Motif Jepang Menandatangani Perjanjian Reciprocal Access Agreement atau Perjanjian Akses Timbal Balik Jepang – Australia
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik
Abstract
Penelitian ini membahas mengenai motif Jepang menandatangani perjanjian
Reciprocal Access Agreement atau perjanjian Akses Timbal Balik Jepang -
Australia. Japan Self Defence Force (JSDF) dan Australia Defence Force (ADF)
telah meningkatkan kerjasamanya dalam bentuk latihan keamanan dan operasi
militer sejak tahun 1990an. Hubungan baik yang terjalin antara Jepang dan
Australia tidak terlepas dari peran yang dimiliki oleh Amerika Serikat. Namun,
pada tahun 2014 kedua negara lebih memperkuat hubungannya lagi dengan mulai
menginisiasi perjanjian Reciprocal Access Agreement (RAA). Perjanjian RAA
sendiri ditandatangani oleh Jepang diluar the Status of Forces Agreement yang
dimiliki antara Jepang dan Amerika Serikat (Envall, 2018). Perjanjian ini juga
dibuat sebagai respon dari Jepang dan Australia yang melihat bahwa
perkembangan lingkungan keamanan menjadi semakin memburuk di kawasan
Indo-Pasifik, terutama akibat klaim sepihak yang dilakukan Tiongkok dalam
sengketa Laut Tiongkok Selatan dan kombinasi tindakan provokatif dan
berkelanjutan di dekat Kepulauan Senkaku yang dikelola oleh Jepang dan diklaim
sebagai Diaoyu-dao oleh Tiongkok.
Penelitian ini menggunakan pendekatan kuasi kualitatif. Pengumpulan data
untuk penelitian ini menggunakan metode studi pustaka, dengan mengumpulkan
informasi dari data yang didapat dari website resmi pemerintah, buku elektronik,
laporan, jurnal, dan berita online. Data yang diperoleh dianalisis menggunakan
metode deskriptif kualitatif dengan menggunakan teori Balance of Threat.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa motif Jepang menandatangani RAA
dengan Australia dipengaruhi oleh aspek tingkat ancaman dari Tiongkok dan 3
faktor yaitu Negara Kuat atau Lemah, Ketersediaan Sekutu, serta Damai dan
Perang, yang menentukan Jepang melakukan balancing dengan Australia. Aspek
pertama kekuatan, Tiongkok secara militer, ekonomi, populasi, dan kepemilikan Angkatan Bersenjata lebih besar dibandingkan Jepang. Aspek kedua kedekatan
geografis, jarak terdekat Jepang dan Tiongkok berjarak 603km. Aspek ketiga
kekuatan ofensif, Tiongkok memiliki kemampuan militer khusus. Negara ini
memiliki misil hipersonik yang telah diuji coba diluncurkan. Aspek keempat
niatan agresif, Jepang memandang Tiongkok sebagai negara dengan kekuatan
militer besar yang agresif dan berpotensi mengancam keamanan dan perdamaian
di kawasan Indo Pasifik. Selain itu, terdapat faktor yang menentukan Jepang
memilih melakukan balancing dengan Australia. Pertama, faktor negara kuat atau
lemah, Jepang merupakan negara kuat secara militer dibandingkan Australia.
Faktor kedua, ketersediaan sekutu, Jepang memang memiliki kekuatan internalnya
sendiri dalam hal militer, namun dalam hal ini karena melihat kepentingan yang
sama dengan Australia, Jepang memilih melakukan Balancing dengan Australia.
Faktor ketiga, Damai dan Perang, masa sekarang adalah masa damai dan belum
terjadi perang antara Jepang dan Tiongkok, namun dimasa damai ini Jepang
melakukan kerjasama RAA Jepang - Australia.
Description
Reupload file repository 10 februari 2026_agus/feren
