Proses Berpikir Siswa Tunagrahita dalam Mendefinisikan Persegi dan Persegi Panjang
| dc.contributor.author | Naela Abdillah Faza | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-23T07:03:26Z | |
| dc.date.issued | 2025-06-09 | |
| dc.description | Reupload file repository 23 Februari 2026_Ratna | |
| dc.description.abstract | Siswa tunagrahita memiliki kemampuan intelektual yang terbatas, sehingga cenderung mengalami kesulitan dalam memahami konsep abstrak. Pemahaman mereka terhadap konsep matematika seringkali berbeda dari siswa pada umumnya, dan hal ini belum banyak diteliti secara mendalam. Dengan menggunakan teori tahapan berpikir Piaget, penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan proses berpikir siswa tunagrahita ringan dalam mendefinisikan persegi dan persegi panjang berdasarkan tahapan berpikir Jean Piaget yang mencakup empat tahap, yaitu disequilibrium, asimilasi, akomodasi, dan equilibrium. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif dan dilaksanakan di SLB Negeri Jember. Subjek dalam penelitian ini adalah satu siswa tunagrahita ringan kelas IX yang dipilih berdasarkan rekomendasi guru matematika karena memiliki kemampuan komunikasi yang baik diantara siswa kelas IX yang lain. Pengumpulan data dilakukan melalui metode wawancara semi terstruktur dan documentary. Instrumen utama dalam penelitian ini adalah peneliti sendiri, dibantu dengan pedoman wawancara yang telah divalidasi. Analisis data dilakukan melalui tahapan reduksi data, peningkatan ketekunan, perpanjangan pengamatan, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Metode documentary efektif dalam mengungkap proses berpikir siswa tunagrahita ringan. Melalui teknik ini dapat menangkap bagaimana siswa merespon secara langsung, baik dalam bentuk kebingungan, keraguan, maupun pemahaman yang berkembang. Siswa diminta untuk mengungkapkan apa yang dipikirkan saat menjawab pertanyaan tentang persegi dan persegi panjang. Hal ini memberikan gambaran yang jujur dan real time tentang alur berpikir siswa, termasuk bagaimana informasi baru diasimilasikan atau diakomodasi dalam skema kognitifnya. Documentary tidak hanya berperan sebagai alat bantu komunikasi, tetapi juga sebagai sarana dalam menganalisis proses berpikir secara mendalam. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa tunagrahita ringan mengalami keempat tahapan proses berpikir Piaget. Siswa mengalami disequilibrium saat bingung membedakan sifat persegi dan persegi panjang, kemudian melakukan asimilasi dengan menghubungkan informasi baru pada pengetahuan yang telah dimiliki. Akomodasi terjadi saat siswa menyesuaikan skema kognitifnya untuk memahami informasi baru, dan pada tahap equilibrium siswa mampu mendefinisikan persegi dan persegi panjang dengan benar menggunakan bahasanya sendiri serta memberikan contoh benda konkret dari kehidupan sehari-hari. Setiap indikator dari tahapan proses berpikir Piaget berhasil teridentifikasi secara jelas dalam perilaku dan respon siswa. Pada indikator disequilibrium, siswa mengalami keraguan dan diam ketika diberi pertanyaan tentang ciri-ciri bangun datar. Asimilasi terlihat saat siswa merespon secara spontan berdasarkan pengetahuan sebelumnya dan menghubungkan benda-benda yang familiar dengan bangun geometri. Akomodasi muncul saat siswa mulai menyadari perbedaan sifat dari kedua bangun dan melakukan penyesuaian pada pemahamannya. Indikator equilibrium ditunjukkan dengan kemampuan siswa menyusun definisi bangun datar secara mandiri, mengulangi penjelasan dengan konsisten, serta memberikan contoh benda yang relevan dengan tepat. | |
| dc.description.sponsorship | DPU : Dr. Susanto, M.Pd. DPA : Reza Ambarwati, M.Pd., M.Sc | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/4133 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan | |
| dc.subject | Proses Berpikir | |
| dc.subject | Siswa Tunagrahita | |
| dc.subject | Persegi dan Persegi Panjang | |
| dc.title | Proses Berpikir Siswa Tunagrahita dalam Mendefinisikan Persegi dan Persegi Panjang | |
| dc.type | Other |
