Natural Lighting dalam Mendukung Mood Hirayama pada film Perfect Days
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Saat ini manusia hidup di masa yang serba digital. Seiring dengan waktu,
industri hiburan juga melalui perkembangan pesat. Salah satu hiburan yang eksis
dan sangat dinikmati saat ini adalah film. Industri perfilman berkembang sangat
pesat, namun penikmat film umumnya hanya fokus terhadap alur cerita dan
keindahan penataan gambar yang disuguhkan, sehingga pelaku industri (sineas)
juga sering mengesampingkan aspek lain dalam proses produksi sebuah film. Aspek
yang dirasa kurang perhatian dan awareness adalah lighting.
Secara umum, penikmat dan pelaku industri film masih memiliki stigma
bahwa lighting dalam film hanya berfungsi sebagai penerang agar adegan dapat
terlihat. Menurut Brown (2012:115), lighting mampu menjadi perangkat naratif
untuk mendukung cerita. Lighting dapat dikonstruksi untuk mendukung
pembangunan suasana adegan, memperkuat suatu makna, dan menciptakan mood.
Lighting yang umum digunakan dalam film adalah artificial lighting (tata cahaya
buatan), sineas jarang menyadari bahwa natural lighting (tata cahaya alami)
memiliki kemampuan yang sama dengan artificial lighting untuk diterapkan dalam
film.
Penelitian ini disusun untuk mengetahui peran natural lighting dalam
mendukung mood Hirayama pada film Perfect Days. Metode penelitian yang
diterapkan selama penyusunan penelitian ini merupakan deskriptif kualitatif. Data
utama sebagai objek kajian penelitian adalah film Perfect Days. Teknik
pengumpulan data berupa triangulasi (gabungan), dengan menerapkan observasi,
dokumentasi, dan studi pustaka. Data yang diperoleh penulis sejumlah 24 scene
yang mewakili mood Hirayama. Data tersebut terbagi menjadi dua, yaitu 17 scene
untuk mewakili good mood dan 7 scene untuk mewakili bad mood. Data tersebut
kemudian direduksi menjadi 4 scene untuk mewakili variabel good mood (bahagia,
bersemangat, penuh cinta, dan ketenangan) dan 3 scene untuk mewakili variabel
bad mood (kecemasan, kecewa, marah, dan sedih).
Hasil analisis mengungkap bahwa natural lighting berperan untuk
mendukung mood Hirayama. Secara dominan, natural lighting diterapkan dalam
film Perfect Days. Kualitas cahaya yang tercipta dari natural lighting berupa hard
light dan soft light. Kualitas cahaya tersebut dapat menghadirkan suasana dalam
adegan. Hard light cenderung membangun suasana yang serius dan tegang. Soft
light cenderung menghadirkan suasana yang hangat dan intim, namun terkadang
menciptakaan kesan yang melankolis. Warna cahaya dari natural lighting dalam
film ini merupakan warna putih, kuning, dan biru. Keberagaman warna yang
tercipta tidak seluas artificial lighting, namun sangat cukup untuk membangun
suasana dan mendukung mood tokoh dalam film.
Penelitian ini mendapati pola repetitif natural lighting dalam mendukung
mood Hirayama. Pola tersebut memaparkan bahwa warna cahaya merupakan unsur
natural lighting yang dominan dalam mendukung mood. Warna cahaya dalam film
Perfect Days terbagi menjadi dua, yaitu warna cahaya hangat dan warna cahaya
dingin. Warna cahaya hangat merujuk kepada warna kemerahan dan warna cahaya
dingin merujuk kepada warna kebiruan. Good mood cenderung tercipta oleh warna
cahaya hangat, sedangkan bad mood cenderung tercipta oleh warna cahaya dingin.
Selain natural lighting, artificial lighting juga tampak terlihat dalam film. Namun
tidak terlalu menonjol dan dominan. Secara umum, artificial lighting digunakan
sebagai practical light dalam adegan yang lazimnya memang terdapat lampu.
Description
Reuploud file repositori 9 Feb 2026_Firli
