Hubungan Antara Massa Otot, Massa Lemak dan Asupan Energi dengan Tingkat Kelentukan pada Atlet Petanque (Studi di Federasi Olahraga Petanque Indonesia Kabupaten Tuban)
| dc.contributor.author | Chikyta Lintang Firdauzi | |
| dc.date.accessioned | 2026-07-28T00:40:50Z | |
| dc.date.issued | 2026-06-23 | |
| dc.description | :: Finalisasi file repositori 28 Juli 2026_Kurnadi | |
| dc.description.abstract | Olahraga merupakan aktivitas fisik yang bertujuan meningkatkan kebugaran jasmani dan rekreasi. Salah satu cabang olahraga rekreasi adalah petanque, yang mulai diperkenalkan di Indonesia pada SEA Games 2011 di Palembang. Federasi Olahraga Petanque Indonesia (FOPI) yang bekerja sama dengan pengurus provinsi untuk memperluas jangkauan olahraga ini, termasuk di Kabupaten Tuban. Namun, prestasi atlet petanque Kabupaten Tuban masih tergolong rendah. Ajang Porprov IX/2025, Kabupaten Tuban belum mampu meraih satu pun medali emas dari tiga belas medali yang diperebutkan. Data FOPI Tuban pada tahun 2025 menunjukkan bahwa dari 44 atlet, sebanyak 22,7% memiliki IMT kurus, 56,8% normal, dan 20,5% overweight. Seluruh atlet dengan kategori overweight memiliki kelentukan kurang berdasarkan tes sit and reach, sehingga perbedaan komposisi tubuh diduga memengaruhi tingkat kelentukan, yang pada akhirnya dapat berdampak pada performa atlet dan meningkatkan risiko cedera. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan massa otot, massa lemak, dan asupan energi dengan tingkat kelentukan pada atlet petanque di FOPI Kabupaten Tuban. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan crosssectional. Sampel diambil secara total sampling sebanyak 44 atlet berusia 18–23 tahun. Pengukuran massa otot dan massa lemak dilakukan menggunakan alat Bioelectrical Impedance Analysis (BIA), asupan energi diukur dengan metode food recall 3×24 jam, sedangkan kelentukan diukur menggunakan tes sit and reach. Analisis data dilakukan secara univariat untuk menggambarkan karakteristik masing-masing variabel dan bivariat menggunakan uji korelasi Spearman's rho. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar atlet memiliki massa otot dalam kategori rendah (79,5%), mayoritas atlet memiliki massa lemak dalam kategori good sebesar 27,3%, serta asupan energi sebagian besar dalam kategori defisit berat (52,3%). Tingkat kelentukan atlet sebagian besar berada pada kategori cukup (40,9%). Hasil uji bivariat menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan yang signifikan antara massa otot dengan tingkat kelentukan (p=0,265) maupun antara asupan energi dengan tingkat kelentukan (p=0,684). Namun, terdapat hubungan yang signifikan dan bersifat negatif antara massa lemak dengan tingkat kelentukan (p<0,000, r= -0,666), yang berarti semakin tinggi massa lemak seseorang, maka semakin rendah tingkat kelenturannya, dan sebaliknya. Berdasarkan hasil tersebut, diharapkan instansi terkait untuk melakukan pemantauan kondisi fisik atlet secara berkala, menyusun program latihan yang lebih terstruktur dengan penambahan latihan kekuatan dan fleksibilitas, serta memberikan edukasi gizi olahraga agar kebutuhan energi atlet dapat terpenuhi. Bagi atlet, disarankan untuk menjaga keseimbangan antara latihan fisik dan pemenuhan kebutuhan gizi guna mendukung kelentukan dan performa optimal. | |
| dc.description.sponsorship | DPU: Ruli Bahyu Antika, S.KM., M.Gizi | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/12142 | |
| dc.language.iso | other | |
| dc.publisher | Fakultas Kesehatan Masyarakat | |
| dc.subject | Massa otot | |
| dc.subject | Massa lemak | |
| dc.subject | Asupan Energi | |
| dc.subject | Atlet Petanque | |
| dc.subject | Komposisi Tubuh | |
| dc.title | Hubungan Antara Massa Otot, Massa Lemak dan Asupan Energi dengan Tingkat Kelentukan pada Atlet Petanque (Studi di Federasi Olahraga Petanque Indonesia Kabupaten Tuban) | |
| dc.type | Other |
