Representasi Maskulinitas Pada Novel “Negeri Para Bedebah” Karya Tere Liye
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Liye melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, yang meliputi analisis tanda
denotasi, konotasi, dan mitos. Penelitian ini mengeksplorasi penggambaran
maskulinitas pada tokoh, pembentukan konstruksi maskulinitas, serta pemanfaatan
hasil analisis sebagai alternatif materi pembelajaran sastra di SMA. Kajian ini
relevan karena novel mencerminkan dinamika sosial, budaya, dan gender,
khususnya konsep maskulinitas yang berkembang dalam masyarakat.
Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan semiotika
Roland Barthes. Objek penelitian adalah teks novel Negeri Para Bedebah, dengan
sumber data berupa kutipan novel. Data yang dianalisis mencakup tanda-tanda
denotasi, konotasi, dan mitos, yang diperoleh melalui teknik observasi dan
dokumentasi. Analisis data dilakukan dengan model Miles dan Huberman, meliputi
reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan.
Hasil penelitian menunjukkan: (1) Tanda Denotasi, Konotasi, dan Mitos:
Denotasi terlihat pada narasi langsung, seperti penggambaran Thomas sebagai
konsultan keuangan profesional. Konotasi muncul melalui simbolisme, seperti frasa
“serigala berbalut jas” yang mengkritik keserakahan kapitalisme. Mitos
mencerminkan ideologi masyarakat urban Jakarta, seperti ekspektasi pria sebagai
pelindung dan dominasi dalam dunia bisnis. (2) Penggambaran Maskulinitas:
Thomas mewakili maskulinitas hegemonik yang berpadu dengan sifat humanis,
Opa mencerminkan maskulinitas tradisional yang bijaksana, Ram dan Wusdi
menunjukkan maskulinitas hegemonik toksik, dan Tunga menggambarkan ambisi
kekuasaan. (3) Pembentukan Maskulinitas: Maskulinitas Thomas dipengaruhi oleh
trauma keluarga, lingkungan ekonomi-politik, dan nilai budaya TionghoaIndonesia dari Opa yang menekankan integritas. (4) Pemanfaatan untuk
Pembelajaran: Analisis novel ini dapat digunakan sebagai materi pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA (Fase F, kelas XII, Kurikulum Merdeka) untuk
meningkatkan keterampilan membaca, menulis, dan berpikir kritis siswa dalam
memahami tanda, mitos, dan isu gender.
Kesimpulan dan Saran: Novel Negeri Para Bedebah menyajikan
representasi maskulinitas yang kompleks, dari hegemonik hingga humanis,
dipengaruhi oleh trauma, struktur sosial-ekonomi, dan budaya tradisional. Hasil
analisis ini dapat menjadi alternatif materi pembelajaran sastra di SMA untuk
meningkatkan literasi budaya dan keterampilan berbahasa. Saran penelitian: (1)
Peneliti selanjutnya dapat mengkaji aspek lain, seperti femininitas atau konflik
sosial dalam novel ini; (2) Masyarakat diharapkan mengapresiasi karya sastra
sebagai cerminan isu sosial; (3) Pendidik dapat memanfaatkan analisis ini untuk
memperkaya pembelajaran sastra dan meningkatkan kesadaran kritis siswa
terhadap isu gender.
Description
Reupload Repository Maya 26 Maret 2026
