Cancel Culture dalam Mise En Scene Film Budi Pekerti (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Perkembangan media sosial telah menciptakan ruang baru bagi interaksi
sosial yang memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan opini secara terbuka.
Namun, kemudahan ini juga memunculkan fenomena sosial bernama cancel
culture, yakni tindakan pembatalan atau pengucilan terhadap individu akibat
perilaku atau ucapan yang dianggap melanggar norma dan biasanya terjadi pada
media sosial. Fenomena tersebut digambarkan dalam film Budi Pekerti karya
Wregas Bhanuteja. Film tersebut mengisahkan seorang guru bernama Bu Prani
yang menjadi sasaran pembatalan warganet setelah videonya saat berselisih di pasar
tersebar di media sosial. Film ini menarik karena tidak hanya menyajikan kisah
cancel culture secara naratif, tetapi juga menampilkan kekuatan visual melalui
elemen mise en scene yang menggambarkan fenomena tersebut secara mendalam.
Hal tersebut menjadi landasan penelitian untuk menelaah elemen-elemen mise en
scene yang berperan penting dalam menggambarkan tahapan cancel culture dalam
film Budi Pekerti.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan elemen
mise en scene dalam film Budi Pekerti yang menggambarkan tahapan cancel
culture, yaitu catalyst, support, resistance, dan response of the cancellee.
Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan landasan teori
semiotika Charles Sanders Peirce. Teori ini mengkaji tanda melalui hubungan
antara representamen (tanda), object (objek sosial), dan interpretant (penafsiran).
Peneliti mengamati film secara menyeluruh, memilih empat adegan utama yang
mewakili setiap tahapan cancel culture, dan kemudian mendeskripsikan elemen
mise en scene seperti setting, properti, kostum, tata rias, pencahayaan, dan
pergerakan aktor pada adegan-adegan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen-elemen mise en scene tersebut
mampu berfungsi sebagai tanda visual yang memuat makna sosial, ketika
ditafsirkan melalui kategori ikon, indeks, dan simbol dari teori Peirce. Misalnya,
properti handphone dan setting pasar tradisional dalam adegan catalyst menjadi
simbol kekuatan media digital dan ruang publik yang memicu pembatalan terhadap
Bu Prani. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan semiotika Peirce efektif
dalam mengungkap makna sosial tersembunyi dari elemen visual film, khususnya
dalam menggambarkan fenomena cancel culture.
Description
Reupload file repositori 27 Mar 2026_Maya
