Risiko Produksi dan Pendapatan Usahatani Jagung Hibrida di Desa Balung Kulon Kecamatan Balung Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Jagung merupakan salah satu tanaman pangan utama yang banyak
dibudidayakan oleh petani Indonesia karena manfaatnya bagi manusia dan hewan.
Produk olahan jagung cukup beragam seperti minyak, tepung maizena, dan pakan
ternak. Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), mengatakan
target luas tanam jagung yang harus dicapai di tahun 2025 sekitar 2.799.097 ha
dengan produksi sebesar 16,6 juta ton pipilan kering. Berdasarkan data Badan Pusat
Statistik, (2024) mencatat indonesia masih impor jagung untuk memenuhi
kebutuhan domestik periode Januari hingga September 2024 tercatat total impor
jagung mencapai 967,9 ton, volumenya mengalami kenaikan dibandingkan setahun
sebelumnya. Hal tersebut mengartikan bahwa Indonesia belum bisa mencukupi
kebutuhan jagung nasional. Berdasarkan data BPS (2023), Kabupaten Jember
berada di peringkat kedua nasional dalam produksi jagung dengan total produksi
420.889 ton dan produktivitas 6,65 ton/ha. Salah satu kecamatan penghasil jagung
di Jember adalah Kecamatan Balung dengan produksi 21.237 on dan produktivitas
6,72 ton/ha pada tahun 2024. Kecamatan ini memiliki delapan desa penghasil
jagung, di antaranya Desa Balung Kulon yang mencatat produksi tertinggi selama
tiga tahun terakhir, meskipun sempat mengalami penurunan tajam pada tahun 2022
sebesar -14,91%.
Di Desa Balung Kulon terdapat enam kelompok tani yang membudidayakan
jagung hibrida sebanyak dua kali dalam setahun. Usahatani jagung di daerah ini
memiliki tantangan besar akibat risiko produksi seperti kekeringan akibat anomali
cuaca, hama ulat grayak, dan penyakit bulai. Risiko-risiko ini menyebabkan
ketidakpastian hasil panen dan pendapatan petani, bahkan membuat sebagian petani
enggan menanam jagung. Risiko produksi dan pendapatan ini sangat memengaruhi
keputusan petani dalam pengelolaan usahataninya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membantu petani memahami dan mengukur tingkat risiko produksi
dan pendapatan agar dapat mengelola usahatani jagung secara lebih optimal.
Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Metode pengambilan
sampel dalam menetukan kelompok tani yang digunakan dalam penelitian ini
adalah metode purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini yaitu petani
jagung pada musim tanam 3 yaitu pada bulan Agustus hingga Desember 2024.
Terdapat terdapat 6 Kelompok Tani di Desa Balung Kulon yaitu dengan jumlah
petani jagung sebanyak 766 petani. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara
random sampling. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Taro Yamane
dihasilkan sampel pada penelitian ini sebanyak 42 sampel petani. Metode
pengambilan sampel petani dalam masing – masing kelompok tani menggunakan
metode proporsionate random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan
pengisian kuesioner kepuasan petani dan wawancara secara langsung dengan
responden. Alat analisis yang digunakan yaitu analisis pendapatan dan analisis
koefisien variasi.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya produksi rata-rata usahatani
jagung di Desa Balung Kulon sebesar Rp15.416.870/Ha. Penerimaan rata – rata
yang diperoleh petani jagung di Desa Balung Kulon sebesar Rp32.365.317/Ha Rata
– rata pendapatan yang diperoleh petani jagung di Desa Balung Kulon Kecamatan
Balung Kabupaten Jember yaitu sebesar Rp16.948.447/Ha dalam satu kali musim
tanam ke 3 pada tahun 2024 pada bulan Agustus hingga bulan Desember. Risiko
usahatani jagung di Desa Balung Kulon berasal dari faktor produksi dan pasar.
Risiko produksi dipengaruhi oleh iklim, sedangkan risiko pasar disebabkan oleh
fluktuasi harga. Berdasarkan nilai koefisien variasi produksi yaitu sebesar 0,055
yang berarti tingkat risiko produksi pada usahatani jagung di Desa Balung Kulon
tergolong rendah. Nilai Koefisien variasi pendapatan sebesar 0,28 yang memiliki
arti tingkat risiko pendapatan pada usahatani jagung di Desa Balung Kulon
tergolong rendah. Nilai batas bawah pendapatan petani jagung di Desa Balung
Kulon sebesar Rp7.506.207/Ha. Batas bawah pendapatan jagung bisa terjadi jika
harga jual rendah, gagal panen, atau biaya produksi tinggi, sehingga petani bisa
mendapat untung sangat kecil atau bahkan mengalami kerugian.
Description
Reupload File Repositori 9 Februari 2026_Yudi/Rega
