Profil Morfologi, Anatomi, Molekuler dan Metabolomik Dumortiera hirsuta (Sw.) Nees Asal Jember, Jawa Timur

dc.contributor.authorAbdillah Maulana Farhan
dc.date.accessioned2026-08-05T07:23:40Z
dc.date.issued2026-07-30
dc.descriptionValidasi file repositori 4 Agustus 2026_Firli
dc.description.abstractDumortiera hirsuta (Sw.) Nees merupakan salah satu lumut hati bertalus yang dapat ditemukan di Jember khususnya di area Gunung Gumitir, Rembangan, dan Panti. D. hirsuta yang terdapat di tiga lokasi tersebut memiliki variasi morfologi yang hampir sama, sehingga diperlukan proses identifikasi untuk validasi sampel dari ketiga lokasi tersebut. Secara taksonomi D. hirsuta memiliki dua subspesies yaitu D. hirsuta subsp. hirsuta dan D. hirsuta subsp. nepalensis yang morfologi perbedaan di bagian talus, yaitu pada bagian yang berwarna lebih terang dengan permukaan beludru (velvet). Perbedaan ini juga tercermin dalam profil senyawa metabolit volatil, pada subsp. hirsuta didominasi seskuiterpen hidrokarbon seperti α-gurjunene dan β-caryophyllene, sementara subsp. nepalensis mengandung senyawa khas seperti ledene, globulol, dan nerolido, sehingga profil metabolomik juga diperlukan untuk mendukung validasi dari spesies D. hirsuta. Metode dari penelitian ini adalah identifikasi morfologi dengan pengukuran sampel talus (panjang x lebar) dari masing-masing area 50 individu, kemudian analisis statistik deskriptif dilanjutkan dengan uji beda nyata Duncan. Analisis anatomi digunakan dengan pengamatan sel papila untuk validasi secara struktur dan rerata pengukurannya. Analisis molekuler digunakan DNA Barcoding dengan buffer CTAB, primer yang digunakan pada penelitian ini adalah primer rbcL, ITS2 dan matK. Analisis molekuler lanjut adalah dengan Whole genome squenching (WGS) organel kloroplas. Metode profil metabolomik digunakan GC-MS dengan metode ekstraksi talus D. hirsuta (0,05 gram) menggunakan nitrogen cair dan pelarut metanol 96% (1 mL). Uji antioksidan IC50 digunakan DPPH sebagai radikal bebas dengan uji absorbansi menggunakan spektrofotometer UV-VIS. Hasil dari penelitian ini adalah terdapat variasi struktur morfologi dan anatomi D. hirsuta dari tiga lokasi. Talus sampel Gumitir memiliki warna kehijauan paling gelap, sedangkan sampel Rembangan cenderung lebih terang. Rerata panjang talus utama berada pada kisaran 24,08–26,69 mm, lebar talus utama 8,76–10,01 mm, dan sudut talus memiliki rentang 30,79–138,47°; uji Duncan menegaskan bahwa sampel Gumitir memiliki talus yang secara signifikan lebih lebar pada seluruh bagian serta lebih panjang pada cabang talus kanan dibandingkan lokasi lain. Selain itu, jumlah papila berbeda nyata antar lokasi (Panti tertinggi, Rembangan menengah, Gumitir terendah), sedangkan ukuran papila paling besar ditemukan pada sampel Gumitir, sementara sampel Panti dan Rembangan tidak berbeda nyata. Karakterisasi molekuler melalui DNA barcoding menunjukkan amplifikasi PCR berhasil pada marka rbcL dan ITS2 (pita >500 bp), sedangkan matK tidak teramplifikasi; hasil BLAST mengonfirmasi identitas D. hirsuta dengan similaritas tinggi dan pohon filogenetik (NJ) menempatkan sampel Panti, Gumitir, dan Rembangan dalam satu klade bersama sekuens referensi HM776594.1 dan HM776591.1. Ditinjau dari rekonstruksi filogenetik, marka rbcL lebih representatif untuk menunjukkan hubungan taksonomi sampel dibandingkan ITS2. Analisis plastome berbasis WGS menghasilkan plastome berukuran 121.965 bp dan BLAST menunjukkan kecocokan tertinggi dengan D. hirsuta NC_039590 (query cover 100%; identitas 99,77%), serta pohon filogenetik plastome metode NJ dan ML secara konsisten mengelompokkan D. hirsuta asal Jember dalam satu klade dengan referensi tersebut. Profil GC–MS D. hirsuta dari tiga lokasi didominasi oleh seskuiterpen (36%) dan asam lemak (17%), dengan total senyawa terdeteksi masing-masing 31 (Gumitir), 30 (Rembangan), dan 29 (Panti), serta terdapat metabolit spesifik lokasi yang menunjukkan variasi kimia antar populasi. Prediksi in silico menggunakan PASS Online mengindikasikan 320 potensi bioaktivitas (terutama dengan Pa > 0,7) yang mendukung potensi farmakologis metabolit yang teridentifikasi. Secara fungsional, uji DPPH menunjukkan aktivitas antioksidan yang konsisten sangat kuat pada semua sampel (IC₅₀ < 50) dengan hubungan dosis–respon yang baik (R² > 0,90), sehingga menegaskan D. hirsuta sebagai sumber metabolit bioaktif yang potensial.
dc.description.sponsorshipDr. rer.nat. Fuad Bahrul Ulum, S.Si., M.Sc. Mukhamad Su’udi, S. Si., Ph.D.
dc.identifier.urihttps://repository.unej.ac.id/handle/123456789/13222
dc.language.isoother
dc.publisherFakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
dc.subjectDumortiera hirsuta
dc.subjectMolekuler
dc.subjectMetabolomik
dc.subjectDNA Barcoding
dc.titleProfil Morfologi, Anatomi, Molekuler dan Metabolomik Dumortiera hirsuta (Sw.) Nees Asal Jember, Jawa Timur
dc.typeOther

Files

Original bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
abdillah maulana farhan_tesis.pdf
Size:
2.77 MB
Format:
Adobe Portable Document Format

License bundle

Now showing 1 - 1 of 1
Loading...
Thumbnail Image
Name:
license.txt
Size:
1.71 KB
Format:
Item-specific license agreed to upon submission
Description:

Collections