Proses Berpikir Siswa Tunagrahita dalam Mendefinisikan Persegi dan Persegi Panjang
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Abstract
Siswa tunagrahita memiliki kemampuan intelektual yang terbatas, sehingga
cenderung mengalami kesulitan dalam memahami konsep abstrak. Pemahaman
mereka terhadap konsep matematika seringkali berbeda dari siswa pada umumnya, dan
hal ini belum banyak diteliti secara mendalam. Dengan menggunakan teori tahapan
berpikir Piaget, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa
tunagrahita ringan dalam mendefinisikan persegi dan persegi panjang berdasarkan
tahapan berpikir Jean Piaget yang mencakup empat tahap, yaitu disequilibrium,
asimilasi, akomodasi, dan equilibrium. Penelitian ini menggunakan pendekatan
deskriptif kualitatif dan dilaksanakan di SLB Negeri Jember. Subjek dalam penelitian
ini adalah satu siswa tunagrahita ringan kelas IX yang dipilih berdasarkan rekomendasi
guru matematika karena memiliki kemampuan komunikasi yang baik diantara siswa
kelas IX yang lain.
Pengumpulan data dilakukan melalui metode wawancara semi terstruktur dan
documentary. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, dibantu
dengan pedoman wawancara yang telah divalidasi. Analisis data dilakukan melalui
tahapan reduksi data, peningkatan ketekunan, perpanjangan pengamatan, penyajian
data, dan penarikan kesimpulan. Metode documentary efektif dalam mengungkap
proses berpikir siswa tunagrahita ringan. Melalui teknik ini dapat menangkap
bagaimana siswa merespon secara langsung, baik dalam bentuk kebingungan,
keraguan, maupun pemahaman yang berkembang. Siswa diminta untuk
mengungkapkan apa yang dipikirkan saat menjawab pertanyaan tentang persegi dan
persegi panjang. Hal ini memberikan gambaran yang jujur dan real time tentang alur
berpikir siswa, termasuk bagaimana informasi baru diasimilasikan atau diakomodasi
dalam skema kognitifnya. Documentary tidak hanya berperan sebagai alat bantu
komunikasi, tetapi juga sebagai sarana dalam menganalisis proses berpikir secara
mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa tunagrahita ringan mengalami
keempat tahapan proses berpikir Piaget. Siswa mengalami disequilibrium saat bingung
membedakan sifat persegi dan persegi panjang, kemudian melakukan asimilasi dengan
menghubungkan informasi baru pada pengetahuan yang telah dimiliki. Akomodasi
terjadi saat siswa menyesuaikan skema kognitifnya untuk memahami informasi baru,
dan pada tahap equilibrium siswa mampu mendefinisikan persegi dan persegi panjang
dengan benar menggunakan bahasanya sendiri serta memberikan contoh benda
konkret dari kehidupan sehari-hari.
Setiap indikator dari tahapan proses berpikir Piaget berhasil teridentifikasi
secara jelas dalam perilaku dan respon siswa. Pada indikator disequilibrium, siswa
mengalami keraguan dan diam ketika diberi pertanyaan tentang ciri-ciri bangun datar.
Asimilasi terlihat saat siswa merespon secara spontan berdasarkan pengetahuan
sebelumnya dan menghubungkan benda-benda yang familiar dengan bangun geometri.
Akomodasi muncul saat siswa mulai menyadari perbedaan sifat dari kedua bangun dan
melakukan penyesuaian pada pemahamannya. Indikator equilibrium ditunjukkan
dengan kemampuan siswa menyusun definisi bangun datar secara mandiri,
mengulangi penjelasan dengan konsisten, serta memberikan contoh benda yang
relevan dengan tepat.
Description
Reupload file repository 23 Februari 2026_Ratna
