Tradisi Nyantri dalam Novel Saga dari Samudra Karya Ratih Kumala: Kajian Antropologi Sastra
Loading...
Date
Authors
Journal Title
Journal ISSN
Volume Title
Publisher
Fakultas Ilmu Budaya
Abstract
Indonesia merupakan negara mayoritas penduduk beragama Islam yang
memiliki keberagaman budaya dan kekayaan kearifan lokal di setiap daerahnya.
Hubungan antara Islam dan kebudayaan lokal tersebut terefleksi dalam novel Saga
dari Samudra karya Ratih Kumala. Novel tersebut merupakan karya fiksi historis
yang berlatar proses Islamisasi Jawa pada abad ke-15. Novel ini mengisahkan
perjalanan hidup Jaka Samudra yang kemudian dikenal sebagai Raden Paku atau
Sunan Giri, mulai dari masa kecilnya hingga menjadi tokoh penting dalam
penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Melalui perjalanan tokoh Sunan Giri, novel
menghadirkan dinamika sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Jawa pada masa
peralihan dari kepercayaan lokal menuju Islam.
Tujuan penelitian dalam skripsi ini adalah menganalisis keterkaitan
antarunsur struktural dalam novel Saga dari Samudra karya Ratih Kumala dan
analisis antropologi sastra yang mengungkap representasi tradisi nyantri. Penelitian
menggunakan metode deskriptif kualitatif, objek material berupa novel Saga dari
Samudra karya Ratih Kumala, objek formal berupa keterkaitan unsur struktural
serta representasi tradisi nyantri. Satuan analisis penelitian adalah kalimat, paragraf,
dialog, dan narasi yang dianalisis menggunakan teori struktural dan antropologi
sastra melalui tahap pembacaan, klasifikasi, interpretasi, dan penyusunan data
secara sistematis.
Hasil analisis struktural menunjukkan bahwa adanya keterkaitan antarunsur
struktural, meliputi tema, penokohan dan perwatakan, konflik, dan latar. Tema
mayor adalah perjuangan penyebaran agama Islam secara adaptif terhadap budaya
lokal, yang dilakukan oleh tokoh utama, yakni Sunan Giri. Tema ini didukung oleh
tema-tema tambahan seperti nilai kemanusiaan melampaui garis keturunan,
pendidikan pesantren sebagai transformasi identitas, kesetiaan dalam budaya feodal
Jawa, toleransi terhadap budaya lokal Jawa. Tokoh utama, Jaka Samudra (Sunan
ix
Giri), digambarkan sebagai individu yang mengalami perkembangan karakter
melalui proses pendidikan dan pengalaman hidup. Penokohan dan perwatakan
diperkuat oleh tokoh-tokoh tambahan yakni Nyai Ageng Pinatih, Sunan Ampel,
Taksa dan Sancaka. Semua tokoh memiliki watak datar (flat character) kecuali
tokoh Taksa. Perbedaan watak tokoh tersebut memunculkan konflik fisik
(eksternal) dan konflik batin (internal). Konflik fisik (eksternal) antara manusia
dengan manusia dialami oleh Jaka Samudra dengan Aryo Rekso, konflik manusia
dengan masyarakat dialami oleh Bahasyim dengan masyarakat Pulau Tatas, konfik
manusia dengan alam dialami oleh Dewi Sekardadu dengan cahaya Rembulan.
Konflik batin (internal) mencakup ide dengan ide dialami oleh Jaka Samudra
dengan Wajendra dan Nahkoda sobir, konflik seseorang dengan kata hatinya
dialami oleh Jaka Samudra dan Nyai Ageng Pinatih. Latar tempat yang digunakan
daerah Gresik, Ampeldenta, Pulau Tatas (Banjarmasin) dan Blambangan. Latar
waktu yang digambarkan sekitar abad ke-15 masa Islamisasi. Latar sosial
merepresentasikan realitas masyarakat Jawa abad ke-15 yang bergantung pada
sektor maritim.
Hasil analisis antropologi sastra menunjukkan bahwa novel Saga dari
Samudra merepresentasikan nilai-nilai budaya Jawa yang terintegrasi dengan
ajaran Islam. Nilai-nilai tersebut antara lain prinsip dalam masyarakat Jawa yakni
sepi ing pamrih, rame ing gawe, urip mung sak dermo nglakoni, rukun agawe
santosa, crah agawe bubrah, tepa selira, alon-alon waton kelakon, serta
manunggaling kawula gusti. Nilai-nilai tersebut mencerminkan pandangan hidup
masyarakat Jawa yang menekankan harmoni, kesabaran, ketulusan, dan
keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual. Selain itu, penelitian ini juga
mengidentifikasi keberadaan unsur kepercayaan lokal, seperti kaum Kapitayan.
Tradisi nyantri dalam novel diwujudkan melalui beberapa aspek utama. Pertama,
hubungan antara murid dan kanjeng guru yang didasarkan pada penghormatan,
kepatuhan, dan keteladanan. Kedua, ajaran tirakat dan laku spiritual yang berfungsi
sebagai sarana pembentukan kedewasaan batin dan pengendalian diri. Ketiga, nilai
kesederhanaan dan hidup bersahaja yang menjadi bagian dari proses pendidikan
moral dalam lingkungan pesantren
Description
Approved by Teddy
