Profil Morfologi, Anatomi, Molekuler dan Metabolomik Dumortiera hirsuta (Sw.) Nees Asal Jember, Jawa Timur
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Abstract
Dumortiera hirsuta (Sw.) Nees merupakan salah satu lumut hati bertalus yang dapat
ditemukan di Jember khususnya di area Gunung Gumitir, Rembangan, dan Panti. D.
hirsuta yang terdapat di tiga lokasi tersebut memiliki variasi morfologi yang hampir
sama, sehingga diperlukan proses identifikasi untuk validasi sampel dari ketiga lokasi
tersebut. Secara taksonomi D. hirsuta memiliki dua subspesies yaitu D. hirsuta subsp.
hirsuta dan D. hirsuta subsp. nepalensis yang morfologi perbedaan di bagian talus,
yaitu pada bagian yang berwarna lebih terang dengan permukaan beludru (velvet).
Perbedaan ini juga tercermin dalam profil senyawa metabolit volatil, pada subsp.
hirsuta didominasi seskuiterpen hidrokarbon seperti α-gurjunene dan β-caryophyllene,
sementara subsp. nepalensis mengandung senyawa khas seperti ledene, globulol, dan
nerolido, sehingga profil metabolomik juga diperlukan untuk mendukung validasi dari
spesies D. hirsuta.
Metode dari penelitian ini adalah identifikasi morfologi dengan pengukuran sampel
talus (panjang x lebar) dari masing-masing area 50 individu, kemudian analisis statistik
deskriptif dilanjutkan dengan uji beda nyata Duncan. Analisis anatomi digunakan
dengan pengamatan sel papila untuk validasi secara struktur dan rerata pengukurannya.
Analisis molekuler digunakan DNA Barcoding dengan buffer CTAB, primer yang
digunakan pada penelitian ini adalah primer rbcL, ITS2 dan matK. Analisis molekuler
lanjut adalah dengan Whole genome squenching (WGS) organel kloroplas. Metode
profil metabolomik digunakan GC-MS dengan metode ekstraksi talus D. hirsuta (0,05
gram) menggunakan nitrogen cair dan pelarut metanol 96% (1 mL). Uji antioksidan
IC50 digunakan DPPH sebagai radikal bebas dengan uji absorbansi menggunakan
spektrofotometer UV-VIS.
Hasil dari penelitian ini adalah terdapat variasi struktur morfologi dan anatomi D.
hirsuta dari tiga lokasi. Talus sampel Gumitir memiliki warna kehijauan paling gelap,
sedangkan sampel Rembangan cenderung lebih terang. Rerata panjang talus utama
berada pada kisaran 24,08–26,69 mm, lebar talus utama 8,76–10,01 mm, dan sudut talus
memiliki rentang 30,79–138,47°; uji Duncan menegaskan bahwa sampel Gumitir
memiliki talus yang secara signifikan lebih lebar pada seluruh bagian serta lebih
panjang pada cabang talus kanan dibandingkan lokasi lain. Selain itu, jumlah papila
berbeda nyata antar lokasi (Panti tertinggi, Rembangan menengah, Gumitir terendah),
sedangkan ukuran papila paling besar ditemukan pada sampel Gumitir, sementara
sampel Panti dan Rembangan tidak berbeda nyata. Karakterisasi molekuler melalui
DNA barcoding menunjukkan amplifikasi PCR berhasil pada marka rbcL dan ITS2 (pita
>500 bp), sedangkan matK tidak teramplifikasi; hasil BLAST mengonfirmasi identitas
D. hirsuta dengan similaritas tinggi dan pohon filogenetik (NJ) menempatkan sampel
Panti, Gumitir, dan Rembangan dalam satu klade bersama sekuens referensi
HM776594.1 dan HM776591.1. Ditinjau dari rekonstruksi filogenetik, marka rbcL lebih
representatif untuk menunjukkan hubungan taksonomi sampel dibandingkan ITS2.
Analisis plastome berbasis WGS menghasilkan plastome berukuran 121.965 bp dan
BLAST menunjukkan kecocokan tertinggi dengan D. hirsuta NC_039590 (query cover
100%; identitas 99,77%), serta pohon filogenetik plastome metode NJ dan ML secara
konsisten mengelompokkan D. hirsuta asal Jember dalam satu klade dengan referensi
tersebut. Profil GC–MS D. hirsuta dari tiga lokasi didominasi oleh seskuiterpen (36%)
dan asam lemak (17%), dengan total senyawa terdeteksi masing-masing 31 (Gumitir),
30 (Rembangan), dan 29 (Panti), serta terdapat metabolit spesifik lokasi yang
menunjukkan variasi kimia antar populasi. Prediksi in silico menggunakan PASS
Online mengindikasikan 320 potensi bioaktivitas (terutama dengan Pa > 0,7) yang
mendukung potensi farmakologis metabolit yang teridentifikasi. Secara fungsional, uji
DPPH menunjukkan aktivitas antioksidan yang konsisten sangat kuat pada semua
sampel (IC₅₀ < 50) dengan hubungan dosis–respon yang baik (R² > 0,90), sehingga
menegaskan D. hirsuta sebagai sumber metabolit bioaktif yang potensial.
Description
Validasi file repositori 4 Agustus 2026_Firli
