Optimalisasi Indikator Nasional Mutu Kepatuhan Identifikasi Pasien di Puskesmas Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Puskesmas perlu meningkatkan dan mempertahankan mutu pelayanan
dengan mencapai target nasional, termasuk kepatuhan identifikasi pasien sebesar
100% sebagaimana diatur dalam Permenkes No. 30 Tahun 2022. Indikator ini
mengukur kepatuhan tenaga kesehatan dalam mengidentifikasi pasien
menggunakan minimal dua penanda. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten
Jember tahun 2022–2024, hanya 11 dari 50 Puskesmas yang konsisten memenuhi
target tersebut. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi best practice optimalisasi
INM (INM) kepatuhan identifikasi pasien pada lima Puskesmas: Wuluhan, Ajung,
Sukorambi, Sumbersari, dan Ambulu, dengan menggunakan teori mutu
Donabedian..
Penelitian ini bersifat deskriptif dengan pendekatan survei. Data diperoleh
melalui kuesioner dan dokumen pendukung, dengan responden penanggung jawab
mutu dan koordinator keselamatan pasien di masing-masing Puskesmas.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa best practice sumber daya manusia
terdapat di Puskesmas Wuluhan, Ajung, Sumbersari, dan Ambulu. Wuluhan dan
Ajung memiliki kualifikasi SDM sangat baik, sedangkan kompetensi SDM sangat
baik ditemukan di Wuluhan, Sumbersari, dan Ambulu. Seluruh Puskesmas
menunjukkan kemampuan komunikasi dalam kategori baik dan kedisiplinan yang
sangat baik. Pada aspek ketersediaan dana, best practice terdapat di Puskesmas
Ajung dan Sumbersari, dengan perencanaan keuangan yang sangat baik di
keduanya, sementara ketersediaan dana sangat baik hanya pada Ajung. Untuk
sarana prasarana, best practice meliputi Puskesmas Wuluhan, Ajung, Sumbersari,
Ambulu, dan Sukorambi. Seluruh Puskesmas memiliki ketersediaan alat dan bahan
yang sangat baik. Penggunaan sistem informasi kesehatan yang sangat baik
ditemukan di Ajung, Sumbersari, dan Ambulu. Semua Puskesmas memilikikelengkapan data yang sangat baik, sedangkan sarana prasarana penunjang yang
sangat baik terdapat di Wuluhan, Ajung, dan Sumbersari.
Best practice pada aspek SOP ditemukan di Puskesmas Wuluhan, Ajung,
Sumbersari, Ambulu, dan Sukorambi. Seluruhnya memiliki ketersediaan SOP
kepatuhan identifikasi pasien serta SOP pengukuran INM dengan kategori sangat
baik, termasuk dalam pemahaman terhadap SOP yang berlaku. Dalam perencanaan
mutu, best practice terdapat di Puskesmas Wuluhan dan Ajung, khususnya dalam
proses perencanaan dan identifikasi masalah mutu yang sangat baik, meskipun
strategi mempertahankan capaian INM masih dalam kategori baik. Pada
pelaksanaan mutu, best practice mencakup Puskesmas Wuluhan, Ajung,
Sumbersari, Ambulu, dan Sukorambi. Pelaksanaan kepatuhan identifikasi pasien
sangat baik di seluruh Puskesmas, sedangkan pelaksanaan program mutu masih
tergolong baik. Arahan dari pimpinan atau penanggung jawab mutu terg olong
sangat baik di Puskesmas Wuluhan, Ajung, Sumbersari, dan Ambulu. Sementara
itu, kemampuan mengatasi hambatan secara sangat baik terlihat pada Wuluhan,
Sukorambi, Sumbersari, dan Ambulu. Adapun best practice dalam monitoring dan
evaluasi terdapat di Puskesmas Wuluhan, Ajung, Sumbersari, dan Ambulu.
Keempat Puskesmas ini menunjukkan pelaksanaan pengukuran kepatuhan sesuai
SOP dengan kategori sangat baik, sedangkan evaluasi INM tergolong sangat baik
di Wuluhan dan Sumbersari.
Saran pada penelitian ini adalah dalam upaya meningkatkan dan
mempertahankan capaian INM kepatuhan identifikasi pasien harus ditinjau dalam
beberapa aspek, seperti SDM, dana, sarana prasarana, SOP, perencanaan,
pelaksanaan, dan monitoring evaluasi. Hal tersebut diperlukan agar Puskesmas
dapat mengetahui apa yang perlu diperbaiki dan ditingkatkan.
Description
Entry oleh Arif 2026 Februari 12
