Hubungan Antara Massa Otot, Massa Lemak dan Asupan Energi dengan Tingkat Kelentukan pada Atlet Petanque (Studi di Federasi Olahraga Petanque Indonesia Kabupaten Tuban)
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Olahraga merupakan aktivitas fisik yang bertujuan meningkatkan
kebugaran jasmani dan rekreasi. Salah satu cabang olahraga rekreasi adalah
petanque, yang mulai diperkenalkan di Indonesia pada SEA Games 2011 di
Palembang. Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) yang bekerja sama
dengan pengurus provinsi untuk memperluas jangkauan olahraga ini, termasuk di
Kabupaten Tuban. Namun, prestasi atlet petanque Kabupaten Tuban masih
tergolong rendah. Ajang Porprov IX/2025, Kabupaten Tuban belum mampu meraih
satu pun medali emas dari tiga belas medali yang diperebutkan. Data FOPI Tuban
pada tahun 2025 menunjukkan bahwa dari 44 atlet, sebanyak 22,7% memiliki IMT
kurus, 56,8% normal, dan 20,5% overweight. Seluruh atlet dengan kategori
overweight memiliki kelentukan kurang berdasarkan tes sit and reach, sehingga
perbedaan komposisi tubuh diduga memengaruhi tingkat kelentukan, yang pada
akhirnya dapat berdampak pada performa atlet dan meningkatkan risiko cedera.
Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan massa otot,
massa lemak, dan asupan energi dengan tingkat kelentukan pada atlet petanque di
FOPI Kabupaten Tuban.
Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan crosssectional. Sampel diambil secara total sampling sebanyak 44 atlet berusia 18–23
tahun. Pengukuran massa otot dan massa lemak dilakukan menggunakan alat
Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), asupan energi diukur dengan metode food
recall 3×24 jam, sedangkan kelentukan diukur menggunakan tes sit and reach.
Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik
masing-masing variabel dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman's rho.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar atlet memiliki massa
otot dalam kategori rendah (79,5%), mayoritas atlet memiliki massa lemak dalam
kategori good sebesar 27,3%, serta asupan energi sebagian besar dalam kategori
defisit berat (52,3%). Tingkat kelentukan atlet sebagian besar berada pada kategori
cukup (40,9%). Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan
yang signifikan antara massa otot dengan tingkat kelentukan (p=0,265) maupun
antara asupan energi dengan tingkat kelentukan (p=0,684). Namun, terdapat
hubungan yang signifikan dan bersifat negatif antara massa lemak dengan tingkat
kelentukan (p<0,000, r= -0,666), yang berarti semakin tinggi massa lemak
seseorang, maka semakin rendah tingkat kelenturannya, dan sebaliknya.
Berdasarkan hasil tersebut, diharapkan instansi terkait untuk melakukan
pemantauan kondisi fisik atlet secara berkala, menyusun program latihan yang lebih
terstruktur dengan penambahan latihan kekuatan dan fleksibilitas, serta
memberikan edukasi gizi olahraga agar kebutuhan energi atlet dapat terpenuhi. Bagi
atlet, disarankan untuk menjaga keseimbangan antara latihan fisik dan pemenuhan
kebutuhan gizi guna mendukung kelentukan dan performa optimal.
Description
:: Finalisasi file repositori 28 Juli 2026_Kurnadi
