Negosiasi Kultur Dan Agama: Upaya Islamisasi Tradisi Rokat Pada Masyarakat Madura Probolinggo Dalam Perspektif Raymond Williams
| dc.contributor.author | Faizah Malikal Bulgis | |
| dc.date.accessioned | 2026-02-11T03:12:09Z | |
| dc.date.issued | 2024-06-12 | |
| dc.description | Reupload file repository 11 februari 2026_agus/feren | |
| dc.description.abstract | Persoalan tradisi dan agama seakan selalu menjadi perdebatan, terutama di Indonesia sebagai Negara berbudaya, dan memiliki banyak ragam tradisi di setiap daerahnya. Rokat adalah salah satu tradisi kuno leluhur, yang dalam situasi kontemporer ini, harus berhadapan dengan isu Agama di masyarakat Madura Desa Tamansari Kecamatan Dringu Kabupaten Probolinggo. Dimana Islam sebagai agama mayoritas masyarakat Tamansari, aktor agama Islam hadir untuk mengubah tradisi rokat kuno menjadi rokat Islam, yang dalam tujuannya menghapus nilai-nilai didalam praktik ritual yang dianggap syirik. Tradisi rokat adalah salah satu bentuk slametan yang cukup kompleks, jika dibandingkan dengan jenis slametan yang lain. Sajian atau sesajen didalamnya sangat bervariatif, serta prosesinya yang banyak dan panjang. Rokat bagi masyarakat Tamansari sendiri, dipercaya sebagai suatu ritual yang penting, karena berkaitan dengan kehidupan seseorang di masa depan. Tradisi ini telah dijalankan selama puluhan tahun, dengan mengikuti ajaran leluhur dan mbah buyutnya. Namun saat ini, tradisi rokat harus berhadapan dengan isu agama Islam, yang menghasilkan pemimpin rokat baru dengan bentuk baru. Situasi ini telah menjadikan tradisi rokat yang sifatnya profan menjadi sakral, karena telah disentuh oleh agama. Bentuk pengubahan tradisi rokat oleh aktor Islam, telah dilakukan selama bertahun-tahun dan konsisten. Dengan beberapa cara, seperti banyak terlibat dan melibatkan diri dalam aktifitas kemasyarakatan, melalui ceramah agama yang berlandaskan Al-Quran, serta menawarkan tradisi yang lebih ekonomis. Adanya fenomena tersebut menghasilkan tradisi rokat dengan 2 bentuk yang berbeda, yang penulis istilahkan disini sebagai rokat kejawen (kuno) dan rokatIslam. Tradisi rokat kejawen dan rokat Islam, sebenarnya secara esensi sama. Perbedaannya terletak pada prosesinya, sajian didalamnya, serta biaya yang dikeluarkan. Kegiatan menembang/kidungan Jawa telah digantikan dengan khataman Al-Quran, beberapa sajiannya juga telah ditiadakan, dan hanya meninggalkan sajian yang dianggap baku dalam sebuah selametan, sehingga biaya yang ditawarkan dalam tradisi rokat Islam lebih terjangkau dan efisien. Namun temuan di lapangan menjawab bahwa, rokat kejawen masih menjadi pilihan banyak masyarakat, meski terdapat preferensi ekonomi dan efisiensi waktu, sebab tradisi rokat dilakukan karena adanya kepercayaan dan keyakinan, sehingga masyarakat menganggap telah benar-benar melaksanakan tradisi ketika mengikuti ajaran leluhurnya. Raymond Williams mengatakan, suatu budaya akan menjadi sisa jika terdapat budaya baru yang muncul, dan akan terlihat budaya mana yang akan menjadi dominan. | |
| dc.description.sponsorship | DPU: Dien Vidia Rosa, S.Sos., M.A. DPA: Lukman Wijaya Baratha, S.Sos., M.A. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/2810 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | fakultas ilmu sosial dan ilmu politik | |
| dc.subject | Tradisi Rokat | |
| dc.subject | Negosiasi Kultural | |
| dc.title | Negosiasi Kultur Dan Agama: Upaya Islamisasi Tradisi Rokat Pada Masyarakat Madura Probolinggo Dalam Perspektif Raymond Williams | |
| dc.type | Other |
