Hubungan Tingkat Kecukupan Energi dan Status Hidrasi dengan Kelelahan Kerja pada Nelayan (Studi di Desa Puger Wetan Kabupaten Jember)
| dc.contributor.author | Delina Krisnauli Safitri | |
| dc.date.accessioned | 2026-04-08T07:27:09Z | |
| dc.date.issued | 2024-07-02 | |
| dc.description | Reuploud file repositori 8 Apr 2026_Firli_tata | |
| dc.description.abstract | Kelelahan adalah salah satu faktor risiko yang dapat menurunkan derajat kesehatan pekerja sehingga berakibat pada meningkatnya kesalahan dalam melakukan pekerjaan dan dapat menyebabkan terjadinya kecelakaan kerja. Kelelahan dapat disebabkan karena kurangnya tingkat kecukupan energi dan status hidrasi. Kurangnya tingkat kecukupan energi dapat menyebabkan turunnya kadar glukosa dalam darah sehingga terjadi proses pemecahan molekul glikogen menjadi glukosa. Produk akhir dari proses ini yaitu Adenosin Trifosfat (ATP) dan asam laktat. Asam laktat yang dihasilkan akan menyebabkan kelelahan pada otot. Kebutuhan selain zat gizi yang juga penting adalah kebutuhan cairan. Kebutuhan cairan yang kurang (dehidrasi) menyebabkan pengentalan darah sehingga proses kerja jantung untuk memompa darah menjadi lebih keras dan berdampak pada terjadinya kelelahan. Kelelahan dapat terjadi pada semua jenis pekerjaan, termasuk nelayan. Desa Puger Wetan merupakan salah satu desa di Kecamatan Puger dengan jumlah nelayan aktif sebanyak 2185 orang. Berdasarkan hasil studi pendahuluan dari 15 nelayan yang diwawancara, keseluruhannya mengalami kelelahan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara tingkat kecukupan energi dan status hidrasi dengan kelelahan pada nelayan di Desa Puger Wetan Kabupaten Jember. Penelitian ini termasuk kedalam jenis penelitian observasional analitik dengan menggunakan desain studi cross sectional yang dilakukan pada nelayan di Desa Puger Wetan, Kabupaten Jember pada bulan Februari – April. Populasi dalam penelitian ini berjumlah 2185 orang dengan sampel sebanyak 106 orang. Variabel bebas dalam penelitian ini adalah tingkat kecukupan energi dan status hidrasi dan variabel terikat dalam penelitian ini adalah tingkat kelelahan kerja. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan wawancara menggunakan kuesioner meliputi karakteristik nelayan (usia, pendidikan dan pendapatan), kuesioner Swedish Occupational Fatigue Index (SOFI) untuk mengukur tingkat kelelahan kerja, kartu Periksa Urin Sendiri (PURI) untuk mengukur status hidrasi, dan food recall 2×24 jam untuk mengukur tingkat kecukupan energi. Data dianalisis menggunakan uji korelasi rank spearman dengan α sebesar 0,05, kemudian hasilnya disajikan dalam bentuk tabel serta narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nelayan paling banyak berada di kategori usia usia dewasa akhir (32,1%) dengan tingkat pendidikan didominasi oleh tamatan SD/MI/Sederajat (41,5%), dan tingkat pendapatan paling banyak pada kategori rendah (40,6%). Sebagian besar nelayan mengalami kelelahan kerja tingkat sedang (54,7%), tingkat kecukupan energi kategori defisit sedang (41,5%), dan mengalami dehidrasi tingkat ringan (48,1%). Hasil uji korelasi menunjukan bahwa terdapat hubungan antara tingkat kecukupan energi dengan kelelahan kerja pada nelayan dengan p value < 0,0001 dengan r = -0,449 yang berarti kekuatan hubungan kedua variabel sedang (0,40-0,59) dengan arah hubungan negatif yang berarti semakin defisit tingkat kecukupan energi, maka semakin berat tingkat kelelahan kerja. Terdapat hubungan variabel status hidrasi dengan kelelahan kerja pada nelayan dengan p value 0,003 dengan r = 0,289 yang berarti kekuatan hubungan kedua variabel lemah (0,20-0,39) dengan arah hubungan positif yang berarti semakin berat status hidrasi, maka semakin berat juga tingkat kelelahan kerja. Kesimpulan penelitian ini adalah terdapat hubungan antara tingkat kecukupan energi dan status hidrasi dengan kelelahan kerja pada nelayan. Saran yang diberikan nelayan diharapkan dapat memperhatikan terkait konsumsi makanan dengan gizi seimbang serta mencukupi kebutuhan cairan tubuh terutama pada saat melaut. Bagi peneliti selanjutnya dapat menganalisis lebih lanjut faktorfaktor lain yang menyebabkan kelelahan kerja seperti status gizi, kualitas tidur, beban kerja dan stres kerja pada nelayan dengan pengukuran status hidrasi menggunakan berat jenis urin. Bagi Dinas Kesehatan dapat melakukan pembinaan terkait Pos Kesehatan Kerja (Pos UKK) nelayan dan difasilitasi oleh Puskesmas untuk memberikan pemahaman dan kepedulian terkait kesehatan pekerja | |
| dc.description.sponsorship | Dosen Pembimbing Utama: Nur Fitri Widya Astuti, S.Gz., M.P.H Dosen Pembimbing Anggota: Ana Islamiyah Syamila, S.Keb., M.KKK | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/6653 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Ruang Kuliah 1 Lantai 1 FKM UNEJ | |
| dc.subject | Nelayan | |
| dc.subject | Kelelahan Kerja | |
| dc.subject | tingkat kecukupan energi | |
| dc.title | Hubungan Tingkat Kecukupan Energi dan Status Hidrasi dengan Kelelahan Kerja pada Nelayan (Studi di Desa Puger Wetan Kabupaten Jember) | |
| dc.type | Other |
