Analisis Keterampilan Berpikir Analitis Siswa SMA pada Materi Suhu dan Kalor dengan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Pendidikan merupakan hasil dari kemajuan suatu bangsa yang dibangun
berdasarkan pandangan hidup bangsa itu sendiri. Kurikulum Merdeka Belajar
menitikberatkan pada pengembangan keterampilan abad 21, seperti keterampilan
berpikir. Pendidikan modern menekankan pentingnya keterampilan berpikir
analitis, terutama pada bidang sains seperti fisika. Pembelajaran fisika menuntut
keterampilan siswa untuk mengamati, bereksperimen, dan menganalisis, namun di
sekolah masih banyak ditemui kendala karena siswa kurang memahami materi
yang disampaikan secara konvensional, terutama pada materi suhu dan kalor yang
dianggap sulit akibat kebingungan dalam memahami konsep serta minimnya
praktikum sederhana. Untuk mengatasi permasalahan tersebut, diperlukan
pengembangan bahan ajar berupa LKPD yang dirancang menggunakan model
Problem Based Learning (PBL) agar pembelajaran lebih kontekstual dan mampu
melatih keterampilan berpikir analitis siswa. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk
menganalisis keterampilan berpikir analitis siswa SMA pada materi suhu dan
kalor dengan menerapkan model PBL.
Penelitian ini termasuk dalam jenis penelitian deskriptif kualitatif,
menyajikan gambaran mengenai konsep keterampilan berpikir analitis siswa SMA
dalam materi suhu dan kalor dengan menggunakan model PBL. Tahapan
penelitian yang dilakukan antara lain tahapan perencanaan penelitian, studi awal,
pengumpulan data, analisis data, dan penyusunan proposal. Penelitian dilakukan
di SMA Negeri Darussholah Singojuruh pada tahun ajaran 2025/2026. Teknik
pengumpulan data pada penelitian ini adalah observasi, wawancara, dan
dokumentasi.
Hasil dari penelitian menganalisis keterampilan berpikir analitis siswa
SMA melalui penerapan model PBL yang diukur melalui tiga indikator berpikir
analitis, yaitu membedakan, mengorganisasi, dan mengatribusi menunjukkan
bahwa keterampilan berpikir analitis siswa berada pada ketegori baik, yang
terlihat dari data observasi, LKPD, dan dokumentasi. Siswa mampu menguraikan
masalah menjadi bagian kecil (membedakan), menyusun informasi secara
sistematis (mengorganisasi), serta menggabungkan informasi untuk menarik
kesimpulan yang tepat (mengatribusi). Setiap langkah dalam PBL terbukti melatih
ketiga indikator tersebut, mulai dari orientasi masalah hingga penarikan
kesimpulan.
Meskipun demikian, penelitian ini mengalami beberapa hambatan,
meliputi keterbatasan waktu dalam penerapan model Problem Based Learning
(PBL), terutama pada tahap melakukan penyelidikan dan mengembangkan hasil
penyelidikan, serta kurangnya pengalaman siswa dalam melakukan praktikum
sehingga penggunaan alat belum optimal. Selain itu, referensi dalam penyusunan
LKPD masih terbatas, variasi bentuk soal belum maksimal, dan keterampilan
berpikir analitis siswa belum merata, khususnya pada indikator mengorganisasi
dan mengatribusi. Solusi yang dilakukan yaitu mengatur waktu pembelajaran
secara lebih efektif, menyederhanakan kegiatan percobaan, serta memberikan
penjelasan dan bimbingan selama praktikum. Peneliti juga memperkaya referensi
LKPD, melakukan penyesuaian LKPD secara bertahap, serta memberikan
pendampingan dan pertanyaan reflektif sederhana untuk membantu meningkatkan
keterampilan berpikir analitis siswa.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa penerapan model
PBL pada materi suhu dan kalor mampu melatih keterampilan berpikir analitis
siswa SMA yang meliputi indikator membedakan, mengorganisasi, dan
mengatribusi, dengan capaian berada pada kategori baik. Melalui penggunaan
LKPD berbasis PBL, siswa mampu menguraikan permasalahan, menyusun
informasi secara sistematis, serta mengaitkan hasil pengamatan untuk menarik
kesimpulan yang sesuai dengan konsep fisika, sehingga pembelajaran menjadi
lebih kontekstual dan bermakna.
Description
Reuploud Repository hasyim Juni 2026
