Analisis Keselamatan Kerja Pada Pengolahan Edamame Beku (Studi Kasus di PT. Mitratani Dua Tujuh)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknologi Pertanian
Abstract
Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) adalah suatu program yang dibuat
pekerjan maupun pengusaha sebagai upaya mencegah timbulnya kecelakaan dan
penyakit akibat kerja dengan cara mengenali hal-hal yang berpotensi
menimbulkan kecelakaan dan penyakit akibat kerja serta tindakan antisipatif
apabila terjadi kecelakaan atau penyakit akibat kerja. Tujuan dari dibuatnya K3
adalah untuk mengurangi biaya perusahaan apabila timbul kecelakaan atau
penyakit akibat kerja. Salah satu contoh perusahaan yang kini makin berkembang
dan banyak diminati bahkan hingga pasar internasional adalah frozen food
industry seperti industri pembekuan edamame, hal ini dikarenakan di Indonesia,
terutama Kota Jember sendiri memiliki hasil pertanian berupa edamame (Glycine
max (L.) Mer.) dengan kualitas ekspor yang cukup baik.
Kemajuan suatu industri, dapat dilihat dari produktivitas yang dihasilkan
juga efisiensi tenaga kerja. Produktivitas suatu industri dapat terpengaruh dengan
adanya masalah maupun risiko yang mungkin terjadi saat proses industri tersebut
berjalan , selain itu produktivitas juga dapat terpengaruh oleh adanya perlatan
penunjang industri yang semakin modern dan berkembang. Perkembangan
teknologi yang semakin canggih akan mengakibatkan timbulnya risiko bahaya
yang mungkin akan merugikan perusahaan maupun tenaga kerja. Suatu
perusahaan akan mempunyai peluang lebih besar jika memiliki tenaga kerja
dengan derajat Kesehatan yang tinggi sehingga akan meningkatkan produktivitas.
PT. Mitratani Dua Tujuh (PT. M27) merupakan sebuah perusahaan swasta
nasional yang bergerak pada usaha pengolahan hasil pertanian dengan spesifikasi
produknya adalah edamame beku dan beberapa hasil pertanian lain yang
dibekukan, seperti oura, buncis, dan sweet potato. Produk edamame beku
merupakan salah satu produk utama yang diproduksi oleh PT. M27. PT. M27
dapat dibilang sebagai perusahaan industri yang cukup moderen, hal ini dapat
dilihat dari proses produksinya banyak menggunakan tenaga mesin meskipun juga
masih ada beberapa proses yang dilakukan secara manual, sehingga hal tersebut
tidak menutup kemungkinan terjadinya kecelakaan kerja seperti tersengat listrik,
terjepit alat hingga terpeleset. Berdasarkan salah satu contoh data yang diperoleh
dari bulan Agustus hingga Desember 2020 telah tercatat satu kejadian kecelakaan
kerja pada tanggal 3 September 2020 yaitu pekerja tertabrak keranjang hingga
kepala pekerja tertimpa keranjang yang mengakibatkan pekerja tersebut
mengalami pusing.
Tujuan dari penelitian ini adalah meminimalisir kemungkinan terjadinya
kecelakaan kerja dengan cara mengidentifikasi bahaya risiko menggunakan
Hazard Identification Risk Assessment and Risk Control (HIRARC) dan
mengevaluasi terjadinya kegagalan atau potensi terjadinya kecelakaan kerja
DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER
DIGITAL REPOSITORY UNIVERSITAS JEMBER
dengan menggunakan metode Failure Mode and Effect Analysis (FMEA).
Penerapan metode FMEA untuk mengevaluasi potensi terjadinya kecelakaan kerja
ini diharapkan dapat menekan atau menghindari kemungkinan terjadinya
kecelakaan kerja pada proses produksi edamame beku.
Hasil dari penelitian tersebut diperoleh 11 risiko terjadinya kecelakaan kerja
pada proses produksi edamame beku dari proses awal yaitu penerimaan bahan
baku hingga proses pengemasan. 11 risiko kekelakaan terja tersebut diantaranya
adalah terpeleset, tersengat listrik, terjepit mesin, kebisingan, terkilir, terbentur,
terkena panas, tertimpa barang, tertabrak satu sama lain, tergores atau kulit lecet,
terjatuh. Berdasarkan hasil analisa yang diperoleh melalui kuesioner dan
perhitungan RPN yang telah dilakukan, potensi kecelakaan kerja yang
memperoleh nilai RPN tertinggi yaitu kecelakaan kerja berupa tertimp barang
dengan nilai RPN sebesar 27.377 dan dan tertabrak satu sama lain dengan nilai
RPN sebesar 20.480. Rekomendasi yang dilakukan untuk meminimalisir
kecelakaan kerja berupa tetimpa barang (keranjang) dapat diminimalisir dengan
cara mengurangi tumpukan keranjang dari 20 tumpukan menjadi 10 hingga 15
tumpukan hingga tinggi dari tumpukan keranjang tersebut tidak begitu jauh dari
rata-rata tinggi pekerja sehingga dapat meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja
sedangkan untuk Potensi terjadinya kecelakaan kerja berupa tertabrak satu sama
lain saat proses memindahkan barang dari satu tempat ke tempat lainnya dapat
diminimalisir dengan cara meningkatkan pengawasan terhadap pekerja agar saat
memindahan barang dengan menggunakan troli lebih berhati-hati dan juga fokus
untuk meminimalisir terjadinya kecelakaan kerja.
Description
Reupload File Repositori 24 Februari 2026_Teddy/Hendra
