Kajian Kandungan Formalin dan Klorin pada Ikan Asin di Tempat Pelelangan Ikan Kecamatan Puger Kabupaten Jember
Abstract
Metode pengeringan ikan asin yang dilakukan secara tradisional
bergantung pada sinar matahari, sehingga ketika musim hujan pengeringan tidak
berjalan secara maksimal dan merusak kualitas ikan asin. Mengatasi permasalahan
tersebut tidak jarang produsen menggunakan formalin dan klorin untuk
memperpanjang masa simpan serta memperbaiki tampilan ikan asin. Formalin dan
klorin yang ditambahkan pada ikan asin dapat menimbulkan gangguan kesehatan
dalam jangka panjang seperti iritasi lambung, penyakit ginjal, dan kanker.
Berdasarkan studi pendahuluan, ikan asin yang dijual di TPI Puger diduga
memiliki kandungan formalin dan klorin. Ikan asin tersebut memiliki ciri fisik
tidak dihinggapi oleh lalat, tidak memiliki bau khas ikan asin, serta memiliki
warna lebih putih. Penelitian sebelumnya menyebutkan bahwa ikan asin yang
dijual di TPI Puger positif mengandung formalin. Pada penelitian ini juga diteliti
terkait proses produksi ikan asin, karakteristik ikan asin, dan tingkat konsumsi
pembeli.
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji kandungan formalin dan
klorin pada ikan asin yang dijual di TPI Puger. Penelitian ini adalah penelitian
deskriptif dengan tiga sampel yaitu ikan asin, pembeli, dan pedagang. Sampel
ikan asin menggunakan teknik simple random sampling dengan sistem undian.
Sampel pembeli menggunakan teknik accidental sampling dan sampel pedagang
menggunakan teknik purposive sampling. Pengambilan data dilakukan dengan
teknik wawancara dan observasi untuk mengetahui proses produksi, karakteristik
ikan asin, serta tingkat konsumsi pembeli. Uji laboratorium formalin dan klorin
dilakukan menggunakan metode uji kualitatif. Pengujian kandungan formalin
dilakukan di Laboratorium Bioteknologi Fakultas Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam Universitas Jember dan kandungan klorin di Laboratorium
Analisa Pangan Politeknik Negeri Jember. Data disajikan dalam bentuk tabel dan
gambar serta didukung dengan penjabaran secara narasi.
Berdasarkan hasil penelitian, proses produksi ikan asin di TPI Puger
menggunakan metode penggaraman basah. Proses dimulai dari penerimaan bahan
baku, penyiangan ikan, pencucian ikan, penggaraman, pengeringan, dan
penyimpanan. Mayoritas ikan asin di TPI Puger memiliki karakteristik bau amis
khas ikan asin yang menyengat di sekitar keberadaannya. Pada karakteristik
tekstur, sebagian ikan asin memiliki tekstur daging padat, kering, dan sukar lepas
dari tubuhnya. Pada karakteristik kenampakan, sebagian besar ikan asin dalam
keadaan bersih dan memiliki warna buram kecoklatan/coklat terang/kuning/putih.
Sedangkan untuk karakteristik jamur, sebagian besar ikan asin tidak memiliki
jamur pada tubuhnya. Karakteristik ikan asin yang dijual di TPI Puger sudah
sesuai dengan SNI 8273-2016 tentang Ikan Asin Kering yaitu ikan asin memiliki
kenampakan yang bersih dan cerah sesuai spesifik jenisnya, bau khas yang kuat
dan spesifik, tekstur kering dan padat, dan tidak ada jamur pada ikan asin.
Tingkat konsumsi pembeli pada frekuensi harian, ikan asin yang memiliki
tingkat konsumsi tertinggi adalah ikan asin jambal, kuniran, dan lenguru.
Sedangkan pada frekuensi mingguan adalah ikan asin teri dan frekuensi bulanan
adalah ikan asin kuniran. Ikan asin yang tidak pernah dikonsumsi oleh masyarakat
adalah ikan asin kakap. Rata-rata konsumsi ikan asin ≤ 14,4 g/hari sebanyak 20
(66,7%) dan > 14,4 g/hari sebanyak 10 (33,3%). Berdasarkan hasil uji
laboratorium menggunakan metode kualitatif, sebanyak 9 (69,2%) dari 13 (100%)
sampel ikan asin positif mengandung formalin. Sedangkan untuk klorin,
keseluruhan 13 (100%) sampel positif klorin. Terdapat jenis ikan asin kuniran dan
ikan teri yang paling banyak dikonsumsi oleh pembeli pada frekuensi harian dan
mingguan. Sehingga disimpulkan bahwa ikan asin yang dijual di TPI Puger ini
tidak layak konsumsi karena memiliki kandungan formalin dan klorin.
Pengelola TPI Puger disarankan memeriksa kandungan formalin dan
klorin pada ikan asin setiap 6 bulan sekali dan memberikan edukasi kepada
pedagang serta masyarakat. Pedagang ikan asin sebaiknya mengganti formalin
dan klorin dengan kitosan untuk menjaga keamanan produk. Masyarakat
diharapkan memeriksa bau, tekstur, kenampakan, jamur, dan keberadaan lalat
sebelum membeli ikan asin. Peneliti selanjutnya dapat menganalisa kadar klorin
pada ikan asin dengan metode uji kuantitatif.
Collections
- UT-Faculty of Public Health [2283]