Perencanaan Ulang Peredam Energi Bendungan Meninting dI Kabupaten Lombok Barat Nusa Tenggara Barat
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
fakults teknik
Abstract
Jenis material pada dasar sungai dan morfologi sangat mempengaruhi
pemilihan jenis peredam energi. Pada Bendungan Meninting menggunakan
peredam energi jenis loncatan. Peredam energi jenis loncatan memiliki efektivitas
lebih rendah dibandingkan dengan peredam energi jenis lainnya. Jenis ini cocok
untuk sungai yang memiliki dasar kokoh. Loncatan air yang terjadi tidak
sempurna menyebabkan olakan-olakan pada aliran hilirnya yang memicu terjadinya
gerusan pada dasar hilir. Hal ini dapat mempengaruhi kestabilan alur sungai dan
bisa merusak tebing sungai.
Hal ini yang menjadi dasar untuk merencanakan ulang Peredam Energi
Bendungan Meninting. Pada perencanaan ulang akan menggunakan peredam energi
jenis kolam olak, karena pada jenis kolam olak peredaman energi memanfaatkan
gesekan antar molekul-molekul air di dalam kolam olak. Kolam olak dilengkapi
oleh blok-blok pemecah di bagian ujung hulu dan ambang bergerigi di bagian ujung
hilir.
Blok-blok pemecah aliran berguna untuk meningkatkan efektivitas
peredaman, sedangkan ambang bergerigi berguna untuk menstabilkan loncatan
hydrolis dalam kolam olak. Kolam olak sendiri terbagi lagi menjadi beberapa tipe
yaitu, USBR I, USBR II, USBR III, dan USBR IV. Untuk menentukan tipe kolam
olak yang digunakan perlu dilakukan analisa hidrolis terlebih dahulu.
Berdasarkan hasil perhitungan yang telah dilakukan maka peredam energi
jenis kolam olak yang sesuai kriteria adalah kolam olak tipe USBR II dengan hasil
perhitungan nilai debit satuan (q) = 31,32 m3/dtk dan nilai bilangan Froude (Fr)
sebesar = 5,39, termasuk jenis aliran super kritis. Dan didapatkan desain panjang
kolam olak (L) = 42,50 m, lebar kolam olak (b) = 1 m, tinggi dinding kolam olak =
14 m, lebar blok saluran (w1) = 1,51 m, tinggi blok saluran (h1) = 1,51 m, jarak antar
blok saluran (s1) = 1,51 m, jumlah blok saluran (n1) = 4 buah, lebar blok ambang
(w2) = 1,62 m, tinggi blok ambang (h2) = 2,16 m, jarak antar blok ambang (s2) =
2,62 m, jumlah blok ambang (n2) = 4 buah. Dari perhitungan stabilitas bangunan,
hasil analisa menunjukkan bahwa desain yang direncanakan telah memenuhi
persyaratan stabilitas. Baik yang ditinjau dari stabilitas terhadap guling, terhadap geser dan terhadap daya dukung tanah, semua menunjukkan bahwa
bangunan aman pada kondisi muka air normal maupun kondisi muka air banjir.
Description
Reupload file repository 9 februari 2026_agus/feren
