Seni Bertani di Usia Lanjut: Keseimbangan Relasi Sosial Buruh Tani Lansia di Desa Lembengan Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Abstract
Aktivitas bertani yang masih ditekuni oleh para buruh tani lansia di Indonesia
khususnya Desa Lembengan, Kabupaten Jember, menunjukkan sebuah fenomena
sosial yang unik di mana mereka tetap produktif di tengah keterbatasan fisik.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan proses
keseimbangan relasi sosial yang terjadi pada buruh tani lansia, yang dimaknai
sebagai wujud "Seni Bertani". Dengan menggunakan metode penelitian kualitatif
dan pendekatan fenomenologis, data dikumpulkan melalui observasi, wawancara
mendalam, dan dokumentasi. Analisis difokuskan pada pemahaman terhadap
pengalaman para buruh tani lansia dalam menyeimbangkan dimensi keluarga,
kultural, dan ekonomi dalam kehidupan mereka. Temuan penelitian menunjukkan
bahwa "Seni Bertani di Usia Lanjut" merupakan fenomena yang menjangkau
repertoar aspek kepetanian dan manifestasi dari rasionalitas subsistensi yang
kompleks, bukan sekadar aktivitas ekonomi. Keseimbangan relasi sosial dicapai
melalui dua mekanisme utama dalam kerangka teoritik Chayanov. Pertama,
keseimbangan tenaga kerja-konsumen, di mana rumah tangga tani secara dinamis
menyeimbangkan ketersediaan tenaga kerja melalui mobilisasi bantuan anggota
keluarga dan diversifikasi pekerjaan dengan tingkat konsumsi keluarga yang harus
dipenuhi. Kedua, keseimbangan antara faedah dan jerih payah, di mana makna
"faedah" (manfaat) tidak hanya bersifat material, tetapi juga non-material seperti
pemenuhan tanggung jawab moral, aktualisasi diri, dan menjaga martabat. Faedah
non-material inilah yang mendorong para lansia untuk terus mencurahkan "jerih
payah" (beban kerja) yang berat. Kesimpulannya, Seni Bertani merupakan strategi
adaptif yang memungkinkan buruh tani lansia untuk mempertahankan
keberlangsungan hidup dan eksistensi sosial. Penelitian ini memberikan kontribusi
dengan memperluas kerangka Chayanovian pada konteks buruh tani upahan tanpa
lahan di era kontemporer, serta menegaskan pentingnya faktor kultural dan
psikologis dalam memahami logika ekonomi petani
Description
Reaploud Repository Mei 2026
:: Finalisasi Repositori File 19 Mei 2026_Kurnadi
