Pemetaan Potensi Sumber Air Minum Menggunakan Frequency Ratio di Kecamatan Binakal, Curahdami, Pakem Dan Wringin
| dc.contributor.author | Fernanda Arie Perdana | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-12T06:52:52Z | |
| dc.date.issued | 2025-04-24 | |
| dc.description | Reupload Repositori File 12 Februari 2026_Kholif Basri | |
| dc.description.abstract | Kebutuhan air masyarakat akan cenderung naik berbanding lurus dengan pertumbuhan penduduk. Berdasarkan Kabupaten Bondowoso dalam angka tahun 2024, pada kecamatan terjadi peningkatan penduduk pada Kecamatan Binakal, Curahdami, Pakem dan Wringin memiliki pertumbuhan sebesar 2,38%; 6,05%; 3,37% dan 2,76% pada tahun 2020 hingga 2023. Kebutuhan air pada Kecamatan Binakal, Curahdami, Pakem dan Wringin juga akan terus meningkat sedangkan pemenuhan air pada kecamatan tersebut belum merata dengan hanya Kecamatan Curahdami, Pakem dan Wringin yang terlayani PDAM Bondowoso. Pemenuhan kebutuhan air masyarakat salah satunya adalah sumber mata air, akan tetapi masih terdapat banyak potensi sumber mata air yang dapat digali untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Salah satu teknologi yang dapat dilakukan adalah SIG dengan metode Frequency ratio sehingga kebutuhan penduduk dapat dipenuhi dengan menggali kembali potensi sumber mata air pada wilayah tersebut. Analisis ketersediaan air dilakukan dengan identifikasi setiap mata air pada wilayah studi sehingga diperoleh karakteristik dari setiap mata air. Analisis potensi mata air di wilayah studi menggunakan SIG dan metode Frequency ratio. Parameter yang digunakan adalah slope , elevasi, curvature , drainage density , TWI, Jarak dari sungai, litologi, jenis tanah, Lineament density , NDVI, curah hujan dan tata guna lahan. Analisis neraca air menggunakan kebutuhan air dan ketersediaan air. Ketersediaan air berasal dari debit mata air dan akuifer sedangkan kebutuhan air menggunakan kebutuhan air masyarakat yang diperoleh dari proyeksi penduduk hingga tahun 2034 dengan kebutuhan per orang sebesar 150 L/s untuk kecamatan Curahdami, Pakem dan Wringin sedangkan Kecamatan Binakal menggunakan 90 L/s. Pada wilayah studi terdapat 14 mata air dengan persebaran 1 di kecamatan Binakal, 5 di kecamatan Curahdami, 5 di kecamatan Pakem dan 3 di kecamatan Wringin. Kualitas mata air dilakukan pengujian Laboratorium sehingga didapatkan apakah mata air tersebut layak digunakan sebagai sumber air minum masyarakat. Parameter yang dilakukan pengujian adalah suhu, pH, Kekeruhan dan TDS. Standar baku mutu yang digunakan adalah peraturan menteri kesehatan nomor 2 tahun 2023 tentang standar baku mutu kesehatan lingkungan dan persyaratan kesehatan air untuk keperluan higiene dan sanitasi. Hasil pengujian menandakan terdapat 2 mata air yang tidak memenuhi baku mutu kekeruhan yakni mata air petung 2 dengan pH 6.4 dan mata air Blindung 3 dengan nilai TDS sebesar 5,86. Hasil analisis dengan menggunakan metode FR pada setiap parameter menghasilkan tata guna lahan sebagai parameter dengan bobot paling besar. Hasil pembobotan dilakukan overlay dan menghasilkan peta potensi sumber mata air dengan pembagian 5 kelas dan potensi sumber mata air tertinggi memiliki luas sebesar 14,39% dari luas wilayah total dengan nilai AUC sebesar 0,737 dan model prediksi sumber mata air dapat dikatakan baik. Analisis neraca air dengan debit sumber mata air dan akuifer menghasilkan 21 desa mengalami defisit dan 19 desa mengalami surplus. | |
| dc.description.sponsorship | Dosen Pembimbing Utama : Prof. Dr. Ir. Entin Hidayah, M,UM. Dosen Pembimbing Anggota: Cantika Almas Fildzah, S.T., M, T. | |
| dc.identifier.other | Kholif Basri | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/3194 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Teknik | |
| dc.subject | Kebutuhan air | |
| dc.subject | pertumbuhan penduduk | |
| dc.subject | Kabupaten Bondowoso | |
| dc.title | Pemetaan Potensi Sumber Air Minum Menggunakan Frequency Ratio di Kecamatan Binakal, Curahdami, Pakem Dan Wringin | |
| dc.type | Other |
