh Neem Gum Terhadap Kadar Ast Dan Alt Tikus Wistar Yang Diinduksi High Fat Fructose Diet
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
Pola diet masyarakat modern menunjukkan pergeseran menuju
konsumsi makanan tinggi lemak dan tinggi gula, yang dikenal sebagai high
fat fructose diet (HFFD). Pola konsumsi ini umumnya mengandung lebih
dari 45% lemak dan lebih dari 10% fruktosa dari total energi harian,
melebihi batas asupan yang direkomendasikan oleh World Health
Organization (WHO). Berbagai makanan yang mengandung tinggi lemak
dan tinggi fuktosa seperti makanan cepat saji, bersantan, minuman kemasan
dengan pemanis buatan seringkali dikonsumsi secara berlebihan. Asupan
lemak dan fruktosa yang berlebih berpotensi menyebabkan akumulasi
lemak di hepar, yang seiring waktu dapat memicu inflamasi dan berprogresi
menjadi kerusakan hepatoseluler. Kondisi ini umumnya ditandai dengan
peningkatan kadar enzim aspartate aminotransferase (AST) dan alanine
aminotransferase (ALT) di sirkulasi. Upaya pencegahan kerusakan hepar
akibat HFFD dapat dilakukan melalui mekanisme antiinflamasi dan
pengaturan metabolisme lemak. Salah satu senyawa alami yang
diperkirakan memiliki potensi tersebut adalah neem gum, yang kaya akan
polisakarida kompleks. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk
mengetahui pengaruh pemberian neem gum terhadap kadar AST dan ALT
pada tikus yang diinduksi HFFD.
Penelitian ini menggunakan desain true experimental dengan post
test only group untuk menilai kadar AST dan ALT tikus. Objek penelitian
terdiri dari 18 ekor tikus yang dialokasikan secara random berdasarkan
stratifikasi berat badan ke dalam 3 kelompok, yaitu kelompok kontrol
normal (KN) yang diberikan pakan standar, kelompok kontrol negatif (K-)
yang diberikan HFFD, serta kelompok perlakuan (P) yang diberikan HFFD
+ neem gum. Durasi penelitian dilaksanakan selama 28 hari, kemudian
dilakukan terminasi pada hari ke-29 untuk dilakukan pengambilan sampel
darah. Selanjutnya, dilakukan pengukuran kadar enzim AST dan ALT
menggunakan metode kinetik enzimatik dengan spektrofotometer.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata – rata kadar AST dan
ALT pada seluruh kelompok masih berada dalam rentang referensi normal.
Kelompok pakan standar (KN) memiliki nilai tertinggi, diikuti kelompok
HFFD + neem gum (P), serta kelompok HFFD (K-) dengan nilai paling
rendah. Uji komparasi One-Way ANOVA menunjukkan adanya perbedaan
yang signifikan pada kedua parameter. Akan tetapi, pada uji post-hoc,
perbandingan nilai AST antara kelompok HFFD (K-) dengan kelompok
HFFD + neem gum (P) tidak menunjukkan perbedaan yang signifikan secara
statistik. Sebaliknya, pada nilai ALT diperoleh perbedaan yang signifikan,
namun arah perbedaan menunjukkan bahwa nilai ALT pada kelompok
HFFD + neem gum (P) lebih tinggi.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa pemberian neem gum pada tikus
Wistar yang diinduksi HFFD tidak mampu menurunkan kadar AST dan
ALT. Penelitian lanjutan perlu dilakukan dengan durasi induksi HFFD yang
lebih panjang, disertai pengukuran parameter biokimia pendukung seperti
profil lipid, insulin, penanda inflamasi sistemik, dan aktivitas fisik hewan
coba. Selanjutnya, pemeriksaan histopatologi hepar diperlukan untuk
menilai perubahan struktural jaringan secara langsung, serta penggunaan
kelompok neem gum tanpa induksi HFFD untuk mengevaluasi efek
hepatoprotektif neem gum pada kondisi non-HFFD.
Description
Reupload Repositori File 09 Juni 2026_Kholif Basri
