Hubungan Antara Dietary Inflammatory Index dengan Kejadian Hipertensi pada Remaja (Studi Penelitian di SMAN 2 Jember)
Loading...
Files
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Kesehatan Masyarakat
Abstract
Hipertensi pada remaja (≥130/80 mmHg) dapat menyebabkan komplikasi
serius, seperti penyakit kardiovaskular, stroke, dan gangguan fungsi organ lainnya
jika tidak ditangani sejak dini. Salah satu faktor risiko yang berperan adalah pola
makan pro-inflamasi, seperti diet kebarat-baratan yang tinggi lemak jenuh, gula,
dan makanan olahan yang dapat memicu inflamasi sistemik dan berkontribusi
terhadap peningkatan tekanan darah. Penilaian potensi inflamasi dari pola makan
dapat dilakukan dengan menggunakan Dietary Inflammatory Index (DII).
Penelitian terkait hubungan DII dengan hipertensi pada remaja di Indonesia masih
terbatas, sehingga diperlukan penelitian lebih lanjut, khususnya pada remaja di
SMAN 2 Jember. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis hubungan
antara Dietary Inflammatory Index dengan kejadian hipertensi pada remaja di
SMAN 2 Jember.
Penelitian ini menggunakan desain case-control yang dilakukan di SMAN
2 Jember pada Januari hingga April 2026 dengan jumlah sampel sebanyak 120
responden yang terdiri dari 60 responden kelompok kasus (tekanan darah sistolik
≥130 mmHg atau diastolik ≥80 mmHg) dan 60 responden kelompok kontrol
(tekanan darah sistolik <120 mmHg dan diastolik <80 mmHg). Data kejadian
hipertensi dikumpulkan melalui pengukuran tekanan darah menggunakan
tensimeter digital, sedangkan DII dihitung berdasarkan 23 zat gizi (15 zat gizi
anti-inflamasi (serat, MUFA, PUFA, vitamin (A (retinol dan β-karoten), B1, B2,
B3, B6, B9, C, D, E), seng, dan magnesium) dan 8 zat gizi pro-inflamasi (energi,
protein, lemak total, karbohidrat, SFA, kolesterol, zat besi, dan vitamin B12))
yang berasal dari total asupan harian kuesioner Semi-Quantitative Food
Frequency Questionnaire (SQ-FFQ). Analisis data dilakukan secara univariat
viiuntuk mengetahui distribusi karakteristik dan bivariat menggunakan uji chi-square
untuk menganalisis hubungan antar-variabel.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden berusia 16
tahun dengan proporsi laki-laki lebih tinggi pada kelompok kasus (58,3%).
Rata-rata skor DII pada kelompok kontrol menunjukkan kategori anti-inflamasi
(-0,427), sedangkan pada kelompok kasus menunjukkan kategori pro-inflamasi
(1,091). Distribusi kategori juga menunjukkan bahwa mayoritas responden
kelompok kontrol memiliki pola makan anti-inflamasi (66,7%), sedangkan
sebagian besar responden kelompok kasus memiliki pola makan pro-inflamasi
(71,7%). Hasil uji statistik menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara
DII dengan kejadian hipertensi (p = 0,000), dengan nilai Odds Ratio (OR) sebesar
5,059, yang menunjukkan remaja dengan pola makan pro-inflamasi memiliki
risiko 5,06 kali mengalami hipertensi dibandingkan dengan remaja dengan pola
makan anti-inflamasi.
Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan
yang signifikan antara Dietary Inflammatory Index dengan kejadian hipertensi
pada remaja. Pola makan yang bersifat pro-inflamasi diduga berperan dalam
meningkatkan risiko hipertensi melalui mekanisme inflamasi sistemik dan
gangguan fungsi pembuluh darah. Oleh karena itu, perbaikan pola makan melalui
diet anti-inflamasi menjadi salah satu upaya pencegahan hipertensi sejak usia
remaja.
Description
Approved by Teddy
