Negosiasi Kultur Dan Agama: Upaya Islamisasi Tradisi Rokat Pada Masyarakat Madura Probolinggo Dalam Perspektif Raymond Williams
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
fakultas ilmu sosial dan ilmu politik
Abstract
Persoalan tradisi dan agama seakan selalu menjadi perdebatan, terutama di
Indonesia sebagai Negara berbudaya, dan memiliki banyak ragam tradisi di setiap
daerahnya. Rokat adalah salah satu tradisi kuno leluhur, yang dalam situasi
kontemporer ini, harus berhadapan dengan isu Agama di masyarakat Madura Desa
Tamansari Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo. Dimana Islam sebagai
agama mayoritas masyarakat Tamansari, aktor agama Islam hadir untuk mengubah
tradisi rokat kuno menjadi rokat Islam, yang dalam tujuannya menghapus nilai-nilai
didalam praktik ritual yang dianggap syirik.
Tradisi rokat adalah salah satu bentuk slametan yang cukup kompleks, jika
dibandingkan dengan jenis slametan yang lain. Sajian atau sesajen didalamnya
sangat bervariatif, serta prosesinya yang banyak dan panjang. Rokat bagi
masyarakat Tamansari sendiri, dipercaya sebagai suatu ritual yang penting, karena
berkaitan dengan kehidupan seseorang di masa depan. Tradisi ini telah dijalankan
selama puluhan tahun, dengan mengikuti ajaran leluhur dan mbah buyutnya.
Namun saat ini, tradisi rokat harus berhadapan dengan isu agama Islam, yang
menghasilkan pemimpin rokat baru dengan bentuk baru. Situasi ini telah
menjadikan tradisi rokat yang sifatnya profan menjadi sakral, karena telah disentuh
oleh agama.
Bentuk pengubahan tradisi rokat oleh aktor Islam, telah dilakukan selama
bertahun-tahun dan konsisten. Dengan beberapa cara, seperti banyak terlibat dan
melibatkan diri dalam aktifitas kemasyarakatan, melalui ceramah agama yang
berlandaskan Al-Quran, serta menawarkan tradisi yang lebih ekonomis.
Adanya fenomena tersebut menghasilkan tradisi rokat dengan 2 bentuk yang
berbeda, yang penulis istilahkan disini sebagai rokat kejawen (kuno) dan rokatIslam. Tradisi rokat kejawen dan rokat Islam, sebenarnya secara esensi sama.
Perbedaannya terletak pada prosesinya, sajian didalamnya, serta biaya yang
dikeluarkan. Kegiatan menembang/kidungan Jawa telah digantikan dengan
khataman Al-Quran, beberapa sajiannya juga telah ditiadakan, dan hanya
meninggalkan sajian yang dianggap baku dalam sebuah selametan, sehingga biaya
yang ditawarkan dalam tradisi rokat Islam lebih terjangkau dan efisien. Namun
temuan di lapangan menjawab bahwa, rokat kejawen masih menjadi pilihan banyak
masyarakat, meski terdapat preferensi ekonomi dan efisiensi waktu, sebab tradisi
rokat dilakukan karena adanya kepercayaan dan keyakinan, sehingga masyarakat
menganggap telah benar-benar melaksanakan tradisi ketika mengikuti ajaran
leluhurnya. Raymond Williams mengatakan, suatu budaya akan menjadi sisa jika
terdapat budaya baru yang muncul, dan akan terlihat budaya mana yang akan
menjadi dominan.
Description
Reupload file repository 11 februari 2026_agus/feren
