Analisis Efektivitas Regimen BPALM terhadap Treatment Success Rate dan Time to Sputum Culture Conversion pada Pasien TB-RO : Studi Kohort Retrospektif di RSD dr. Soebandi dan RS Paru Jember
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
FAKULTAS FARMASI
Abstract
Tuberkulosis Resisten Obat (TB-RO) merupakan ancaman kesehatan global
yang memerlukan manajemen terapi intensif. Paduan BPaLM (Bedakuilin,
Pretomanid, Linezolid, dan Moksifloksasin) direkomendasikan sebagai standar
pengobatan baru dengan durasi yang lebih singkat. Penelitian ini bertujuan untuk
mengevaluasi efektivitas regimen BPaLM dibandingkan regimen non-BPaLM
terhadap luaran klinis yang diukur melalui Treatment Success Rate (TSR) dan Time
to Sputum Culture Conversion (TSCC) pada pasien TB-RO.
Penelitian ini merupakan studi observasional analitik dengan desain kohort
retrospektif. Data dikumpulkan melalui Sistem Informasi Tuberkulosis (SITB)
periode November 2023 hingga Desember 2025 di RSD dr. Soebandi dan RS Paru
Jember. Dari total populasi, sebanyak 155 pasien memenuhi kriteria inklusi.
Analisis data untuk TSR menggunakan uji Chi-Square dan Binnary Logistic
Regression, sedangkan untuk TSCC menggunakan analisis kelangsungan hidup
Kaplan-Meier dan Cox Regression Model Interaction.
Profil sosiodemografi dan klinis menunjukkan mayoritas pasien adalah lakilaki (58,7%), berusia antara kurang dari 60 tahun (26,5%), memiliki status
pengobatan baru (74,8%), dan terdiagnosis TB-RR (58,1%). Angka keberhasilan
pengobatan (TSR) secara keseluruhan mencapai 69%, di mana persentase
keberhasilan kelompok BPaLM (77,8%) lebih tinggi dibandingkan kelompok nonBPaLM (61,5%). Hasil uji multivariat menunjukkan bahwa pasien yang menerima
regimen BPaLM memiliki peluang keberhasilan pengobatan 14 kali lebih tinggi
dibandingkan pengguna non-BPaLM (aOR=14,000; 95% CI=2,554-76,744). Pada
evaluasi TSCC, penggunaan regimen yeng berinteraksi dengan jenis kelamin
terbukti memengaruhi percepatan konversi dahak secara signifikan (p=0,039;
HR=2,946; 95% CI=1,059-8,196), di mana 100% pasien BPaLM mencapai
konversi dahak negatif dalam waktu 5 bulan, lebih cepat dibandingkan kelompok
non-BPaLM yang membutuhkan waktu hingga 9,3 bulan.
Regimen BPaLM terbukti secara signifikan lebih efektif dibandingkan
regimen non-BPaLM karena mampu memberikan peluang keberhasilan terapi
(TSR) yang jauh lebih tinggi dan waktu konversi kultur dahak (TSCC) yang lebih
cepat, di mana percepatan konversi ini turut dipengaruhi oleh interaksi faktor jenis
kelamin pada pasien TB-RO.
Description
Finalisasi Hasyim/Agustus 2026
