Pemetaan Potensi Sumber Air Minum Menggunakan Frequency Ratio di Kecamatan Binakal, Curahdami, Pakem Dan Wringin
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknik
Abstract
Kebutuhan air masyarakat akan cenderung naik berbanding lurus dengan
pertumbuhan penduduk. Berdasarkan Kabupaten Bondowoso dalam angka tahun
2024, pada kecamatan terjadi peningkatan penduduk pada Kecamatan Binakal,
Curahdami, Pakem dan Wringin memiliki pertumbuhan sebesar 2,38%; 6,05%;
3,37% dan 2,76% pada tahun 2020 hingga 2023. Kebutuhan air pada Kecamatan
Binakal, Curahdami, Pakem dan Wringin juga akan terus meningkat sedangkan
pemenuhan air pada kecamatan tersebut belum merata dengan hanya Kecamatan
Curahdami, Pakem dan Wringin yang terlayani PDAM Bondowoso. Pemenuhan
kebutuhan air masyarakat salah satunya adalah sumber mata air, akan tetapi masih
terdapat banyak potensi sumber mata air yang dapat digali untuk memenuhi
kebutuhan tersebut. Salah satu teknologi yang dapat dilakukan adalah SIG dengan
metode Frequency ratio sehingga kebutuhan penduduk dapat dipenuhi dengan
menggali kembali potensi sumber mata air pada wilayah tersebut.
Analisis ketersediaan air dilakukan dengan identifikasi setiap mata air
pada wilayah studi sehingga diperoleh karakteristik dari setiap mata air. Analisis
potensi mata air di wilayah studi menggunakan SIG dan metode Frequency ratio.
Parameter yang digunakan adalah slope , elevasi, curvature , drainage density ,
TWI, Jarak dari sungai, litologi, jenis tanah, Lineament density , NDVI, curah
hujan dan tata guna lahan. Analisis neraca air menggunakan kebutuhan air dan
ketersediaan air. Ketersediaan air berasal dari debit mata air dan akuifer
sedangkan kebutuhan air menggunakan kebutuhan air masyarakat yang diperoleh
dari proyeksi penduduk hingga tahun 2034 dengan kebutuhan per orang sebesar
150 L/s untuk kecamatan Curahdami, Pakem dan Wringin sedangkan Kecamatan
Binakal menggunakan 90 L/s. Pada wilayah studi terdapat 14 mata air dengan persebaran 1 di kecamatan
Binakal, 5 di kecamatan Curahdami, 5 di kecamatan Pakem dan 3 di kecamatan
Wringin. Kualitas mata air dilakukan pengujian Laboratorium sehingga
didapatkan apakah mata air tersebut layak digunakan sebagai sumber air minum
masyarakat. Parameter yang dilakukan pengujian adalah suhu, pH, Kekeruhan dan
TDS. Standar baku mutu yang digunakan adalah peraturan menteri kesehatan
nomor 2 tahun 2023 tentang standar baku mutu kesehatan lingkungan dan
persyaratan kesehatan air untuk keperluan higiene dan sanitasi. Hasil pengujian
menandakan terdapat 2 mata air yang tidak memenuhi baku mutu kekeruhan
yakni mata air petung 2 dengan pH 6.4 dan mata air Blindung 3 dengan nilai TDS
sebesar 5,86. Hasil analisis dengan menggunakan metode FR pada setiap parameter
menghasilkan tata guna lahan sebagai parameter dengan bobot paling besar. Hasil
pembobotan dilakukan overlay dan menghasilkan peta potensi sumber mata air
dengan pembagian 5 kelas dan potensi sumber mata air tertinggi memiliki luas
sebesar 14,39% dari luas wilayah total dengan nilai AUC sebesar 0,737 dan model
prediksi sumber mata air dapat dikatakan baik. Analisis neraca air dengan debit
sumber mata air dan akuifer menghasilkan 21 desa mengalami defisit dan 19 desa
mengalami surplus.
Description
Reupload Repositori File 12 Februari 2026_Kholif Basri
