Pengaruh Variasi Cetak 3D Printing Menggunakan Filamen ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene) Terhadap Kekuatan Bending
Abstract
Persaingan ketat dalam industri global turut mempengaruhi pelaku indsutri
untuk melakukan efisiensi proses kerja dan akuransi suatu produk. Salah satu
bentuk efisiensi yaitu dengan pemanfaatan 3D printing atau additive manufacturing
dalam dunia manufaktur. Teknologi dalam additive manufacturing yaitu Fused
Deposition Modelling (FDM) dengan prinsip kerja mencetak filamen layer by layer.
Metode FDM merupakan suatu teknik untuk mengubah desain digital menjadi
format stl. (stereolithography), kemudian diubah lagi menjadi kode yang digunakan
dalam pencetakan 3D printing. Salah satu jenis filamen yang sering digunakan
dalam 3D printing yaitu ABS (Acrylonitrile Butadiene Styrene). Penelitian ini
bertujuan untuk mengetahui pengaruh nozzle temperature dan layer height terhadap
nilai kuat bending, serta kombinasi parameter optimal untuk mencapai nilai kuat
bending terbaik. Filamen yang digunakan pada penelitian ini yaitu ABS
(Acrylonitrile Butadiene Styrene). Parameter penelitian ini yaitu nozzle temperature
(245℃; 255℃) dan layer height (0,2 mm; 0,3 mm) dengan replikasi pengujian
sebanyak tiga kali. Penelitian ini menggunakan pengujian normalitas, homogenitas
dan two way ANOVA. Hasil penelitian menunjukkan semakin besar suhu nozzle
dan semakin tipis layer height maka akan semakin besar ihnilai kuat bendingnya.
Kemampuan menahan beban (max force) oleh spesimen pada penelitian ini berkisar
antara 20,31 – 44,34 N. Kombinasi parameter optimal terdapat pada eksperimen 3
yaitu nozzle temperature 255℃ dan layer height 0,2 mm dengan rata-rata nilai kuat
bending sebesar 33,88 MPa.
Collections
- UT-Faculty of Engineering [4162]