Kuasa Barat atas Timur dalam Novel Lebih Putih Dariku Karya Dido Michielsen: Kajian Orientalisme Edward W. Said
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Pertentangan antara negara-negara Barat dengan negara-negara Timur
berlangsung setidaknya beberapa abad terakhir. Indonesia, meskipun secara politis
mengaku tidak memihak salah satunya, tetapi tetap saja berdiri di pihak Timur.
Sastra menangkap fenomena ini dengan unik. Salah satunya seperti yang dilakukan
pada novel Lebih Putih Dariku oleh Dido Michielsen. Novel ini tidak hanya
menggambarkan realitas nyai (gundik) pada masa kolonialisme Belanda di
Kepulauan Nusantara. Namun, juga memuat dinamika pertentangan Barat dan
Timur secara umum. Pertentangan-pertentangan tersebut ternyata menghasilan
upaya penguasaan dalam diri Belanda terhadap Kepulauan Nusantara.
Kajian ini bertujuan mengungkap pertentangan-pertentangan antara pihak
Barat dan Timur beserta relasinya antarunsurnya. Selain itu, kajian ini juga
bertujuan untuk mengungkap berbagai pandangan dan kuasa bangsa Barat yang
ditujukan kepada orang-orang Timur. Metode penelitian yang digunakan adalah
metode kualitatif dengan analisis deskriptif. Objek material adalah berupa novel
Lebih Putih Dariku karya Dido Michielsen (2022). Objek formal adalah oposisi
biner dan relasi antarunsur. Selain itu juga berbagai pandangan dan kuasa bangsa
Barat terhadap orang Timur berdasarkan teori orientalisme menurut Edward W.
Said. Satuan analisis berupa kalimat, paragraf, atau wacana yang menunjukkan
unsur oposisi biner dan pandangan serta kuasa Barat atas Timur menurut teori
orientalisme Edward W. Said.
Hasil analisis struktural dari penelitian ini adalah, ditemukan adanya enam
aspek yang pertentangan antara Barat dan Timur dalam novel Lebih Putih Dariku.
Enam aspek pertentangan tersebut adalah arsitektur, makanan, busana, agama,
bahasa, dan pendidikan. Pada arsitektur, orang Barat menggunakan arsitektur khas
Eropa di bangunannya, sementara lokal Nusantara menggunakan arsitektur Jawa.
Makanan Eropa sangat berbeda dengan masakan Jawa. Busana juga terlihat sangat
mencolok perbedaannya antara khas Eropa dan Jawa. Selain itu, orang Barat
menganut agama Kristen, baik Protestan maupun Katolik. Namun, orang Jawa
menganut agama Islam. Bahasa Belanda (Barat) juga sangat kontras dengan bahasa
Jawa (Timur). Sama halnya dengan pendidikan yang begitu bertolakbelakang
antara Barat dengan Timur. Pertentangan tersebut saling bertautan sehingga
membentuk struktur utuh novel.
Hasil analisis orientalisme Edward W. Said menunjukkan adanya
pandangan-pandangan orang Barat, yakni orang Belanda, yang bersifat
diskriminatif, merendahkan, dan meremehkan martabat orang Timur. Nada-nada
cemooh dari tokoh Belanda seperti Lot sangat tampak, terutama terhadap tokoh
utama, yakni Isah, dan juga kepada kedua anak Isah, Pauline dan Louisa.
Pandangan-pandangan merendahkan tersebut tidak hanya tampak gamblang, tetapi
juga tampak terselubung melalui berbagai keputusan tokoh Barat yang menyangkut
tokoh-tokoh Timur. Pandangan-pandangan yang meremehkan tersebut lebih lanjut
membuat para tokoh Belanda merasa berkuasa atas orang Timur. Alhasil, perasaan
berkuasa tersebut menghasilkan kekuasaan di tangan orang Barat atas orang Timur.
Menurut teori orientalisme Edward W. Said, terdapat empat kekuasaan. Empat
kuasa tersebut adalah kuasa politik, intelektual, kultural, dan moral. Kuasa politis
yang ditemukan di antaranya upaya kerajaan Belanda menguasai Keraton
Yogyakarta, serta tindakan Lot untuk menjauhkan Isah dari kedua anaknya. Kuasa
intelektual yang ditemukan salah satunya memaksakan pendidikan Barat terhadap
kedua anak Isah dibanding pendidikan Timur. Kuasa kultural yang ditemukan yakni
pemaksaan penggunaan bahasa, arsitektur, makanan Barat dibanding ala Timur.
Sementara kuasa moral yang dtemukan di antaranya adalah tindakan sopan santun
para tokoh Jawa yang sangat diatur oleh tokoh Barat agar mengikuti standar sopan
santun Barat.
Description
Reuploud file repositori 19 Mei 2026_Firli
Approved by Teddy
