Pengaruh Ekstrak Kulit Bawang Merah (Allium cepa L.) terhadap Gambaran Histopatologi dan Berat Limpa Tikus (Rattus norvegicus) pada Uji Toksisitas Subkronis
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kedokteran
Abstract
Kulit bawang merah merupakan limbah hasil pertanian yang mengandung
berbagai senyawa bioaktif, terutama flavonoid jenis kuersetin. Senyawa ini
diketahui memiliki aktivitas antioksidan, antiinflamasi, dan imunomodulator yang
berpotensi memberikan manfaat bagi kesesehatan. Namun, penggunaan kuersetin
dalam dosis tinggi dalam jangka waktu tertentu dapat menimbulkan efek toksik
sehingga diperlukan evaluasi keamanan melalui uji toksisitas untuk mengetahui
kemungkinan dampak pemberian ekstrak kulit bawang merah terhadap organ
tubuh, termasuk limpa. Limpa merupakan organ limfoid sekunder yang berperan
penting dalam respons imun. Organ ini berfungsi sebagai tempat proliferasi,
diferensiasi, dan aktivasi limfosit ketika terjadi paparan antigen. Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh pemberian ekstrak kulit bawang merah
(Allium cepa L.) terhadap berat limpa dan gambaran histopatologi limpa tikus
(Rattus norvegicus) pada uji toksisitas subkronis.
Penelitian ini menggunakan jenis true experimental design dengan rancangan
posttest-only control group design yang mengacu pada OECD Guideline No. 407.
Sebanyak 24 ekor tikus Wistar jantan dan betina dibagi menjadi empat kelompok
yang terdiri atas kelompok kontrol, kelompok perlakuan dosis 731 mg/kgBB, 1462
mg/kgBB, dan 2924 mg/kgBB. EKBM diberikan secara oral setiap hari selama 28
hari. Setelah periode perlakuan, organ limpa diambil untuk dilakukan penimbangan
dan pemeriksaan histopatologi. Parameter yang diamati meliputi berat absolut dan
relatif limpa, diameter dam luas pulpa putih, serta diameter dan luas germinal
center. Pengukuran histopatologi dilakukan menggunakan perangkat lunak ImageJ
pada lima pulpa putih di setiap preparat dengan perbesaran 100x.
Hasil penelitian menunjukkan berat absolut limpa kelompok kontrol dan
perlakuan EKBM berturut-turut adalah 0,92±0,17 g, 0,94±0,26 g, 0,97±0,17 g dan
1,25±0,33 g dengan hasil yang tidak signifikan p=0,415 (p>0,05), sedangkan berat
relatif limpa kelompok kontrol dan perlakuan berturut-turut adalah 0,48±0,06%,
0,49±0,17%, 0,49±0,09% dan 0,61±0,09% dengan hasil yang tidak signifikan
p=0,384 (p>0,05). Pada pengukuran diameter pulpa putih limpa, rata-rata kelompok
kontrol dan perlakuan EKBM secara berurutan yaitu 341,03±8,35 μm,
397,58±20,14 μm, 445,973±48,64 μm, dan 551,06±32,60 μm dengan hasil yang
signifikan p<0,001 (p<0,05). Selanjutnya, pada pengukuran luas pulpa putih limpa,
rata-rata kelompok kontrol dan perlakuan EKBM secara berurutan yaitu
89.628,85±10.258,18 μm2
, 117.336,29±14.346,18 μm2
, 153.429,75±33.194,63
μm2
, dan 230.005,64±24.142,49 μm2
dengan hasil yang signifikan p<0,001
(p<0,05). Pada pengukuran diameter germinal center limpa, rata-rata kelompok
kontrol dan perlakuan EKBM secara berurutan yaitu 100,93±10,30 μm,
115,66±9,65 μm, 140,49±14,48 μm, dan 172,52±13,77 μm dengan hasil yang
signifikan p<0,001 (p<0,05). Pada pengukuran luas germinal center limpa, rata-rata
kelompok kontrol dan perlakuan EKBM yaitu 7.832,84±1.657,48 μm2
,
10.147,26±1.338,12 μm2
, 14.689,70±3.130,84 μm2
, dan 22.933,00±2.999,01 μm2
dengan hasil yang signifikan p<0,001 (p<0,05). Berdasarkan hasil penelitian, dapat
disimpulkan bahwa pemberian ekstrak kulit bawang merah selama 28 hari tidak
memengaruhi berat limpa tikus, tetapi menyebabkan perubahan histopatologi
berupa peningkatan ukuran pulpa putih dan germinal center yang menunjukkan
adanya respons jaringan limfoid limpa pada uji toksisitas subkronis
Description
Validasi file repositori 02 Juli 2026_Firli
