Analisis Pengaruh Telefarmasi Terhadap Kepatuhan Pengobatan Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 di Puskesmas Panti
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
FAKULTAS FARMASI
Abstract
Diabetes melitus tipe 2 merupakan penyakit kronis yang prevalensinya terus
meningkat, baik di dunia maupun di Indonesia. Kondisi ini memerlukan
pengelolaan jangka panjang yang optimal, terutama dalam hal kepatuhan pasien
terhadap pengobatan. Rendahnya tingkat kepatuhan minum obat menjadi salah satu
faktor yang dapat menghambat keberhasilan terapi serta meningkatkan risiko
komplikasi. Untuk itu, diperlukan upaya intervensi yang efektif untuk
meningkatkan kepatuhan pasien, salah satunya melalui layanan telefarmasi.
Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh telefarmasi terhadap
kepatuhan pengobatan pada pasien diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Panti.
Secara rinci, tujuan penelitian ini adalah: (1) mengidentifikasi karakteristik pasien
diabetes melitus tipe 2 di Puskesmas Panti; (2) menggambarkan profil kepatuhan
pengobatan sebelum dan sesudah intervensi; dan (3) membandingkan tingkat
kepatuhan pengobatan antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.
Metode penelitian yang digunakan adalah pendekatan kuantitatif dengan
desain kuasi-eksperimental dan bersifat prospektif. Responden dalam penelitian
berjumlah 60 yang dibagi menjadi dua kelompok, yaitu kelompok kontrol dan
kelompok intervensi. Pengukuran kepatuhan dilakukan menggunakan kuesioner
Hill-Bone Medication Adherence Scale versi bahasa Indonesia sebelum dan
sesudah intervensi. Kelompok intervensi mendapatkan layanan telefarmasi melalui
media WhatsApp yang meliputi edukasi, pemantauan, dan pengingat pengobatan,
sedangkan kelompok kontrol mendapatkan pelayanan kefarmasian standar. Data
dianalisis menggunakan uji Wilcoxon Signed Rank Test dan Mann–Whitney U Test.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa karakteristik responden didominasi
oleh kelompok usia 41–60 tahun, berjenis kelamin perempuan, tidak bekerja, lama
terdiagnosis lebih dari satu tahun, serta sebagian besar tidak memiliki penyakit
penyerta. Profil kepatuhan menunjukkan bahwa sebelum intervensi masih terdapat
pasien dengan kategori poor adherence. Setelah intervensi, kelompok kontrol tidak
menunjukkan perubahan yang bermakna, sedangkan kelompok intervensi
mengalami peningkatan kepatuhan yang ditandai dengan penurunan skor kepatuhan
dan meningkatnya jumlah pasien dalam kategori kepatuhan baik. Hasil uji statistik
menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan (p<0,05), yang menandakan
bahwa telefarmasi berpengaruh terhadap peningkatan kepatuhan pengobatan pasien
diabetes melitus tipe 2.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa layanan telefarmasi
efektif dalam meningkatkan kepatuhan pengobatan pasien diabetes melitus tipe 2
di Puskesmas Panti. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi fasilitas
pelayanan kesehatan, khususnya Puskesmas dalam mengembangkan layanan
kefarmasian berbasis teknologi sebagai upaya meningkatkan kualitas pelayanan
dan keberhasilan terapi pasien. Selain itu, hasil penelitian ini juga diharapkan dapat
menjadi referensi bagi penelitian selanjutnya dalam mengembangkan metode
intervensi yang lebih efektif dan komprehensif.
Description
Finalisasi Repository/HASYIM Agustus 2026
