Validasi Penetapan Kadar Kafein Pda Bubuk Kopi Arabika (Coffea Arabica) dan Kopi Robusta (Coffea Canephora) dengan Metode KLTKT Densitometri
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Farmasi
Abstract
Kopi merupakan komoditas perkebunan utama yang berperan penting
dalam perekonomian Indonesia. Produksi kopi Indonesia terus mengalami
peningkatan, dari sekitar 741.657 ton pada 2019 menjadi 753.941 ton pada 2020,
dan mencapai 774,6 ribu ton pada 2021. Peningkatan ini menunjukkan tren
pertumbuhan positif yang berdampak baik bagi petani dan sektor perkebunan
nasional. Di Indonesia, berbagai jenis kopi dibudidayakan, seperti kopi arabika,
robusta, dan liberika. Kopi arabika (Coffea arabica) dan Kopi Robusta (Coffea
canephora) merupakan jenis yang paling umum dibudidayakan karena merupakan
varietas pertama yang diperkenalkan di Indonesia
Kopi arabika (Coffea arabica) maupun kopi robusta (Coffea canephora)
mengandung campuran kompleks bahan kimia, termasuk kafein dalam jumlah
signifikan. Kafein, yang termasuk dalam golongan metilxantin, dikenal mampu
mengurangi rasa lelah dan kantuk dan juga merupakan senyawa alkaloid yang
memiliki berbagai efek farmakologis, seperti merangsang sistem saraf pusat,
meningkatkan konsentrasi, kecepatan reaksi, fungsi otak, dan suasana hati, serta
memperkuat kontraksi jantung.
Kromatografi Lapis Tipis Kinerja Tinggi (KLTKT) atau High Performance
Thin Layer Chromatography (HPTLC) merupakan pengembangan instrumental
dari kromatografi lapis tipis konvensional yang dilengkapi dengan berbagai
instrumen pendukung untuk meningkatkan resolusi senyawa yang akan dipisahkan
serta memungkinkan dilakukannya analisis kuantitatif terhadap senyawa tersebut.
Salah satu instrumen pendukung utama dalam metode ini adalah densitometer, yaitu
alat analitik yang digunakan untuk mengukur konsentrasi zona kromatografi (noda
atau pita) pada lempeng KLTKT secara non-destruktif tanpa merusak analit yang
telah terpisahkan.
Tahapan penelitian ini meliputi optimasi eluen, optimasi panjang
gelombang, optimasi konsentrasi uji yang selanjutnya dilakukan validasi metode
analisis dengan menguji beberapa parameter validasi meliputi linieritas, batas
deteksi dan kuantitasi, selektivitas dan spesifitas, presisi, dan akurasi. Tahap akhir pada penelitian ini yaitu dilakukan penetapan kadar kafein pada bubuk kopi arabika
(C. arabica) dan kopi robusta (C. canephora) menggunakan metode KLTKT
Densitometri yaitu menggunakan pelarut metanol pa, fase diam silica gel 60 F254
dan fase gerak etil asetat : asam formiat : metanol : toluene = 10 : 1 : 1 : 0,5, panjang
gelombang 275 nm linier dengan nilai koefisien korelasi 0,995, nilai Vx0 = 4,506%,
serta nilai Xp = 647,054, peka dengan nilai BD = 647,054, serta BK = 1941,163
Selektiv karena mampu memisahkan senyawa kafein dan senyawa lain dengan nilai
Resolusi (Rs) ≥ 1,5, dan spesifik dengan menunjukkan nilai kemurnian (purity) dan
identitas (identity) lebih dari 0,99. Presisi dengan nilai RSD repeatibilitas kafein =
2,45%±0,742. Akurat dengan niali mean recovery kafein pada bubuk arabika =
102,44%, dan pada bubuk kopi robusta = 100,28%. Metode yang telah dilakukan
validasi selanjutnya dilakukan penetapan kadar kafein yang dilakukan pada bubuk
kopi arabika dan robusta. Berdasarkan hasil penetapan kadar kafein dalam bubuk
kopi sampel A ± RSD berturut-turut sebesar 1,04%±0,63%, sampel B sebesar
1,83%±0,55% sampel C sebesar 1,39%±1,04%, sampel D sebesar 1,16%±1,30%,
sampel E sebesar 2,34%± 1,27%, dan sampel F sebesar 2,97%± 0,94%. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa metode KLTKT Densitometri yang
dikembangkan dapat digunakan dalam penetapan kadar kafein dalam bubuk kopi
dengan hasil yang valid.
Description
Reupload file repositori 10 februari 2026_PKL Fani/Firli
