Analisis Spasial dan Temporal Kekeringan Meteorologis Menggunakan Metode Standardized Precipitation Index (SPI) di Kabupaten Banyuwangi
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Abstract
Kekeringan meteorologis merupakan salah satu bentuk anomali iklim yang
penting dipahami pola kemunculannya, hal tersebut dapat dilihat dari segi ruang
maupun waktu, mengingat dampaknya terhadap ketersediaan air dan sektor
pertanian. Wilayah Kabupaten Banyuwangi dipilih sebagai lokasi penelitian karena
memiliki kondisi topografi dan iklim yang bervariasi, sehingga berpotensi
menghasilkan karakteristik kekeringan yang berbeda. Penelitian ini dilakukan
untuk mengkaji perkembangan kekeringan meteorologis di wilayah Banyuwangi
sepanjang waktu serta persebarannya secara spasial selama periode 1994–2023.
Data utama pada penelitian ini berupa curah hujan bulanan hasil reanalisis
ERA5 yang diakses melalui Copernicus Climate Data Store, dengan cakupan area
yang disesuaikan batas administrasi Kabupaten Banyuwangi dan resolusi spasial
sebesar 0,25°. Data stasiun BMKG dan satelit TRMM 3B43 digunakan sebagai
pembanding untuk keperluan validasi. Keseluruhan data diperiksa kualitasnya
untuk memastikan tidak terdapat data hilang maupun nilai tidak wajar. Tingkat
kekeringan dihitung menggunakan metode Standardized Precipitation Index
dengan skala dua belas bulan. Tren kekeringan dianalisis menggunakan uji Mann–
Kendall, uji Theil–Sen, dan regresi linier, sementara keakuratan hasil dapat
dipastikan melalui perbandingan dari ketiga sumber data. Pola spasial kekeringan
meteorologis dipetakan menggunakan teknik interpolasi terhadap kondisi ekstrem
tahunan dan rata-rata bulanan dengan bantuan perangkat pemrograman Python.
Pola kekeringan meteorologis di Banyuwangi bersifat periodik, dengan
frekuensi kondisi kering rata-rata mencapai 28,94% dari total keseluruhan periode
pengamatan. Periode kekeringan paling intens teridentifikasi pada fase El Niño kuat
pada tahun 1997/1998, diikuti periode kekeringan pada 2007 serta 2015/2016.
Ketiga metode tren secara konsisten menunjukkan peningkatan indeks kekeringan
yang signifikan secara statistik pada taraf kepercayaan 95%, yang mengindikasikan
pergeseran bertahap menuju kondisi hidroklimatologi yang relatif lebih basah,
meskipun risiko kekeringan ekstrem tetap ada pada fase koinfluens El Niño dan
IOD positif.
Description
Finalisasi oleh agus 3 Agustus 2026
