Tradisi Nyantri dalam Novel Saga dari Samudra Karya Ratih Kumala: Kajian Antropologi Sastra
| dc.contributor.author | Eka Julia Nur Azizah | |
| dc.date.accessioned | 2026-06-24T08:13:14Z | |
| dc.date.issued | 2026-05-22 | |
| dc.description | Approved by Teddy | |
| dc.description.abstract | Indonesia merupakan negara mayoritas penduduk beragama Islam yang memiliki keberagaman budaya dan kekayaan kearifan lokal di setiap daerahnya. Hubungan antara Islam dan kebudayaan lokal tersebut terefleksi dalam novel Saga dari Samudra karya Ratih Kumala. Novel tersebut merupakan karya fiksi historis yang berlatar proses Islamisasi Jawa pada abad ke-15. Novel ini mengisahkan perjalanan hidup Jaka Samudra yang kemudian dikenal sebagai Raden Paku atau Sunan Giri, mulai dari masa kecilnya hingga menjadi tokoh penting dalam penyebaran agama Islam di tanah Jawa. Melalui perjalanan tokoh Sunan Giri, novel menghadirkan dinamika sosial, budaya, dan spiritual masyarakat Jawa pada masa peralihan dari kepercayaan lokal menuju Islam. Tujuan penelitian dalam skripsi ini adalah menganalisis keterkaitan antarunsur struktural dalam novel Saga dari Samudra karya Ratih Kumala dan analisis antropologi sastra yang mengungkap representasi tradisi nyantri. Penelitian menggunakan metode deskriptif kualitatif, objek material berupa novel Saga dari Samudra karya Ratih Kumala, objek formal berupa keterkaitan unsur struktural serta representasi tradisi nyantri. Satuan analisis penelitian adalah kalimat, paragraf, dialog, dan narasi yang dianalisis menggunakan teori struktural dan antropologi sastra melalui tahap pembacaan, klasifikasi, interpretasi, dan penyusunan data secara sistematis. Hasil analisis struktural menunjukkan bahwa adanya keterkaitan antarunsur struktural, meliputi tema, penokohan dan perwatakan, konflik, dan latar. Tema mayor adalah perjuangan penyebaran agama Islam secara adaptif terhadap budaya lokal, yang dilakukan oleh tokoh utama, yakni Sunan Giri. Tema ini didukung oleh tema-tema tambahan seperti nilai kemanusiaan melampaui garis keturunan, pendidikan pesantren sebagai transformasi identitas, kesetiaan dalam budaya feodal Jawa, toleransi terhadap budaya lokal Jawa. Tokoh utama, Jaka Samudra (Sunan ix Giri), digambarkan sebagai individu yang mengalami perkembangan karakter melalui proses pendidikan dan pengalaman hidup. Penokohan dan perwatakan diperkuat oleh tokoh-tokoh tambahan yakni Nyai Ageng Pinatih, Sunan Ampel, Taksa dan Sancaka. Semua tokoh memiliki watak datar (flat character) kecuali tokoh Taksa. Perbedaan watak tokoh tersebut memunculkan konflik fisik (eksternal) dan konflik batin (internal). Konflik fisik (eksternal) antara manusia dengan manusia dialami oleh Jaka Samudra dengan Aryo Rekso, konflik manusia dengan masyarakat dialami oleh Bahasyim dengan masyarakat Pulau Tatas, konfik manusia dengan alam dialami oleh Dewi Sekardadu dengan cahaya Rembulan. Konflik batin (internal) mencakup ide dengan ide dialami oleh Jaka Samudra dengan Wajendra dan Nahkoda sobir, konflik seseorang dengan kata hatinya dialami oleh Jaka Samudra dan Nyai Ageng Pinatih. Latar tempat yang digunakan daerah Gresik, Ampeldenta, Pulau Tatas (Banjarmasin) dan Blambangan. Latar waktu yang digambarkan sekitar abad ke-15 masa Islamisasi. Latar sosial merepresentasikan realitas masyarakat Jawa abad ke-15 yang bergantung pada sektor maritim. Hasil analisis antropologi sastra menunjukkan bahwa novel Saga dari Samudra merepresentasikan nilai-nilai budaya Jawa yang terintegrasi dengan ajaran Islam. Nilai-nilai tersebut antara lain prinsip dalam masyarakat Jawa yakni sepi ing pamrih, rame ing gawe, urip mung sak dermo nglakoni, rukun agawe santosa, crah agawe bubrah, tepa selira, alon-alon waton kelakon, serta manunggaling kawula gusti. Nilai-nilai tersebut mencerminkan pandangan hidup masyarakat Jawa yang menekankan harmoni, kesabaran, ketulusan, dan keseimbangan antara kehidupan duniawi dan spiritual. Selain itu, penelitian ini juga mengidentifikasi keberadaan unsur kepercayaan lokal, seperti kaum Kapitayan. Tradisi nyantri dalam novel diwujudkan melalui beberapa aspek utama. Pertama, hubungan antara murid dan kanjeng guru yang didasarkan pada penghormatan, kepatuhan, dan keteladanan. Kedua, ajaran tirakat dan laku spiritual yang berfungsi sebagai sarana pembentukan kedewasaan batin dan pengendalian diri. Ketiga, nilai kesederhanaan dan hidup bersahaja yang menjadi bagian dari proses pendidikan moral dalam lingkungan pesantren | |
| dc.description.sponsorship | Dr. Heru Setya Puji Saputra, M.Hum. | |
| dc.identifier.uri | https://repository.unej.ac.id/handle/123456789/10005 | |
| dc.publisher | Fakultas Ilmu Budaya | |
| dc.subject | Antropologi Sastra | |
| dc.subject | Saga dari Samudra | |
| dc.subject | Tradisi Nyantri | |
| dc.subject | Kaum Kapitayan | |
| dc.subject | Islamisasi Jawa | |
| dc.title | Tradisi Nyantri dalam Novel Saga dari Samudra Karya Ratih Kumala: Kajian Antropologi Sastra | |
| dc.type | Thesis |
Files
Original bundle
1 - 1 of 1
Loading...
- Name:
- Eka Julia Nur Azizah_220110201022_Tradisi Nyantri dalam Novel Saga dari Samudra_AntropologiSastra.pdf
- Size:
- 2.13 MB
- Format:
- Adobe Portable Document Format
License bundle
1 - 1 of 1
Loading...
- Name:
- license.txt
- Size:
- 1.71 KB
- Format:
- Item-specific license agreed to upon submission
- Description:
