Hubungan Tingkat Kecukupan Energi dan Status Hidrasi dengan Kelelahan Kerja pada Nelayan (Studi di Desa Puger Wetan Kabupaten Jember)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Ruang Kuliah 1 Lantai 1 FKM UNEJ
Abstract
Kelelahan adalah salah satu faktor risiko yang dapat menurunkan derajat
kesehatan pekerja sehingga berakibat pada meningkatnya kesalahan dalam
melakukan pekerjaan dan dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja.
Kelelahan dapat disebabkan karena kurangnya tingkat kecukupan energi dan status
hidrasi. Kurangnya tingkat kecukupan energi dapat menyebabkan turunnya kadar
glukosa dalam darah sehingga terjadi proses pemecahan molekul glikogen menjadi
glukosa. Produk akhir dari proses ini yaitu Adenosin Trifosfat (ATP) dan asam
laktat. Asam laktat yang dihasilkan akan menyebabkan kelelahan pada otot.
Kebutuhan selain zat gizi yang juga penting adalah kebutuhan cairan. Kebutuhan
cairan yang kurang (dehidrasi) menyebabkan pengentalan darah sehingga proses
kerja jantung untuk memompa darah menjadi lebih keras dan berdampak pada
terjadinya kelelahan. Kelelahan dapat terjadi pada semua jenis pekerjaan, termasuk
nelayan. Desa Puger Wetan merupakan salah satu desa di Kecamatan Puger dengan
jumlah nelayan aktif sebanyak 2185 orang. Berdasarkan hasil studi pendahuluan
dari 15 nelayan yang diwawancara, keseluruhannya mengalami kelelahan.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat kecukupan
energi dan status hidrasi dengan kelelahan pada nelayan di Desa Puger Wetan
Kabupaten Jember.
Penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian observasional analitik
dengan menggunakan desain studi cross sectional yang dilakukan pada nelayan di
Desa Puger Wetan, Kabupaten Jember pada bulan Februari – April. Populasi dalam
penelitian ini berjumlah 2185 orang dengan sampel sebanyak 106 orang. Variabel
bebas dalam penelitian ini adalah tingkat kecukupan energi dan status hidrasi dan
variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat kelelahan kerja. Teknik
pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner meliputi karakteristik nelayan (usia, pendidikan dan pendapatan), kuesioner Swedish
Occupational Fatigue Index (SOFI) untuk mengukur tingkat kelelahan kerja, kartu
Periksa Urin Sendiri (PURI) untuk mengukur status hidrasi, dan food recall 2×24
jam untuk mengukur tingkat kecukupan energi. Data dianalisis menggunakan uji
korelasi rank spearman dengan α sebesar 0,05, kemudian hasilnya disajikan dalam
bentuk tabel serta narasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan paling banyak berada di
kategori usia usia dewasa akhir (32,1%) dengan tingkat pendidikan didominasi oleh
tamatan SD/MI/Sederajat (41,5%), dan tingkat pendapatan paling banyak pada
kategori rendah (40,6%). Sebagian besar nelayan mengalami kelelahan kerja
tingkat sedang (54,7%), tingkat kecukupan energi kategori defisit sedang (41,5%),
dan mengalami dehidrasi tingkat ringan (48,1%). Hasil uji korelasi menunjukan
bahwa terdapat hubungan antara tingkat kecukupan energi dengan kelelahan kerja
pada nelayan dengan p value < 0,0001 dengan r = -0,449 yang berarti kekuatan
hubungan kedua variabel sedang (0,40-0,59) dengan arah hubungan negatif yang
berarti semakin defisit tingkat kecukupan energi, maka semakin berat tingkat
kelelahan kerja. Terdapat hubungan variabel status hidrasi dengan kelelahan kerja
pada nelayan dengan p value 0,003 dengan r = 0,289 yang berarti kekuatan
hubungan kedua variabel lemah (0,20-0,39) dengan arah hubungan positif yang
berarti semakin berat status hidrasi, maka semakin berat juga tingkat kelelahan
kerja.
Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara tingkat
kecukupan energi dan status hidrasi dengan kelelahan kerja pada nelayan. Saran
yang diberikan nelayan diharapkan dapat memperhatikan terkait konsumsi
makanan dengan gizi seimbang serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh terutama
pada saat melaut. Bagi peneliti selanjutnya dapat menganalisis lebih lanjut faktorfaktor lain yang menyebabkan kelelahan kerja seperti status gizi, kualitas tidur,
beban kerja dan stres kerja pada nelayan dengan pengukuran status hidrasi
menggunakan berat jenis urin. Bagi Dinas Kesehatan dapat melakukan pembinaan
terkait Pos Kesehatan Kerja (Pos UKK) nelayan dan difasilitasi oleh Puskesmas
untuk memberikan pemahaman dan kepedulian terkait kesehatan pekerja
Description
Reuploud file repositori 8 Apr 2026_Firli_tata
