Risiko Produksi dan Pendapatan Usahatani Jagung Hibrida di Desa Balung Kulon Kecamatan Balung Kabupaten Jember

dc.contributor.authorLatifah Nur Sa’aadah
dc.date.accessioned2026-02-09T06:34:07Z
dc.date.issued2025-07-11
dc.descriptionReupload File Repositori 9 Februari 2026_Yudi/Rega
dc.description.abstractJagung merupakan salah satu tanaman pangan utama yang banyak dibudidayakan oleh petani Indonesia karena manfaatnya bagi manusia dan hewan. Produk olahan jagung cukup beragam seperti minyak, tepung maizena, dan pakan ternak. Ditjen Tanaman Pangan Kementerian Pertanian (Kementan), mengatakan target luas tanam jagung yang harus dicapai di tahun 2025 sekitar 2.799.097 ha dengan produksi sebesar 16,6 juta ton pipilan kering. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik, (2024) mencatat indonesia masih impor jagung untuk memenuhi kebutuhan domestik periode Januari hingga September 2024 tercatat total impor jagung mencapai 967,9 ton, volumenya mengalami kenaikan dibandingkan setahun sebelumnya. Hal tersebut mengartikan bahwa Indonesia belum bisa mencukupi kebutuhan jagung nasional. Berdasarkan data BPS (2023), Kabupaten Jember berada di peringkat kedua nasional dalam produksi jagung dengan total produksi 420.889 ton dan produktivitas 6,65 ton/ha. Salah satu kecamatan penghasil jagung di Jember adalah Kecamatan Balung dengan produksi 21.237 on dan produktivitas 6,72 ton/ha pada tahun 2024. Kecamatan ini memiliki delapan desa penghasil jagung, di antaranya Desa Balung Kulon yang mencatat produksi tertinggi selama tiga tahun terakhir, meskipun sempat mengalami penurunan tajam pada tahun 2022 sebesar -14,91%. Di Desa Balung Kulon terdapat enam kelompok tani yang membudidayakan jagung hibrida sebanyak dua kali dalam setahun. Usahatani jagung di daerah ini memiliki tantangan besar akibat risiko produksi seperti kekeringan akibat anomali cuaca, hama ulat grayak, dan penyakit bulai. Risiko-risiko ini menyebabkan ketidakpastian hasil panen dan pendapatan petani, bahkan membuat sebagian petani enggan menanam jagung. Risiko produksi dan pendapatan ini sangat memengaruhi keputusan petani dalam pengelolaan usahataninya. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk membantu petani memahami dan mengukur tingkat risiko produksi dan pendapatan agar dapat mengelola usahatani jagung secara lebih optimal. Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif. Metode pengambilan sampel dalam menetukan kelompok tani yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode purposive sampling. Populasi dalam penelitian ini yaitu petani jagung pada musim tanam 3 yaitu pada bulan Agustus hingga Desember 2024. Terdapat terdapat 6 Kelompok Tani di Desa Balung Kulon yaitu dengan jumlah petani jagung sebanyak 766 petani. Pengambilan sampel dilakukan dengan cara random sampling. Berdasarkan perhitungan menggunakan rumus Taro Yamane dihasilkan sampel pada penelitian ini sebanyak 42 sampel petani. Metode pengambilan sampel petani dalam masing – masing kelompok tani menggunakan metode proporsionate random sampling. Pengambilan data dilakukan dengan pengisian kuesioner kepuasan petani dan wawancara secara langsung dengan responden. Alat analisis yang digunakan yaitu analisis pendapatan dan analisis koefisien variasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa biaya produksi rata-rata usahatani jagung di Desa Balung Kulon sebesar Rp15.416.870/Ha. Penerimaan rata – rata yang diperoleh petani jagung di Desa Balung Kulon sebesar Rp32.365.317/Ha Rata – rata pendapatan yang diperoleh petani jagung di Desa Balung Kulon Kecamatan Balung Kabupaten Jember yaitu sebesar Rp16.948.447/Ha dalam satu kali musim tanam ke 3 pada tahun 2024 pada bulan Agustus hingga bulan Desember. Risiko usahatani jagung di Desa Balung Kulon berasal dari faktor produksi dan pasar. Risiko produksi dipengaruhi oleh iklim, sedangkan risiko pasar disebabkan oleh fluktuasi harga. Berdasarkan nilai koefisien variasi produksi yaitu sebesar 0,055 yang berarti tingkat risiko produksi pada usahatani jagung di Desa Balung Kulon tergolong rendah. Nilai Koefisien variasi pendapatan sebesar 0,28 yang memiliki arti tingkat risiko pendapatan pada usahatani jagung di Desa Balung Kulon tergolong rendah. Nilai batas bawah pendapatan petani jagung di Desa Balung Kulon sebesar Rp7.506.207/Ha. Batas bawah pendapatan jagung bisa terjadi jika harga jual rendah, gagal panen, atau biaya produksi tinggi, sehingga petani bisa mendapat untung sangat kecil atau bahkan mengalami kerugian.
dc.description.sponsorshipDPU: Dr. Ati Kusmiati, S.P., M.P.
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/2331
dc.language.isoother
dc.publisherFakultas Pertanian
dc.subjectRisiko produksi
dc.subjectJagung
dc.titleRisiko Produksi dan Pendapatan Usahatani Jagung Hibrida di Desa Balung Kulon Kecamatan Balung Kabupaten Jember
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
LATIFAH NUR SA'AADAH - 211510601032.pdf
Size:
1.08 MB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description: