Model Tata Kelola Pengetahuan dalam Proses Implementasi Kebijakan Bela Negara di Kabupaten Situbondo
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Abstract
Penelitian ini bertujuan mengeksploarasi tata kelola pengetahuan para aktor dan
target group kebijakan dalam proses implementasi kebijakan Bela Negara di
Kabupaten Situbondo. Metode penelitian kualitatif dengan pendekatan
Interpretative Phenomenological Analysis digunakan untuk melakukan
wawancara mendalam terhadap Forkopimda Situbondo sebagai aktor formal
kebijakan Bela Negara. Mengadopsi model stagist dalam implementasinya,
namun policy output-nya defisit partisipasi publik. Sementara, pra-observasi
kepada para ulama, umat dan masyarakat prismatik Situbondo sebagai target
group kebijakan (aktor non formal) ternyata surplus berbela negara melalui
dimensi pengetahuan lokalnya. Adanya gap empirik dan gap teoritis pendekatan
stagist model dalam mengadaptasi pengetahuan lokal bela negara sebagai bagian
dari kinerja kebijakannya, peneliti menggunakan teori Diskursif Ide dan Wacana
(DIW)
Temuan penelitian menunjukkan bahwa Forkopimda mengadopsi pendekatan
stagist yang berdimensi struktural Delivery Mechanism Policy Output (DMPO)
dan diterjemahkan melalui dimensi konstitusi hingga peraturan pemerintah untuk
mencapai tujuan objektif kebijakan sebagai pengetahuan eksogenus aktor
kebijakan. Di sisi lain, ulama, umat dan masyarakat prismatik Situbondo yang
berbela negara melalui dimensi nilai agama, nilai tradisional, dan etika sosial
yang mempromosikan dimensi etik kebijakan di ruang publik sebagai
pengetahuan endogenous target group kebijakan. Eksistensi ruang publik berbela
negara yang inklusif di Kabupaten Situbondo menjadi faktor utama yang
mengerangkai pengetahuan eksogenus Bela Negara dengan pengetahuan
endogenus HWMI yang dikonseptualisasi ke dalam system thinking guna
menghasilkan temuan penelitian yang holistik.
Secara keseluruhan, novelty penelitian ini mengembangkan atau menambahkan
dimensi “ruang publik inklusif” dalam teori policy network Rhodes. Eksistensi
ruang publik yang inklusif memfasilitasi adanya dialog publik, sosialisasi, dan
keterlibatan aktor-aktor yang terkait seperti pemerintah, civil society, dan bisnis,
sehingga mendukung proses terjadinya policy network dalam memanfaatkan
kekuatan dan sumber daya pengetahuan masing-masing aktor secara optimal,
yang tidak hanya mencapai tujuan bersama, namun desain kebijakannya lebih
partisipatif. Model ini memperkaya pengetahuan Ilmu Administrasi dengan
mempertimbangkan pentingnya Sosiologi Kebijakan Publik dalam mendesain
kebijakan yang sesuai dengan karakteristik publiknya.
Description
Reupload File Repositori 10 Februari 2026_Rudy K/Lia
