Manajemen Risiko Produksi Usahatani Cabai Rawit di Kabupaten Jember
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Pertanian
Abstract
Hortikultura merupakan salah satu sektor yang dianggap penting karena
berperan dalam pertanian guna menjaga keseimbangan pangan dan memenuhi
kebutuhan pasar yang meningkat. Sektor hortikultura terdapat beberapa subsektor
antara lain, subsektor tanaman sayur-sayuran, tanaman obat, tanaman hias dan
tanaman buah-buahan. Salah satu komoditas unggulan di sektor hortikultura sayursayuran yang mempunyai nilai ekonomi tinggi yaitu tanaman cabai rawit
(Capsicum frutescens L.). Provinsi Jawa Timur merupakan penghasil cabai rawit
tertinggi di Indonesia pada tahun 2021 yaitu sebanyak 578.883 ton atau sekitar
41,75%. Pada tahun 2023 terdapat beberapa komoditas yang jumlah produksinya
melebihi 100 ribu ton diantaranya yakni produksi cabai rawit sebesar 562.82 ribu
ton.
Kabupaten Jember menempati urutan sebelas di Provinsi Jawa Timur tahun
2024 dengan total produksi 176.234 kuintal. Produksi cabai rawit di Kabupaten
Jember pada tahun 2021 hingga 2024 mengalami fluktuasi produksi yang
berpengaruh pada produktivitas cabai rawit. Penurunan produksi ini dapat terjadi
karena terdapat beberapa permasalahan seperti serangan hama dan penyakit, curah
hujan yang tinggi, faktor teknis (benih, pupuk, lahan, pengairan), penggunaan
alsintan. Permasalahan yang ada dapat menimbulkan terjadinya risiko produksi
berupa penurunan kualitas atau penurunan hasil produksi. Hal tersebut perlu adanya
identifikasi sumber risiko, pengukuran risiko dan strategi manajemen risiko
produksi di setiap tahap awal sampai akhir sehingga dapat mengoptimalkan hasil
produksi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) sumber risiko produksi
pada usahatani cabai rawit di Kabupaten Jember, (2) tingkat risiko produksi
usahatani cabai rawit di Kabupaten Jember, (3) strategi manajemen risiko produksi
yang dilakukan petani pada usahatani cabai rawit di Kabupaten Jember. Penetapan
daerah penelitian menggunakan purposive method di Kecamatan Kalisat, Wuluhan,
dan Jelbuk. Metode penelitian yang digunakan adalah metode analisis deskriptif
dan analitik. Metode pengumpulan data yang dilakukan melalui observasi,
wawancara, kuesioner, dan studi literatur. Pengambilan sampel yang digunakan
purposive sampling dan didapatkan 44 sampel dari tiga desa yaitu Desa Panduman,
Desa Sumber Ketempa, dan Desa Dukuhdempok. Metode analisis data untuk
mengidentifikasi sumber risiko dan strategi manajemen risiko menggunakan
analisis deskriptif dan untuk menganalisis tingkat risiko produksi menggunakan
analisis koefisien variasi.
Hasil penelitian menujukkan bahwa: (1) sumber risiko produksi produksi
yang dihadapi petani antara lain seperti curah hujan tinggi yang setiap hari turun,
serangan hama seperti kutu kebul, ulat grayak, thrips, kutu daun, dan tungau.
Penyakit yang menyerang antraknosa (patek), phytophthora (busuk batang),
fusarium, dan bercak daun, faktor teknis (benih, pupuk, lahan, pengairan), dan
penggunaan alsintan. (2) Tingkat risiko produksi yang dianalisis menggunakan
koefisien variasi menghasilkan nilai 0,46. Nilai 0,46 produksi walaupun masuk
dalam kategori rendah, namun mendekati ambang batas 0,5 kategori rendah. (3)
Strategi manajemen risiko produksi yang dilakukan petani terbagi menjadi tiga
strategi yaitu, strategi ex-ante, interactive, dan ex-post. Strategi manajemen ex-ante
yang dilakukan petani antara lain menggunakan pola tanam padi-cabai-jagung,
dengan menggunakan mulsa sebagai penutup di permukaan tanah, menggunakan
sistem pola tanam monokultur, dan jumlah varietas yang digunakan tunggal pada
semua lahan. Strategi manajemen interactive yang dilakukan petani seperti
penggunaan jarak tanam sedang, melakukan penyulaman apabila tanaman mati,
jenis pupuk yang digunakan yaitu pupuk tunggal, majemuk, dan organik, metode
pengendalian OPT menggunakan pestisida kimia, dan tindakan yang dilakukan
petani jika mengalami kesulitas permodalan melakukan peminjaman ke bank.
Strategi manajemen ex-post yang dilakukan petani seperti tindakan yang dilakukan
setelah usahatani gagal mayoritas tetap menanam dengan mencari penyebab
kegagalan dan status usahatani dalam menghidupi keluarga, mayoritas petani
bergantung pada usahatani cabai rawit.
Description
Validasi file repositori 10 Juli 2026_Firli
