Karakteristik Sensori Hard Candy dengan Penambahan Minyak Atsiri Pala (Myristica fragrans) dan Aktivitas Antimikroba terhadap Candida albicans dan Staphylococcus aureus
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Teknologi Pertanian
Abstract
Minyak atsiri pala (Myristica fragrans) merupakan salah satu komoditas
rempah unggulan Indonesia yang mengandung senyawa bioaktif seperti myristicin,
terpinen-4-ol, α-pinene, β-pinene, dan eugenol dengan potensi aktivitas
antimikroba terhadap Staphylococcus aureus dan Candida albicans, dua
mikroorganisme patogen rongga mulut yang berkontribusi terhadap halitosis (bau
mulut). Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023, sebesar 56,9%
penduduk Indonesia mengalami masalah kesehatan gigi dan mulut, namun hanya
11,2% yang memperoleh penanganan medis. Meskipun aktivitas antimikroba
minyak atsiri pala telah terbukti, penggunaannya secara langsung terkendala oleh
aromanya yang tajam, sehingga diperlukan inovasi sistem penghantaran yang tepat.
Hard candy (permen keras) dipilih sebagai media penghantaran inovatif karena
mampu mempertahankan senyawa aktif lebih lama di rongga mulut (±12 menit),
melindungi minyak atsiri melalui matriks gula, serta merangsang produksi saliva
sehingga efek antimikroba lebih optimal. Kajian mengenai formulasi hard candy
berbasis minyak atsiri pala beserta pengaruhnya terhadap aktivitas antimikroba dan
karakteristik sensori masih terbatas, sehingga penelitian ini menjadi penting untuk
dilakukan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui aktivitas antimikroba hard
candy dengan variasi konsentrasi minyak atsiri pala terhadap C. albicans dan S.
aureus, mengetahui pengaruh variasi konsentrasi minyak atsiri pala terhadap
karakteristik sensori hard candy, mengetahui formulasi terbaik hard candy minyak
atsiri pala, serta mengidentifikasi senyawa dominan dalam minyak atsiri pala dan
hard candy menggunakan GC-MS.
Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Inovasi Hasil Pangan dan
Kewirausahaan, Laboratorium Pengendalian Mutu, dan Laboratorium
Mikrobiologi Pangan, Universitas Jember, serta Laboratorium Analisis Flavor
Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, Subang (November 2025–Mei 2026).
Rancangan penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktor,
yaitu konsentrasi minyak atsiri pala (A1=0%; A2=0,5%; A3=1%; A4=1,5%;
A5=2%; A6=2,5%) dengan tiga ulangan. Hard candy dibuat dari formulasi dasar
120 g sukrosa, 60 g sirup glukosa, dan 20 ml air yang dipanaskan hingga 140°C.
Pengujian aktivitas antimikroba menggunakan metode difusi cakram (Kirby-Bauer)
dan dilusi cair untuk penentuan nilai MIC (Minimum Inhibitory Concentration).
Evaluasi sensori dilakukan menggunakan metode deskriptif RATA (Rate-All-ThatApply) dan uji hedonik terhadap 80 panelis tidak terlatih. Karakterisasi senyawa
kimia dilakukan dengan GC-MS. Penentuan perlakuan terbaik menggunakan
metode De Garmo. Data dianalisis menggunakan ANOVA dan DMRT pada taraf
signifikansi 5%.
Hasil uji difusi cakram menunjukkan bahwa penambahan minyak atsiri pala
pada hard candy berpengaruh nyata (p<0,05) terhadap zona hambat S. aureus dan
C. albicans. Zona hambat terhadap S. aureus meningkat secara konsisten dari 1,01
mm (A1) hingga 5,44 mm (A6), sedangkan terhadap C. albicans meningkat dari
0,14 mm hingga 4,97 mm. Seluruh zona hambat terhadap kedua mikroba tergolong
kategori lemah hingga sedang (Putrajaya et al., 2019). Nilai MIC terhadap S. aureus
ditetapkan pada konsentrasi 1% (40,54 mg/ml), sedangkan MIC terhadap C.
albicans ditetapkan pada konsentrasi 1,5% (60,82 mg/ml) berdasarkan hasil
pengukuran absorbansi spektrofotometer (penurunan nilai OD setelah inkubasi).
Aktivitas antimikroba tersebut dikaitkan dengan mekanisme kerja multitarget
senyawa bioaktif minyak atsiri pala, yaitu kerusakan membran sel, peningkatan
permeabilitas, penghambatan enzim intraseluler, dan gangguan pembentukan
biofilm.
Hasil analisis GC-MS mengidentifikasi senyawa dominan dalam minyak
atsiri pala, antara lain terpinen-4-ol, myristicin, β-pinene, α-pinene, β-myrcene,
linalool, dan elemicin. Senyawa-senyawa tersebut tergabung dalam kelompok
monoterpen teroksigenasi dan fenilpropanoid yang berperan dalam aktivitas
antimikroba. Profil sensori deskriptif (RATA) menunjukkan bahwa perlakuan A1–
A3 didominasi karakter sweet taste dan tekstur keras, sedangkan perlakuan A4–A6
menunjukkan karakter spicy dan cooling yang semakin dominan seiring
meningkatnya konsentrasi minyak atsiri. Uji hedonik menunjukkan bahwa
penerimaan panelis terhadap aroma tertinggi pada A4 (53,8%), rasa tertinggi pada
A2 (57,5%), sedangkan untuk mouthfeel dan aftertaste tertinggi pada A1. Secara
umum, semakin tinggi konsentrasi minyak atsiri pala, semakin menurun tingkat
kesukaan panelis akibat dominannya aroma dan rasa khas pala yang tajam.
Penambahan minyak atsiri pala pada hard candy terbukti meningkatkan
aktivitas antimikroba terhadap S. aureus dan C. albicans secara signifikan, namun
berpengaruh negatif terhadap karakteristik sensori pada konsentrasi tinggi.
Berdasarkan uji efektivitas De Garmo, formulasi terbaik adalah perlakuan A4
dengan konsentrasi minyak atsiri pala 1,5%, yang menghasilkan nilai efektivitas
tertinggi (0,62). Perlakuan ini dinilai optimal karena mampu menyeimbangkan
aktivitas antimikroba yang memadai dengan karakteristik sensori yang masih dapat
diterima konsumen, sehingga berpotensi dikembangkan sebagai produk pangan
fungsional alternatif untuk membantu mencegah gangguan kesehatan mulut akibat
S. aureus dan C. albicans.
Description
Validasi file repositori 4 Agustus 2026_Firli
