Cancel Culture dalam Mise En Scene Film Budi Pekerti (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce
| dc.contributor.author | Muhammad Adi Daffa Alaudin | |
| dc.date.accessioned | 2026-03-27T07:19:23Z | |
| dc.date.issued | 2025-06-14 | |
| dc.description | Reupload file repositori 27 Mar 2026_Maya | |
| dc.description.abstract | Perkembangan media sosial telah menciptakan ruang baru bagi interaksi sosial yang memungkinkan masyarakat untuk menyampaikan opini secara terbuka. Namun, kemudahan ini juga memunculkan fenomena sosial bernama cancel culture, yakni tindakan pembatalan atau pengucilan terhadap individu akibat perilaku atau ucapan yang dianggap melanggar norma dan biasanya terjadi pada media sosial. Fenomena tersebut digambarkan dalam film Budi Pekerti karya Wregas Bhanuteja. Film tersebut mengisahkan seorang guru bernama Bu Prani yang menjadi sasaran pembatalan warganet setelah videonya saat berselisih di pasar tersebar di media sosial. Film ini menarik karena tidak hanya menyajikan kisah cancel culture secara naratif, tetapi juga menampilkan kekuatan visual melalui elemen mise en scene yang menggambarkan fenomena tersebut secara mendalam. Hal tersebut menjadi landasan penelitian untuk menelaah elemen-elemen mise en scene yang berperan penting dalam menggambarkan tahapan cancel culture dalam film Budi Pekerti. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dan mendeskripsikan elemen mise en scene dalam film Budi Pekerti yang menggambarkan tahapan cancel culture, yaitu catalyst, support, resistance, dan response of the cancellee. Pendekatan yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan landasan teori semiotika Charles Sanders Peirce. Teori ini mengkaji tanda melalui hubungan antara representamen (tanda), object (objek sosial), dan interpretant (penafsiran). Peneliti mengamati film secara menyeluruh, memilih empat adegan utama yang mewakili setiap tahapan cancel culture, dan kemudian mendeskripsikan elemen mise en scene seperti setting, properti, kostum, tata rias, pencahayaan, dan pergerakan aktor pada adegan-adegan tersebut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa elemen-elemen mise en scene tersebut mampu berfungsi sebagai tanda visual yang memuat makna sosial, ketika ditafsirkan melalui kategori ikon, indeks, dan simbol dari teori Peirce. Misalnya, properti handphone dan setting pasar tradisional dalam adegan catalyst menjadi simbol kekuatan media digital dan ruang publik yang memicu pembatalan terhadap Bu Prani. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pendekatan semiotika Peirce efektif dalam mengungkap makna sosial tersembunyi dari elemen visual film, khususnya dalam menggambarkan fenomena cancel culture. | |
| dc.description.sponsorship | DPU: Dr. Bambang Aris Kartika, S.S., M.A. DPA: Deddy Suprapto, S.S., M.A. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/5763 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Ilmu Budaya | |
| dc.subject | Cancel Culture | |
| dc.title | Cancel Culture dalam Mise En Scene Film Budi Pekerti (Analisis Semiotika Charles Sanders Peirce | |
| dc.type | Other |
