Identifikasi Situs Terpendam di Dusun Langsepan-Sumbersari-Jember Menggunakan Metode Geolistrik Resistivitas 3D Konfigurasi Pole-Pole
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Abstract
Indonesia dengan keberagaman adat istiadat, bahasa, ras, suku dan agama
menghasilkan banyak warisan budaya dan sejarah. Jawa Timur merupakan salah
satu provinsi di Indonesia memiliki banyak peninggalan budaya berupa benda
bersejarah dan purbakala yang tersebar di berbagai daerah seperti di Kabupaten
Jember dengan bukti arkeologis berupa peninggalan situs dan artefak. Peninggalan
tersebut membuktikan bahwa Kabupaten Jember pernah menjadi lintasan sejarah
dalam mencari kehidupan yang layak di masa prasejarah hingga masa sejarah. Situs
Alas Kotta merupakan salah satu peninggalan zaman Hindu-Budha yang berada di
Dusun Langsepan Desa Kranjingan Kecamatan Sumbersari Kabupaten Jember.
Peninggalan arkeologis yang telah ditemukan di Situs Alas Kotta yaitu arca,
prasasti, terakota, kepingan uang logam dan batu bata kuno (batabang) yang
didukung oleh catatan Belanda dan informasi dari anggota BSP. Pada Situs Alas
Kotta juga ditemukan singkapan berupa gundukan yang apabila dipukul dengan
palu terdengar bunyi nyaring. Namun, keberadaan situs pada saat ini sulit
ditemukan. Situs peninggalan yang ada tidak dapat dilihat secara detail atau
sebagian besar masih berada di bawah permukaan. Situs Alas Kotta mengalami
kerusakan diduga karena peperangan pada Zaman Klasik, letusan Gunung Raung,
vandalisme dan pergolakan politik pada tahun 1965. Dengan demikian, penelitian
dilakukan untuk mengetahui sebaran peninggalan situs yang masih terpendam serta
merekontruksi pola bangunan dari Candi Alas Kotta. Langkah ini bertujuan menjadi
pertimbangan dilakukannya ekskavasi Situs Alas Kotta yang masih terpendam.
Metode yang digunakan dalam mengidentifikasi persebaran peninggalan
purbakala dari situs terpendam adalah menggunakan metode geolistrik resistivitas.
Metode geolistrik resistivitas adalah teknik yang digunakan untuk memahami sifat
batuan di bawah permukaan tanah berdasarkan nilai resistivitas batuan. Prinsip
kerja dari metode geolistrik resistivitas adalah dilakukan penginjeksian arus listrik
ke permukaan tanah dengan menggunakan dua elektroda arus dan dua elektroda
potensial untuk mengukur nilai beda potensial. Penelitian ini menggunakan metode
geolistrik resistivitas 3D konfigurasi Pole-Pole. Konfigurasi Pole-Pole merupakan
metode resistivitas sederhana karena hanya membutuhkan satu elektroda arus dan
potensial yang aktif sedangkan satu elektroda arus dan potensial lainnya diletakkan
pada jarak tak terbatas. Pengaturan elektroda yang sederhana membuat konfigurasi
Pole-Pole mudah dioperasikan di lapangan sehingga dapat mengurangi waktu
pengambilan data serta memungkinkan survei lebih cepat dan efisien. Konfigurasi
Pole-Pole mempunyai rasio sinyal terhadap noise yang lebih baik sehingga dapat
meningkatkan kualitas data yang diperoleh. Pengambilan data dilakukan sebanyak
11 lintasan dengan panjang lintasan adalah 20 meter. Jarak antar lintasan adalah 2
meter dengan spasi elektroda pada setiap lintasan adalah 2 meter. Setelah data
lapangan diperoleh, pengolahan data dilakukan menggunakan Microsoft Excel
untuk diperoleh nilai resistansi (R) kemudian dikalikan dengan faktor geometri (K)
sehingga nilai resistivitas semu (𝜌𝑎) dapat diketahui. Data yang sudah diolah
kemudian dimodelkan menggunakan software Res3Dinv. Pada software Res3Dinv,
nilai resistivitas semu diubah menjadi resistivitas sebenarnya dengan metode
inversi. Hasil inversi memberikan informarsi berupa citra yang menunjukkan
variasi nilai resistivitas dan kedalaman batuan yang teridentifikasi. Interpretasi hasil
anomali dan nilai resistivitas referensi dijadikan parameter dalam menentukan
keberadaan situs yang terpendam. Nilai hasil interpretasi resistivitas diolah lebih
lanjut untuk diperoleh suatu sayatan horizontal, sayatan vertikal dan bentuk 3D
menggunakan software CorelDRAW X7.
Berdasarkan hasil pengolahan data 3D menggunakan software Res3Dinv
menunjukkan citra sebaran hasil resistivitas bawah permukaan. Pada penampang
horizontal memberikan gambaran permukaan secara mendatar, penampang vertikal
memberikan gambaran permukaan secara tegak lurus dan bentuk 3D memberikan
gambaran berupa panjang, lebar dan tinggi sehingga dapat dilihat dari berbagai sisi.
Jenis material yang terindikasi berupa batuan andesit, batuan putih atau batuan
kapur dan batuan tanah liat atau lempung. Batuan andesit dengan nilai resistivitas
308 – 854 Ωm tersebar dibeberapa lintasan dengan kedalaman 0 – 3,01 m dari
permukaan tanah. Sedangkan batuan tanah liat atau lempung sebagai bahan utama
batu bata menjadi batuan yang mendominasi dengan nilai resistivitas 1,9 – 40,2 Ωm
di kedalaman 0 – 19,2 m dari permukaan tanah. Fakta tersebut diperkuat dengan
banyak ditemukan serpihan batu bata dengan motif guratan disekitar lokasi
penelitian. Pada pusat candi terdapat gundukan dengan anomali berbunyi nyaring
dengan nilai resistivitas 14,5 – 854 Ωm yang diduga terdapat rongga udara sebagai
sumuran candi. Hasil pola distribusi bawah permukaan dari situs Alas Kotta
disesuaikan dengan hasil rekontruksi yang dibuat oleh anggota BSP, terdapat
anomali resistivitas 14,5 – 40,2 Ωm yang diduga sebagai struktur anak tangga atau
pintu masuk ke dalam Candi Alas Kotta.
Description
Reupload File Repositori 25 Februari 2026_Teddy/Hendra
