Analisis Efektivitas Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) dalam Menurunkan Biological Oxygen Demand (BOD) pada Air Lindi Melalui Fitoremediasi
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
FAKULTAS TEKNIK
Abstract
Air lindi merupakan cairan hasil dekomposisi sampah yang terbentuk akibat
perkolasi air melalui timbunan sampah di Tempat Pemrosesan Akhir (TPA). Air
lindi mengandung bahan organik, nutrien, serta berbagai senyawa pencemar yang
dapat menurunkan kualitas lingkungan apabila tidak diolah dengan baik. Salah
satu parameter yang digunakan untuk mengetahui tingkat pencemaran organik
adalah BOD. Fitoremediasi merupakan salah satu metode pengolahan limbah
yang memanfaatkan tanaman untuk menyerap dan menurunkan konsentrasi bahan
pencemar. Eceng gondok (Eichhornia crassipes) dipilih karena memiliki sistem
perakaran yang panjang dan lebat sehingga mampu menyerap bahan organik serta
mendukung aktivitas mikroorganisme pada daerah perakaran.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis efektivitas tanaman eceng
gondok dalam menurunkan kadar BOD pada air lindi serta mengetahui pengaruh
variasi berat tanaman dan konsentrasi air lindi terhadap proses fitoremediasi.
Penelitian dilakukan secara eksperimental skala laboratorium menggunakan
sistem batch. Air lindi diperoleh dari TPA Pakusari Kabupaten Jember, sedangkan
pengujian kadar BOD dilakukan di Laboratorium Lingkungan Perum Jasa Tirta 1.
Variasi perlakuan terdiri atas berat tanaman eceng gondok 100 gram dan 150 gram
dengan dua konsentrasi air lindi, yaitu Konsentrasi 1 (100% air lindi) dan
Konsentrasi 2 (75% air lindi). Pengamatan dilakukan selama 21 hari dengan
pengambilan sampel pada hari ke-0, ke-7, ke-14, dan ke-21. Analisis data
dilakukan menggunakan perhitungan efektivitas penurunan BOD dan analisis
regresi kuadratik untuk menggambarkan hubungan antara waktu pengamatan dan
perubahan kadar BOD.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa kadar BOD pada seluruh perlakuan
cenderung menurun hingga hari ke-14, kemudian meningkat kembali pada hari
ke-21. Peningkatan kadar BOD pada akhir pengamatan diduga dipengaruhi oleh
menurunnya kondisi fisiologis tanaman sehingga sebagian jaringan tanaman
mengalami peluruhan dan menambah kandungan bahan organik di dalam media.
Efektivitas penurunan BOD tertinggi diperoleh pada perlakuan eceng gondok 150
gram dengan Konsentrasi 2 sebesar 49,75% pada hari ke-14. Perlakuan eceng
gondok 100 gram pada Konsentrasi 2 menghasilkan efektivitas sebesar 40,90%,
sedangkan perlakuan terbaik pada Konsentrasi 1 diperoleh pada eceng gondok
150 gram dengan efektivitas sebesar 28,70%. Hasil tersebut menunjukkan bahwa
penggunaan biomassa tanaman yang lebih besar pada konsentrasi air lindi yang
lebih rendah memberikan kemampuan penyisihan BOD yang lebih baik.
Analisis regresi kuadratik menunjukkan bahwa perubahan kadar BOD
selama proses fitoremediasi mengikuti pola nonlinier. Model regresi pada
perlakuan eceng gondok 150 gram dengan Konsentrasi 2 memberikan nilai
koefisien determinasi (R²) tertinggi sebesar 0,9767, yang menunjukkan bahwa
model mampu menjelaskan sebagian besar variasi perubahan kadar BOD selama
penelitian. Pola kuadratik tersebut menggambarkan bahwa penurunan kadar BOD
berlangsung hingga mencapai kondisi optimum pada hari ke-14, kemudian
meningkat kembali akibat penurunan kemampuan fitoremediasi tanaman setelah
waktu kontak yang terlalu lama.
Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa eceng gondok
memiliki potensi sebagai tanaman fitoremediator dalam menurunkan kadar BOD
pada air lindi. Perlakuan menggunakan biomassa tanaman 150 gram pada
Konsentrasi 2 dengan waktu pengolahan selama 14 hari merupakan kondisi yang
paling efektif. Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi referensi dalam
pengembangan teknologi pengolahan air lindi yang sederhana, ekonomis, dan
ramah lingkungan, serta menjadi dasar bagi penelitian selanjutnya dengan
penambahan variasi biomassa tanaman, konsentrasi air lindi, maupun parameter
kualitas air lainnya.
Description
Finalisasi Repository/HASYIM Agustus 2026
