Show simple item record

dc.contributor.authorEma Sukananti
dc.date.accessioned2013-12-05T06:09:05Z
dc.date.available2013-12-05T06:09:05Z
dc.date.issued2013-12-05
dc.identifier.nimNIM062110101054
dc.identifier.urihttp://repository.unej.ac.id/handle/123456789/4839
dc.description.abstractAngka Kematian Bayi (AKB) atau disebut juga dengan Infant Mortality Rate (IMR) adalah salah satu indikator untuk mengetahui derajat kesehatan masyarakat, baik pada tingkat provinsi maupun nasional. Salah satu penyebab tingginya angka kematian neonatal tersebut adalah adanya bayi dengan Berat Badan Lahir Rendah (BBLR). Angka kejadian BBLR di wilayah kerja Puskesmas Cakru mengalami peningkatan dari tahun 2008 sebesar 7 kasus menjadi 23 kasus pada tahun 2009. Jika tidak segera dicari penyebabnya dan dilakukan penanganan yang tepat, maka bisa saja jumlah bayi BBLR di Kabupaten Jember ini khususnya di wilayah kerja Puskesmas Cakru akan terus meningkat dari tahun ke tahun. Penelitian ini menggunakan jenis penelitian yang bersifat analitik observasional dengan pendekatan case-control (retrospektif). Populasi dalam penelitian ini adalah semua bayi yang lahir hidup, urutan anak minimal ke-2 dan tercatat dalam rekam medik selama tahun 2009 di wilayah kerja Puskesmas Cakru Kecamatan Kencong Kabupaten Jember. Sampel yang digunakan berjumlah 64 orang, terdiri dari sampel kasus sebanyak 16 orang dan sampel kontrol sebanyak 48 orang. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam sampel kasus adalah teknik population sampling dan pada sampel kontrol adalah dengan teknik simple random sampling. Analisis data yang digunakan adalah dengan uji regresi logistik sederhana dengan α = 0,05. Hasil penelitian ini menunjukan sepuluh variabel secara statistik tidak pengaruh terhadap kejadian BBLR yaitu: umur (p = 0,315, OR = 0,229, Cl 95% 0,013-4,057), paritas (p = 0,156, OR = 0,289, Cl 95% 0,52-1,606), jarak kelahiran (p = 0,196, OR = 0,256, Cl 95% 0,033-2,022), jenis kelamin bayi (p = 0,109, OR = 0,323, Cl 95% 0,081-1,285), pendidikan (p = 0,673, OR= 0,617, Cl 95% 0,0655,813), pekerjaan (p = 0,934, OR= 0,945, Cl 95% 0,249-3,588), penggunaan tembakau dalam rumah tangga (p = 0,377, OR= 0,481, Cl 95% 0,094-2,446), pendapatan (p = 0,624, OR = 1,744, Cl 95% 0,188-16,156), kualitas pelayanan antenatal (p = 0,341, OR = 0,508, Cl 95% 0,126-2,05), dan akses pelayanan kesehatan (p = 0,773, OR = 1,182, Cl 95% 0,381-3,668). Sedangkan, dua variabel lainnya secara statistik menunjukkan pengaruh yang bermakna dan dianggap sebagai faktor risiko terhadap kejadian BBLR adalah riwayat penyakit ibu (p = 0,009, OR = 10,455, Cl 95% 1,786-61,184) dan status gizi ibu waktu hamil (p = 0,019, OR = 5,160, Cl 95% 1,309-20,344). Saran yang dapat diberikan adalah agar dilakukan peningkatan keterampilan petugas dalam upaya deteksi risiko ibu hamil, memberikan informasi kesehatan, dan ibu hamil diharapkan segera melakukan pelayanan antenatal seawal mungkin.en_US
dc.language.isootheren_US
dc.relation.ispartofseries062110101054;
dc.subjectPENGARUHI TERJADINYA BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR)en_US
dc.titleFAKTOR YANG MEMPENGARUHI TERJADINYA BERAT BADAN LAHIR RENDAH (BBLR) DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS CAKRU KECAMATAN KENCONG KABUPATEN JEMBERen_US
dc.typeOtheren_US


Files in this item

Thumbnail

This item appears in the following Collection(s)

Show simple item record