Hubungan Curah Hujan, Suhu Udara, Kelembaban, dan Kecepatan Angin terhadap Kejadian Demam Berdarah Dengue di Kabupaten Jember Pada Tahun 2020-2024
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Demam Berdarah Dengue (DBD) adalah penyakit endemik menular yang
disebabkan virus dengue melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Kasus DBD di
Indonesia mencapai 114.720 pada 2023 dan meningkat 30,6% menjadi 149.866
kasus dengan 916 kematian hingga Juli 2024, dengan Jawa Barat, Jawa Timur, dan
Banten sebagai provinsi dengan kasus tertinggi. Di Jawa Timur, Kabupaten Jember
konsisten menduduki peringkat kedua kasus DBD tertinggi selama 2020-2024,
dengan tren fluktuatif: 945 kasus (2020), 447 kasus (2021), 781 kasus (2022), 561
kasus (2023), dan melonjak drastis menjadi 1.596 kasus (2024). Faktor iklim
menjadi faktor krusial dalam peningkatan kasus DBD. Penelitian menunjukkan
korelasi 84% antara curah hujan dengan kemunculan kasus DBD. Peningkatan suhu
di atas 24°C mendorong perkembangan telur nyamuk, sementara curah hujan
menciptakan genangan air sebagai tempat perkembangbiakan. Kecepatan angin di
bawah 20,372 km/jam juga mendukung kelangsungan hidup nyamuk. Kabupaten
Jember dengan iklim tropisnya (suhu 24-33°C dan curah hujan tahunan 2.091 mm)
menjadi lokasi optimal perkembangbiakan nyamuk. Penelitian ini bertujuan untuk
menganalisis hubungan faktor iklim (curah hujan, suhu, kelembaban, dan kecepatan
angin) dengan kejadian DBD di Jember periode 2020-2024 untuk mendukung
upaya pencegahan dan deteksi dini kasus DBD.
Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain penelitian yang
digunakan yaitu penelitian observasional analitik dengan pendekatan studi ekologi.
Adapun untuk data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data curah hujan,
suhu udara, kelembaban, dan kecepatan angin serta data kejadian DBD bulanan di
Kabupaten Jember tahun 2020-2024. Analisis data menggunakan analisis univariat
dan bivariat. Analisis bivariat menggunakan uji korelasi Spearman-Rho
dikarenakan data tidak berdistribusi normal.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola kejadian DBD di Kabupaten
Jember berfluktuasi, dengan peningkatan kasus yang signifikan terjadi pada bulan
Januari hingga Februari, seiring dengan curah hujan yang tinggi. Curah hujan
terbukti memiliki hubungan yang signifikan dengan kejadian DBD, dengan nilai
signifikansi p = 0,004 dan koefisien korelasi +0,376, yang menunjukkan bahwa
peningkatan curah hujan diikuti oleh peningkatan jumlah kasus DBD. Sebaliknya,
suhu udara, kelembaban, dan kecepatan angin tidak menunjukkan hubungan yang
signifikan dengan kejadian DBD, dengan nilai p masing-masing di atas 0,05.
Meskipun suhu dan kelembaban menunjukkan kecenderungan positif, hubungan
tersebut tergolong lemah. Sedangkan kecepatan angin memiliki korelasi negatif
yang lemah dengan kejadian DBD. Hasil tersebut menjelaskan bahwa curah hujan
adalah faktor iklim yang paling berpengaruh terhadap kejadian DBD, sementara
suhu, kelembaban, dan kecepatan angin tidak berkontribusi signifikan terhadap
dinamika penyebaran DBD.
Berdasarkan hasil penelitian ini, saran yang dapat direkomendasikan bagi
Dinas Kesehatan Kabupaten Jember adalah memperkuat program “Pemberantasan
Sarang Nyamuk” dengan meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat melalui
iklan layanan masyarakat di media sosial atau brosur di sekolah, puskesmas, dan
lingkungan masyarakat. Dinas Kesehatan dapat serta menjalin kerja sama dengan
BMKG Pos Meteorologi Jember untuk memantau faktor iklim dan memberikan
peringatan dini kepada masyarakat. Bagi peneliti selanjutnya disarankan untuk
memperluas cakupan variabel yang diteliti, seperti sanitasi lingkungan dan
kepadatan penduduk, serta memperpanjang periode pemantauan untuk analisis
yang lebih mendetail mengenai pola fluktuasi kejadian DBD dengan perubahan
iklim.
Description
Reuploud file repositori 16 maret 2026_Firli
